Kamis , Juli 18 2024

Hari Dunia Menentang Pekerja Anak Serukan Komitmen Akhiri Pekerja Anak

Peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak (HDMPA) tahun ini menyerukan “Komitmen Bersama untuk Mengakhiri Pekerja Anak”.
Peringatan di tahun ini bertepatan dengan 25 tahun pengesahan Konvensi ILO No. 182 tentang bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak (1999) dan menjadi Konvensi ILO pertama yang diratifikasi secara universal.
“Oleh karena itu, tepatlah jika tema “Saatnya Mewujudkan Komitmen Kita: Akhiri Pekerja Anak!” digaungkan. Peringatan HDMPA tahun ini juga menjadi momen mengingatkan semua pihak untuk berperan dan mengimplementasikan dua konvensi (KILO 138 dan 182) terkait pekerja anak, ” kata Ketua Yayasan Tunas Alam Indonesia (SANTAI). Atik Suharti.
Acara berlangsung di Ekowisata Bale Mangrove Dusun Poton Bako, Desa Jerowaru,Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur. Turut terlibat peserta 100 orang anak dan kelompok muda dari 13 desa dampingan Yayasan Tunas Alam Indonesia (SANTAI) NTB di Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Tengah, Forum Anak Kabupaten, dan Forum Anak Provinsi NTB.
Menurut Data Sakernas yang dikeluarkan oleh BPS NTB pada Agustus 2021, terdapat sekitar 15,47 persen (112,28 ribu orang) anak-anak usia 10-17 tahun yang bekerja.
Hasil Sakernas Agustus 2021 juga memperlihatkan bahwa terdapat 2.000 anak yang mencari pekerjaan secara aktif atau menganggur, sehingga jumlah angkatan kerja usia 10-17 tahun pada Agustus 2021 adalah sekitar 114,31 ribu orang.
“Jika melihat data Sakernas BPS 2021 masih besar tantangan yang dihadapi pemerintah NTB untuk memenuhi target nasional tersebut. Sinergi para pihak baik pemerintah, sector swasta, LSM, media cetak maupun media digital menjadi kunci sukses upaya menuju NTB bebas pekerja anak, ” ujar Atik.
Upaya yang telah dilakukan oleh Yayasan Tunas Alam Indonesia (SANTAI) NTB atas dukungan Jaringan Advokasi Pekerja Anak (JARAK) dan ECLT Foudation (sejak tahun 2019 sampai dengan tahun 2022) yakni pengembangan program KESEMPATAN (Kemitraan Strategis Penanggungan Pekerja Anak di Sektor Pertanian). Pendekatannya mewujudkan “Desa Layak Anak”, dengan mendorong lahirnya kebijakan ditingkat desa berupa Peraturan Desa (Perdes) tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak, pembentukan kelembagaan ditingkat desa (Forum Anak Desa, Gugus Tugas Desa Layak Anak), pengorganisasian dan penguatan kelompok anak dan kelompok muda, mengembangan Pusat Kegiatan Masyarakat (PKM) sebagai wadah untuk penguatan kapasitas anak dan meningkatkan pemahaman masyarakat, petani dan buruh tani tentang isu perlindungan anak.
Berdasarkan pembelajaran baik dari program KESEMPATAN, kata dia, saat ini PAACLA Indonesia, JARAK dan SANTAI NTB mengembangkan program ACCLAIM (Accelerating Collective Child Labour Actions for Impact) atau Proyek Percepatan Aksi Kolektif Untuk Memperkuat Dampak Penanggulangan Pekerja Anak.
“Adapun tujuannya adalah mengembangkan model pemantauan dan remediasi pekerja anak di sektor pertanian.dengan mendorong kerjasama multipihak termasuk pelibatan privat sector, ” katanya.
Tahun ini, lanjut Atik, HDMPA menjadi momen yang bisa dirayakan bersama untuk memperkuat peran-peran yang sudah dilakukan dan membagikan praktik baik penanggulangan pekerja anak agar lebih massif dan mempercepat capaian Indonesia Bebas Pekerja Anak.
Kegiatan ini terselenggara atas kerjasama Yayasan Tunas Alam Indonesia (SANTAI) bersama PAACLA Indonesia, JARAK, PT. AOI, dan ECLT. Hm

Check Also

Tertib Berlalu Lintas, Polres Bima Kota Gelar Apel Pasukan Operasi Patuh Rinjani 2024

Polres Bima Kota menggelar apel pasukan Operasi Patuh Rinjani 2024 di halaman Mapolres Bima Kota. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *