Minggu , Oktober 25 2020
Home / Budaya / Lebaran Topat, Sunyi Ditengah Corona

Lebaran Topat, Sunyi Ditengah Corona

Pegamanan Lebaran Ketupat di Kota Mataram

MATARAM,Literasi-Masyarakat muslim suku bangsa Sasak mempunyai tradisi yang dikenal sebagai Lebaran Topat atau ada juga yang menyebutnya Lebaran Kiyai. Hal ini berlangsung sejak masuknya penyebaran Islam di Pulau Lombok.

 Lebaran Topat ini dilaksanakan setelah 6 hari berpuasa di bulan Syawal atau tepatnya jatuh pada tanggal 8 Syawal. Dikatakan sebagai Lebaran Kiyai, karena pada masa dahulu dikenal sebagai tokoh pelaksanaan Puasa Sunat Syawal ini adalah para kiyai (tokoh agama) yang ditutup dengan Lebaran Topat (silaturrahmi antar kiyai dan masyarakat) yang diadakan di masjid.  

Dosen Fakultas Syari’ah IAIH (Institut Agama Islam Hamzanwadi) Pancor Selong, Matlaul Irfan, M.Ag., mengatakan Lebaran Topat atau Lebaran Adat adalah budaya lokal masyarakat muslim Lombok yang telah mentradisi secara turun temurun sejak masuk dan berkembangnya Islam di Lombok.

Banyak hal positif yang tidak bertentangan dengan syar’i (yang telah menjadi ketetapan) dan dapat dilakukan pada saat Lebaran Topat seperti halal bihalal,yang waktunya bahkan selama bulan Syawal sebagai salah satu tradisi yang hanya ada di Indonesia namun mempunyai nilai silaturrahmi yang kuat.

Lebaran Topat/Lebaran Adat  hanyalah budaya local yang tidak masuk sebagai hari besar dalam Islam. Lebaran Topat ini sesungguhnya  sebagai tradisi acara resepsi setelah 6 hari Puasa sunat Syawal. Biasanya, Lebaran ini disambut meriah dengan kunjungan ke sejumlah obyek wisata. Namun, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kini Lebaran Topat tidak meriah lagi

Setidaknya, pada Lebaran Topat, Dandim 1606/Lobar bersama Kapolresta Mataram, Pasi Ops Kodim Lobar, Kabag Ops Polresta Mataram, Dan unit Intel Kodim Lobar, Danramil Ampenan, Kapolsek Ampenan, Danramil Narmada dan Kapolsek Narmada, mendatangi beberapa lokasi wisata yang ada di wilayah Kota Mataram, menghadapi Lebaran Topat untuk memastikan situasi di beberapa tempat wisata yang telah ditutup.

Dandim 1606/Lobar Kolonel Czi Efrijon Kroll, S.IP. M.M, mengatakan, bahwa kegiatan tersebut dilakukan mengingat pandemi Covid-19 belum usai dan bahkan beberapa hari terakhir mengalami peningkatan kasus positif. “Maka kami harus memastikan wilayah Kota Mataram aman dan kondusif menjelang Lebaran Topat,” jelasnya.

Akibatnya, Lebaran Topat lebih banyak dirayakan di rumah masing-masing. Meskipun menu tidak berbeda dari tahun sebelumnya, suasana Covid 19 membuat masyarakat harus menahan diri merayakan Lebaran dengan mengunjungi obyek wisata. ian

 

 

About literasi

Check Also

Festival Bau Nyale, Lahirkan Spirit Baru untuk “NTB Ramah dan Berkah”

LOTENG, LITERASI-Tradisi Bau Nyale, yang menjadi warisan budaya Sasak secara turun temurun, kini melahirkan spirit …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: