Rabu , Juni 3 2020
Home / Sosok / Lewat Puisi Menjaga Hubungan Cinta yang (Pernah) Ada

Lewat Puisi Menjaga Hubungan Cinta yang (Pernah) Ada

Sesekali ia akan menyinggung sesuatu yang seakan menghambat tali silaturrahminya. Pada ajang pilkada NTB 2018 lalu, ketika tali itu seakan diputus, ia sedikit menahan sesak. Apa salah dari sebuah pilihan? Apakah politik pemutus dari sesuatu yang seharusnya terjaga?

    H.Dinullah Rayes nampak menerawang namun tidak bisa berbuat apa. Ia tidak perlu menyalahkan diri sendiri atau orang lain. Memang dia, salah satu kandidat itu telah menjadi Sang Gubernur. Namun, apakah ketika namanya tercantum pada bagian lembar kertas untuk sebuah pilihan berbeda, persaudaraan itu harus tercecer sia-sia?

   “Tidak!” batinnya bergemuruh.

    Dinullah memiliki sahabat yang tidak sedikit. Setiap dari mereka menjadi bagian dari aliran darah. Sekali saja bertatap muka, ceritanya berhamburan dalam pesan bait-bait sajak tentang siapa pun. Tak terkecuali, politisi yang sudah menjadi gubernur itu. Tak pernah lenyap senda gurau walau dalam sekejap. Ia terus hidup dan menjadi sajak.

    Dinullah bisa merangkai sajak dari siapapun yang ditemuinya, yang menyisakan waktu bagi sebuah oase hidupnya. Semua begitu mendalam. Setiap tokoh atau yang biasa, adalah untaian puisi perjalanan. Mereka yang ramah, berapi-api, meladeni atau misteri, selalu bersama penanya. Dinullah merekam dan membawa apa yang tersisa dari sedikit saja yang menyentuhnya.

     Setiap cengkerama selalu saja melahirkan sesuatu yang menggema dalam batin karena sajak selalu lahir dari realita, imajinasi membumbuinya menuju jalan sutera. Hanya itulah yang bisa ia beri seperti rangkaian dari setiap langkah yang beriringan dengan arus searah waktu.

     Usianya memang sudah menuju petang. Karena itulah Dinullah ingin menyapa dalam mata remang, menggapai yang pernah terjalin untuk terus kukuh lewat jalinan kata yang ia punya. Dinullah  ingin mengingat setiap orang dengan apa yang ia miliki. Tidak ada yang lebih baik dari kenang selain menuliskannya. Mencatat, adalah cara terbaik mengingat sesuatu.

     Tidaklah mengherankan jika Dinullah ingin terus mengukuhkan persahabatan, termasuk meneguhkan mereka dalam memori prasasti puisi. Ia sangat menghargai setiap kemampuan orang lain dan terus menjaganya. Sebut saja seorang Din Syamsuddin, yang baginya merupakan orang yang lurus.

    Alif, matanya menatap langit,

    Ke bawah memandang bumi,

    Meliput sinar cahaya,

    Terpeta bumi hijau,

    (Alif Itu)

     Barangkali sudah berulang Dinullah menuliskan tentang sosok asal Sumbawa ini. Tidak habis dia gali, tak bertemu cela dari tokoh penting Tanah Air itu. Antara dunia dan ukhrawi begitu melekat. Seorang Din Syamsuddin yang menggugah sanubari penulis sajak.

     Batinnya terus membaca,  nelangsa dari satu sosok ke sosok lain yang punya mimpi dan semangat dengan cara yang berbeda. Itulah keahlian Dinullah meramu memori penting. Keakrabannya dengan Ali BD, mantan Bupati Lombok Timur, misalnya,  membuat hatinya mengelucak. Menggambarkan sosok Ali, Dinullah seperti orang tua yang hendak membujuk anaknya yang putus asa agar menoleh orang itu.

    Jika tangan kalian teriris belati,

     hati sang Ali pun berdarah-darah

    (ANAK BUMI)

     Bagi Dinullah, Ali BD seorang penolong. Dermawan yang tidak menyiakan waktunya untuk memberi dibalik tipikalnya yang sekeras karang.

    Tidak hanya Ali, seorang Fahri Hamzah pun menancap dalam batin Dinullah. Ia katakan :

    bulan purnama itu,

    karam di danau matamu,

    cahayanya pecah,

    menyebar kemana – mana,

    siapapun bisa menatap,

     sinar gagasan itu hinggap,

    di bubungan atap

     gedung kota–kota anak benua

    (BULAN PURNAMA)

     Seorang politisi yang selalu dicerna gerak-geriknya, dari kampung Sumbawa hingga Senayan Jakarta, yang selalu membuka mata rakyat.

    Toh, tidak hanya mereka yang disebutkan satu persatu, sosok-sosok lain juga menyempurnakan kegelisahan puisi Dinullah seperti R.Joko Prayitno (alm) dan Nurdin Ranggabarani. Dalam sejumlah buku kumpulan puisi lain, ada sederet nama penting tempatnya menyampaikan pesan indah.

    Mungkin bagi para pengamat sastra Dinullah menulis sajak begitu saja, melintas, tertangkap dan menjadi. Untaian kalimat itu hinggap secara spontan tanpa reserve hingga nampak verbal. Sekelimut ia menjadikan sosok-sosok yang ditampilkannya sebagai mozaik-mozaik biografi dari seluruh kehidupan.    

     Namun, mengamati karya-karyanya tidak bisa melepas rantai  perjalanan hidupnya yang selalu gelisah menemukenali siapapun yang didengarnya. Hampir seluruh daerah di negeri ini dijelajahi dengan modal puisi.  Menghadiri acara penting seperti wisuda, peresmian kantor bank, apalagi forum-forum kesenian. Bahkan ketika sempat menduda, ia pun dikenalkan sebagai sastrawan hingga merebut hati wanita asal Mojokerto sebagai istrinya.

***

    Dinullah Rayes lahir tahun 1937 di desa Kalabeso Kec. Alas, Kabupaten Sumbawa, NTB. Ia pernah bertugas sebagai guru SD beberapa tahun 1956—1965. Kemudian beralih tugas ke Kabid Kebudayaan Kabupaten Sumbawa di Sambawa Besar untuk selanjutnya dipercayakan sebagai Kasi Kebudayaan Kandep Dikbud Kabupaten Sumbawa.

     Selain menulis puisi juga menulis cerpen, esei, naskah drama, artikel kesenian/kebudayaan. Karya-karyanya tersebar di berbagai media massa seperti Abadi, Pelita, Suara Karya, Panji Masyarakat, Salemba, Tifa Sastra, Seloka, Sarinah, Suara Muhamadiyah, Harmonis, Amanah, Sinar Harapan, Forum, Tribun, Swadesi, Republika, Bali Post, Nusa Tenggara, Suara Nusa, Dewan Sastra Malasyia.

     Karya-karyanya tekumpul dalam buku Anak Kecil Bunga Rumputan dan Capung Ramping (Mega Putih Sumbawa, 1975), Hari Ulang Tahun (Sanggar Mayang, Mataram 1980), Kristal-Kristal (bersama Diah Hadaning, Pustaka dan Penerbit Swadesi, Jakarta, 1982), Pendopo Taman Siswa (Sebuah Episode, bersama 28 penyair Indonesia: Sema FKSS Sarjanawiyata Taman Siswa, Yogyakarta, 1982), Puisi ASEAN (Bersama 39 penyair, Yayasan Sanggar Seniman Muda Denpasar 1983), Angin Senja (bersama 3 penyair NTB, PW HSBI, NTB, Mataram, 1983), Nyanyian Kecil (Pusat Dokumentasi Sastra Korrie Layuan Rampan, Jakarta, 1985), Peta Lintas Batas (bersama Sunaryono Basuki KS dan Hariman, Sanggar Bukit Manis, Bali, 1985), Pendakian (Forum Pengkajian dan Pengembangan Masyarakat Sumbawa, Yogyakarta, 1986), Sosok (bersama 17 penyair Nusa Tenggara Barat, HP3N Mataram, 1986), Seutas Tali Emas (bersama Siti Zainun Ismail, Agus Nurdin, Sulaiman Saleh (BKKNI Propinsi NTB, 1986), Spektrum (bersama 32 penyair Nusa Tenggara, Yayasan Mitra Sastra Mataram, bekerja sama dengan Yayasan Lembaga Kemanusiaan Masyarakat Pedesan (YLKMP) NTB, 1988), Istiglal (bersama 2 penyair NTP, Depdikbud Kabupaten Lombok Barat, 1990), Dari Negeri Poci 2 (Pustaka Sastra, 1994).

    Banyak karyanya yang tidak disebut dalam uraian di atas karena hampir setiap tahun melahirkan karya dalam bentuk buku.

***

     Sebagaimana menjaga puisi agar tetap lestari dalam dirinya, seperti itulah Dinullah Rayes memelihara hubungan silaturrahmi dengan setiap orang. Tanpa menghitung biaya yang dikeluarkan, melayari waktu mengunjungi mereka yang sanggup menggelisahkan adalah petualangan menemukan oksigen hidupnya. Mereka adalah terapi sekaligus cinta bagi karya sastranya.

      Bagaimana ketika tidak menemukan sosok itu? Bagaimana ketika mereka tidak terjangkau petualangannya? Dinullah cukup menggamit sedikit saja dari yang nampak. Bahwa ia pernah ada dalam ruang tertentu, menjadi bagian yang menggelitik jiwanya dan ia menyempurnakannya.

    Malam-malam kelam

   Bulan bintang bercahaya-cahaya

    Siang-siang girang

    Matahari tembaga bersinar-sinar

    Atas ranah Brunei Darussalam mawar mekar

    Langit, bumi ciptaan Mahaakbar

    (NEGERI SULTAN)

   (His Majesty Sultan Haji Hassanal Bolkiyah

   Mu’izzaddin Waddaulah)

     Dinullah mungkin hanya menggambarkan Burinei Darussalam, memetik sedikit makna tentang kesejahteraan, kenyamanan tanpa sedikit pun ingin menghalau apa yang dirasakannya. Sebagaimana ketika menengok Malaysia, ia pun bercumbu dengan nuansa baru yang merayu, terbujuk dan berlabuh.  Dan, itu sekaligus kesan yang menyatu untuk Sultan Hassanal Bolkiyah atau Dato’ Seri DR. Mahathir Mohamad sebagai tanda silaturrahmi.

     Kuala lumpur

    Siapa mencari jati dirimu

    Yang terpendam dalam pundi purba

     Anak cucu negeri semenanjung Malaysia

    Agaknya kaulah belantara nusantara

    Yang bersyair dalam legenda

    Yang berpuisi

    Dalam nurani

    (MELUKIS MALAYSIA)

    : Kehadapan YAB Dato’ Seri DR. Mahathir Mohamad

    Perdana Menteri Malaysia

***

    Buku kumpulan puisi “MATA SUKMA – MATA CINTA” ini adalah yang kesekian diusianya yang mencapai 82 tahun ditahun 2019; sebuah usia yang dianalogikan seperti seorang tua yang selalu duduk termangu di atas kursi yang juga sama umurnya. Usia yang dianggap tidak elok lagi untuk melakukan langkah-langkah kreatif.

      Namun, berbeda apa yang dilakukan penyair ini. Mata penanya terus terasah walau banyak sastrawan segenerasinya sudah hilang lenyap. Dan,  ia bukanlah orang terampil dengan peralatan yang kini bukan ukuran modern lagi, bahkan tidak menguasai teknologi komputer untuk menuliskan sajak,  toh produktifitasnya melebihi kemampuan mereka yang tidak perlu bersusah-susah dan tinggal menekan tombol-tombol keyboard.

     Catatan-catatan kecilnya dihimpun lewat tulisan tangan yang kecil, penuh coretan. Pada selembar tisu, atau kotak bekas penganan. Ia menyimpannya di saku, membawanya pulang, menuliskannya ulang. Kadang menulis sebait kesan pada sebuah arena, Dinullah beruntai dalam sajak. Atau mengirimkan pesan lewat sms, tidak pernah jauh dari kebiasaannya dengan bumbu penyedap batinnya.

    Konsistensinya sebagai sastrawan sejak tahun 1950-an tidak hanya membangun jejaring yang kuat sesama sastrawan se Tanah Air, melainkan juga telah membawanya terbang ke Tanah Suci ketika ia berhaji atas biaya Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

      Karya-karya Dinullah Rayes dalam buku ini bagian dari melodi kepenyairannya sekaligus untaian tali silaturrahmi dan cintanya. Ia menyapa dalam sajak yang humanis, sesuatu yang mungkin kecil bagi orang lain. Bagi Dinullah, ia tidak sekadar kata melainkan penyambung dari hubungan yang tidak boleh terputus.

      Dalam buku ini juga ia menyapa Dr.Zulkieflimansyah, yang kini menjadi Gubernur NTB. Tokoh yang pernah ada dalam dirinya ini tidak boleh hilang hanya karena pilihan yang sudah usang. Walau kadang politik meniadakan,  puisi mencoba mempertahankan hubungan baik yang pernah ada. 

    Bagi masyarakat Sumbawa, Dinullah adalah sosok penting yang mewakili mereka dalam dunia kesusastraan, tradisi dan budaya. Semoga Dinullah bukan generasi terakhir yang mewakili sikap kultural orang Sumbawa.  Karena, lewat puisi kita bisa menjaga hubungan cinta yang (pernah) ada. ian

About literasi

Check Also

MANCAL PASAR

Catatan Si Yoi South of Asia (4) “Apa harapan Mas, dengan keliling bersepeda ini? Sekedar …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: