Selasa , April 16 2024
Sejumlah wisatawan terlihat membanjiri KEK Mandalika yang telah diubah dan lebih dipercantik arealnya oleh ITDC

Rantai Nilai Pariwisata: Berkah Tersembunyi di KEK Mandalika

P

Oleh: Mohamad Joemail, SST. Par., M. Par.1) dan Drs. H. Mahsun, MM2)

PENDAHULUAN

Sejak pembangunan Bandara Internasional Lombok mulai dioperasikan, konektifitas inter dan antardestinasi terbangun dengan baik. Penyediaan prasarana dan sarana pendukung, penataan kawasan secara bertahap dilakukan termasuk dengan merelokasi PKL, rumah kumuh, dan bangunan liar di sepanjang roi pantai. Hasilnya,  kawasan ini mulai tertata dengan rapi.

Kini KEK Pariwisata Mandalika Kuta-Lombok Tengah menunjukkan citranya sebagai destinasi berkelas dunia dan banyak dikunjungi wisatawan. Peluang usaha di sektor jasa dan usaha terkait lainnya dengan pariwisata pun bermunculan. Faktanya, lapangan pekerjaan di sektor transportasi, akomodasi, makanan dan minuman juga tercipta dengan sendirinya. Namun, kondisi tersebut tidak secara otomatis membuat kehidupan ekonomi, sosial, dan budaya masyakat sekitar menjadi lebih baik dan bahkan kemiskinan masih menjadi “potret buram” pengembangan pariwisata di daerah ini.

Sementara itu, kondusifitas destinasi masih harus terus ditingkatkan. Fenomena sosial seperti, pengangguran, kriminalitas, kemiskinan, dan SDM juga masih menjadi persoalan yang dapat menyebabkan melemahnya daya saing destinasi. Dampak positif pengembangan pariwisata yang seharusnya dapat menciptakan nilai tambah (sebagai berkah) bagi masyarakat lokal juga harus diupayakan agar problematika sosial segera mendapatkan solusinya.

Terciptanya model ideal pengembangan KEK Pariwisata Mandalika Kuta-Lombok Tengah berbasis RNP menjadi luarannya sedangkan target realistisnya adalah mengimplementasi model sehingga masyarakat lokal dan pihak terkait lainnya memiliki acuan yang jelas, akses yang tepat untuk dapat terlibat dalam pengembangan pariwisata.

Adapun cara kerja model ini diilustrasikan berikut. Pertama, menyusun indikator kinerja dengan melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan dengan pariwisata. Kedua, melaksanakan asesmen untuk mengetahui validitas dan realibilitas model. Ketiga, melaksanakan uji publik untuk menjaring aspirasi, masukan, kritik, dan akuntabilitas. Keempat, implementasi model, monitoring dan evaluasi untuk mengetahui penerapan, memantau perkembangan, mendapatkan hasil analisis SWOT serta umpan balik. Kelima, membentuk kelompok-kelompok kecil berdasarkan peta RNP sebagai objek studi kasus implementasi model.

Melalui pengembangan pariwisata inilah sesungguhnya Rantai Nilai Pariwisata (RNP) dapat ditemukan. Namun demikian, indikasi terputusnya RNP di KEK Pariwisata Mandalika Kuta-Lombok Tengah juga menjadi fakta yang tidak terbantahkan. Kajian ini mencoba untuk menyeleksi, menganalisis, dan mengidentifikasi RNP. Berdasarkan fenomena tersebut maka langkah-langkah strategis, metodologis, dan sistematis harus segera dilakukan. Jika kondisi ini terus mendapat pembiaran maka RNP sulit ditemukan dan bahkan menjadi akumulasi persoalan. Belum teridentifikasi dan dipetakannya RNP dapat berdampak serius terhadap pengembangan pariwisata dan kelangsungan hidup masyarakat sekitar. Selain itu, kesempatan dan akses untuk terlibat dalam pariwisata juga semakin tertutup dan yang paling membahayakan adalah matinya kreatifitas. Lebih lanjut, peluang usaha, perbaikan ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan daya saing destinasi pasti sulit diciptakan. Hal inilah yang menjadi substansi dan urgensi dari kajian ini. Aspek kritis lainnya adalah menganalisis SWOT RNP. Jika ini tidak dilakukan, maka kontribusi RNP sulit diukur.      

Tinjauan Pustaka

Penelitian yang mengambil locus di KEK Pariwisata Mandalika Kuta- Lombok Tengah memang para ahli telah banyak memilihnya sebagai objek kajian namun yang khusus tentang RNP masih sangat terbatas dan bahkan belum ada yang menelitinya. Walaupun demikian, beberapa hasil penelitian yang relevan dengan kajian ini tetap dirujuk misalnya, pertama; studi kasus terhadap kehidupan masyarakat dan RNP di Siem Reap Kamboja oleh Mao, et al., (2013:121—125) yang mengidentifikasi 6 (enam) RNP seperti: (1) transportasi; (2) akomodasi; (3) makanan dan minuman; (4) cinderamata dan kerajinan tangan; (5) aset wisata; dan (6) perjalanan wisata.

Di sektor transportasi, masyarakat lokal terlibat langsung dengan masuk menjadi anggota asosiasi taksi (sepeda motor dan mobil) tidak termasuk Tuk Tuk untuk menyediakan jasa angkutan. Sementara di sektor akomodasi, masyarakat lokal mendapatkan nilai ekonomi pariwisata dengan menawarkan jasa penginapan seperti, apartment, guest house, dan hotel. Untuk penyediaan jasa makanan dan minuman, dengan membuka restaurant dan PKL menjadi pilihannya.

Selain itu, masyarakat lokal juga terlibat langsung dengan aktifitas pariwisata melalui usaha cinderamata dan kerajinan tangan sedangkan untuk aset wisata alam dan budaya, pengelolaannya dilakukan APSARA organisasi bentukan dari Kementerian Seni dan Budaya pemerintah setempat. Modelnya, perusahaan swasta mendapatkan ijin pemerintah Kamboja untuk mengumpulkan donasi dari pengunjung. Pemerintah membuat kebijakan dengan memberikan prioritas kepada masyarakat sekitar sebagai penjaga keamanan, petugas kebersihan, dan petugas patroli.

Lebih lanjut, RNP terakhir adalah usaha di bidang perjalanan wisata. Sebagai bentuk tanggapan terhadap pariwisata di Kamboja, jumlah operator yang bergerak pada aktifitas wisata berkembang signifikan. Menurut data dari Departemen Pariwisata Siem Riep bahwa terjadi peningkatan jumlah Travel Agent dan Tour Operator pada tahun 1994 dari 12 menjadi 149 pada tahun 2012. Pada bagian akhir, Mao, et al., (2013) menyimpulkan bahwa ternyata pariwisata memberikan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat Siem Reap dengan kompleksitas hubungan antara penduduk miskin dan pelaku wisata pada beberapa subsektor pariwisata. Walaupun jumlah wisatawan yang berkunjung meningkat signifikan, namun dampak positif terhadap kehidupan masyarakat lokal belum terlihat. Penduduk miskin hanya menerima porsi kecil dari pendapatan yang dihasilkan pariwisata. Satu-satunya cara memperbaiki kehidupan masyarakat setempat adalah dengan mengintegrasikannya ke dalam RNP. Kajian ini memiliki relevansinya dengan penelitian yang dilakukan bahwa 6 (enam) RNP yang ditemukan pada kasus tersebut setidaknya dapat dijadikan sebagai rujukan awal untuk mengidentifikasi, menyesuaikan, dan mempertimbangkannya berdasarkan karakteristik destinasi dan kondisi masyarakat yang ada di KEK Pariwisata Mandalika Kuta- Lombok Tengah. 

Kedua; Vongsaroj (2013:311—324) yang memfokuskan kajiannya pada manajemen rantai penawaran pariwisata berkelanjutan (Sustainable Tourism Supply Chain Management) disingkat STSM bahwa tour operator di dua propinsi (Chiangmai dan Phuket) dengan mewancara stakeholders kunci ternyata memiliki karakteristik bisnis yang multifungsi. Selain menyediakan jasa pemesanan hotel dan penerbangan yang fungsinya sama dengan travel agent, tour operator juga mengembangkan dan menjual paket perjalanan kepada wisatawan baik rombongan maupun individu. Diketahui bahwa 91% kepemilikannya dikuasai penduduk asli Thailand dengan memperkerjakan 10 orang staff dan modal awal tercatat kurang dari 5 juta THB. Umumnya, mereka mendapatkan keuntungan lebih dari 10% dari hasil penjualan. Hasil kajian ini menjadi petunjuk awal bahwa RNP khususnya dari aspek penawaran menjadi RNP yang sangat penting dalam konteksnya dengan perbaikan kondisi kehidupan masyarakat lokal. Dengan konteks yang berbeda, kajian ini nantinya akan mencoba mengidentifikasi RNP baik dari aspek penawaran maupun permintaan di KEK Pariwisata Mandalika Kuta- Lombok Tengah.   

Ketiga; kajian empiriknya Hampton dan Jayacheya (2014:1—8) tentang rantai penawaran pariwisata lokal sebuah petunjuk praktis bahwa 3 (tiga) areal kritis manajemen rantai penawaran terletak pada: (1) aliran informasi; (2) aliran produk; dan (3) hubungan fungsional keduanya. Lebih lanjut, faktor yang dipertimbangkan untuk mendapatkan efisiensi dan efektifitas aliran informasi di satu sisi dan aliran produk atau material pada sisi yang lainnya adalah hubungan fungsional. Tanpa ini, aliran keduanya terganggu dan rantai penawaran juga menjadi disfungsional. Prinsipnya manajemen rantai penawaran baik pada industri manufaktur maupun jasa esensinya sama. Hal ini pula yang berpengaruh terhadap penerapan dan efektifitas dalam mencapai luaran yang diinginkan. Kontribusinya dengan kajian ini, sesungguhnya dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi RNP di KEK Pariwisata Mandalika Kuta-Lombok Tengah khususnya pada aspek fungsional terhadap aliran informasi dan produk yang ditawarkan di destinasi.

Keempat; Citrawati (2014:17—20) mengevaluasi perkembangan kawasan pariwisata Candidasa di Kabupaten Karangasem dari aspek ekonomi, fisik, dan budaya ternyata berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat setempat dari sektor pariwisata. Dalam hal ini, kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan dilihat sebagai RNP di bidang ekonomi sedangkan perbaikan kondisi fasilitas pariwisata dan penunjang merupakan RNP fisiknya. Kehidupan adat istiadat, keberadaan sekeha di kawasan pariwisata, dan organisasi subak menjadi indikator RNP budayanya. Ketiga aspek ini ternyata memiliki dampak positif terhadap kehidupan masyarakat. Dengan demikian, hasil kajian tersebut menjadi alat pembanding RNP yang akan diidentifikasi di KEK Pariwisata Mandalika Kuta- Lombok Tengah; dan kelima; Putra (2014:28) mengkaji tentang dampak pariwisata terhadap lingkungan, menemukan 3 (tiga) dampak penting sebagai RNP yaitu: (1) sosial ekonomi; (2) sosial budaya; dan (3) lingkungan. Hasil penelitian ini juga dilihat sebagai RNP yang sangat vital kontribusinya bagi kehidupan masyarakat di KEK Pariwisata Mandalika Kuta- Lombok Tengah.  

Berdasarkan studi pendahuluan yang telah dilakukan, kondisi terkini di KEK Pariwisata Mandalika Kuta-Lombok Tengah terkait dengan RNP, beberapa aspek yang dapat diidentifikasi dalam konteks ini bahwa masyarakat lokal sangat menggantungkan hidupanya dari sektor pariwisata. Faktanya, aktifitas masyarakat lokal pada sektor jasa memang sudah terlihat namun masih bersifat sporadis dan belum terorganisir dengan baik, dan RNP pada sektor jasa sesungguhnya sudah berjalan, namun belum adanya klusterisasi, program intervensi, profesionalisasi, manajemen, dan tatakelola menyebabkan RNP menjadi disfungsional dan bahkan terindikasi terputus.

Hasil dan Pembahasan

  1. Seleksi RNP di KEK Pariwisata Mandalika Kuta- Lombok Tengah

Berdasarkan pengumpulan data dan ulasan terhadap hasil kajian-kajian terdahulu yang relevan tentang RNP di KEK Pariwisata Mandalika Kuta-Lombok Tengah maka seleksi RNP menyasar dua aspek yakni, penawaran dan permintaan pariwisata. Aspek penawaran meliputi destinasi (aset wisata, aksesibilitas, amenitas, atraksi, dan pendukung) dan aspek permintaan menyasar semua harapan, keinginan, dan kebutuhan dalam bentuk pelayanan mulai dari sebelum kedatangan, selama di destinansi hingga menjelang keberangkatan. Untuk aspek pertama, mencakup hal-hal seperti, aset; harus diidentifikasi asset-aset yang menjadi daya tarik utama (key assets) destinasi misalnya atraksi yang memang sudah ada (existing potency) yang bersumber dari alam seperti ombak, pantai, gunung, pohon kelapa, rumah tradisional, dan lain-lain. Dalam hal ini, ombak dan pantai sebagai daya tarik utama wisatawan ke KEK Pariwisata Mandalika Kuta- Lombok Tengah. Atraksi; daya tari wisata harus diupayakan diverisifikasinya untuk menyediakan alternatif berwisata. Hal ini penting untuk mendapatkan keunggulan komparatif destinasi misalnya wisata selancar (surfing). Keunikan; pantai dengan buliran pasir putihnya, keindahan alam ternyata menjadi keunikan bagi wisatawan yang berkunjung.

Dari aspek penawaran destinansi, RNP yang terseleksi pertama adalah aset wisata. Dalam konteks ini, ombak, pantai, dan pemandangan yang alami menjadi objek untuk aktifitas wisata selancar (surfing), berjemur (sunbathing), dan photografi. Dengan demikian, surfing membawa 4 (empat) RNP: (1) jasa sebagai surfing guide; (2) penyewa papan selancar (surfboard); (3) jasa reparasi papan selancar (ding repair); (4) surf shop (penjualan alat dan pakaian surfing). Sunbathing membawa setidaknya 6 (enam) RNP seperti: (1) penyewaan kursi berjemur (lazy chair); (2) penyewaan payung pantai (beach umbrella); (3) pembukaan toko atau lapak lotion, cream, handuk, sabun, dll); (4) jasa pemijatan tradisional (traditional massage); (5) spa; (6) salon. Photografi membawa 3 (tiga) RNP seperti: (1) sebagai fotographer; (2) penjual lukisan; (3) toko cinderamata (souvenier shop).  Dengan demikian, khusus untuk aspek aset wisata maka RNP yang terseleksi sebanyak 13 (tiga belas) rantai nilai yang dapat dimanfaatkan masyarakat lokal sebagai peluang usaha. Aspek kedua dan ketiga yakni atraksi dan keunikan yang belum terlihat sebagai RNP misalnya, seni pagelaran atau pertunjukan (seni drama, sendratari, wayang, presean, gandrung, joged) dan seni yang bersumber dari adat istiadat, budaya masyarakat lokal. Merujuk “something to see” yang muncul sebagai RNP adalah pengelolaannya. Keberadaan kelompok-kelompok kesenian menjadi RNP yang prospektif. Hal ini belum termasuk RNP pelayanan terkait (related service chains). Jika digabungkan RNP penawaran (destinasi) maka telah terseleksi 14 (empat belas) matarantai sebagai RNP di KEK Pariwisata Mandalika Kuta- Lombok Tengah.

            Sementara itu, aksesibilitas yang muncul sebagai RNP-nya adalah: (1) jasa penyewaan mobil; (2) penyewaan sepeda motor; (3) angkutan orang (taksi, ojek); (4) jasa reparasi kendaraan bermotor; (5) penjualan BBM; (6) penjualan spare part kendaraan; (7) koperasi angkutan wisata; (8) travel agent/biro perjalanan wisata. Untuk amenitas (akomodasi, makanan, dan minuman), RNP yang muncul adalah: (1) hotel; (2) homestay; (3) guest house; (4) pondok remaja (youth hostel); (5) restaurant; (6) bar; (7) café; (8) rumah makan (warung); (9) laundry; (10) penjualan sembako. RNP terakhir adalah pelengkap atau pendukung yang muncul adalah: (1) tempat penukaran uang; (2) toko obat-obatan/apotek; (3) klinik kesehatan; (4) jasa pengamanan (security); (5) counter pulsa; (6) jasa keimigrasian (perpanjangan visa); (7) penjualan tiket pesawat; (8) juru parkir; (9) nelayan; (10) pedagang asongan; (11) jasa MCK umum; (12) penjual kelapa muda. Dengan demikian, aspek penawaran dari destinasi telah teridentifikasi 44 (empat puluh empat) RNP di KEK Pariwisata Mandalika Kuta- Lombok Tengah.

2. Analisis RNP di KEK Pariwisata Mandalika Kuta- Lombok Tengah

Berdasarkan 44 (empat puluh empat) RNP yang terseleksi di KEK Pariwisata Mandalika Kuta-Lombok Tengah maka dapat dianalisis seperti tabel berikut.

Tabel 1. Kondisi RNP di KEK Mandalika Kuta-Lombok Tengah.

Sumber: Data diolah dari hasil penelitian, 2017.

RNP 1—4 existed mengingat motivasi utama wisatawan asing ke KEK Pariwisata Mandalika Kuta-Lombok Tengah adalah bermain selancar sehingga keberadaan surfing guide, penyewaan papan selancar (surfboard), jasa reparasi papan selancar (ding repair), dan surf shop (penjualan alat dan pakaian surfing) memang yang paling banyak ditemukan mulai dari pintu masuk Pantai Kuta hingga Pantai Gerupuk di ujung timur dan Pantai Selong Belanak di ujung barat kawasan pantai Mandalika. RNP 5—8 menjadi tantangan bagi masyarakat lokal dan stakeholder pariwisata lainnya untuk meramaikan dan mencari strategi agar wisatawan betah berjemur di pantai. Jika ini dapat diupayakan maka penyewaan lazy chair,  beach umbrella, penjualan lotion, cream, handuk, sabun, dll), dan jasa traditional massage pasti akan laku dan laris. Sebaliknya, jika dibiarkan maka pilihan wisatawan ke RNP 9—10 (spa dan salon) semakin tinggi. RNP 11—12 yakni sebagai fotographer dan penjual lukisan memang tidak ditemukan. Canggihnya aplikasi perangkat handphone menjadi penyebabnya. Namun demikian, kedua RNP ini di masa mendatang diprediksi akan menjadi RNP real apabila pasar seni (art market) dapat difungsikan sebagaimana mestinya. RNP 13, toko cinderamata (souvenier shop) banyak ditemukan namun barang-barang yang dijual masih bersifat murah dan mudah dibawa (cheap and handy) seperti, gelang, gantungan kunci, cincin, dan kalung. RNP 14, sesungguhnya yang sangat prospektif dimana industri kreatif di era sekarang sedang digandrungi. Jadi, usaha kreatif seperti, pentas seni masih belum exist sebagai RNP real sedangkan RNP 15—20 keberadaannya sangat stabil dimana penyewaan kendaraan roda dua dan empat sangat tinggi. Dengan demikian, jasa rental car, rental bike, taksi, ojek, jasa reparasi kendaraan bermotor, penjualan BBM dan spare part motor menjadi RNP real dan tidak terpengaruh oleh faktor musim (season).

RNP 21, koperasi angkutan wisata juga menjadi tantangan sekaligus peluang. Lain halnya dengan RNP 22—44 yang sudah berjalan dengan baik, selain karakternya sebagai RNP utama dalam rantai penawaran dan juga sebagai kebutuhan dasar, keberadaan travel agent/biro perjalanan wisata, hotel, homestay, guest house, youth hostel, restaurant, bar,  café, warung, laundry, penjualan sembako, money changer, toko obat-obatan/apotek, klinik kesehatan, security, counter pulsa, biro jasa keimigrasian (perpanjangan visa), penjualan tiket pesawat, juru parkir, nelayan, pedagang asongan, jasa MCK umum; dan penjual kelapa muda memang keberadaannya eksis sampai sekarang ini dan bahkan jumlahnya semakin bertambah.

3. Identifikasi RNP di KEK Pariwisata Mandalika Kuta-Lombok Tengah

Berdasarkan seleksi dan analisis RNP di atas maka dapat diidentifikasi RNP KEK Pariwisata Mandalika Kuta-Lombok Tengah seperti, yaitu, (1) sebagai surfing guide; (2) penyewa papan selancar (surfboard); (3) jasa reparasi papan selancar (ding repair); (4) surf shop; (5) penyewaan kursi berjemur (lazy chair); (6) penyewaan payung pantai (beach umbrella); (7) pembukaan toko atau lapak lotion, cream, handuk, sabun, dll); (8) jasa pemijatan tradisional; (9) spa; (10) salon; (11) fotographer; (12) penjual lukisan; (13) toko cinderamata; (14) pentas seni; (15) jasa penyewaan mobil; (16) penyewaan sepeda motor; (17) jasa angkutan orang (taksi, ojek); (18) jasa reparasi kendaraan bermotor (bengkel); (19) penjualan BBM; (20) penjualan spare part kendaraan; (21) koperasi angkutan wisata; (22) travel agent/biro perjalanan wisata; (23) hotel; (24) homestay; (25) guest house; (26) pondok remaja (youth hostel); (27) restaurant; (28) bar; (29) café; (30) rumah makan; (31) laundry; (32) penjualan sembako; (33) tempat penukaran uang; (34) toko obat-obatan/apotek; (35) klinik kesehatan; (36) jasa pengamanan; (37) counter pulsa; (38) jasa keimigrasian (perpanjangan visa); (39) penjualan tiket pesawat; (40) juru parkir; (41) nelayan; dan (42) pedagang asongan; (43) jasa MCK umum; dan (44) penjual kelapa muda.

Keseluruhan RNP dikategorisasikan lagi menjadi: pertama; aset wisata terdiri dari (RNP—1—2—3—4—5—6—7—8—9—10—11—12—13); kedua; aksesibilitas (RNP—15—16—17—18—19—20—21—22); ketiga; atraksi (RNP—14); keempat; amenitas (RNP—23—24—25—26—27—28—29—30—31—32—33—34—35); dan kelima, anciliray (organisasi lokal/pelengkap) terdiri dari (RNP—36—37—38—39—40—41—42—43—44). Dilihat dari dimensinya  maka RNP yang teridentifikasi adalah: dimensi ekonomi (RNP—2—3—4—5—6—13—32—33—37—39—42—44); dimensi sosial (RNP—1—8—9—10—11—12—15—16—17—18—19—20—21—22—36—38); dimensi budaya hanya RNP—14; dan dimensi lingkungan (RNP—23—24—25—26—27—28—29—30—31—34—35—43). Lebih lanjut, berdasarkan kondisinya RNP yang teridentifikasi adalah: pertama; RNP—Real terdiri dari 36 RNP; dan kedua; RNP—Ideal terdiri dari 8 RNP.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan tentang RNP di KEK Pariwisata Mandalika Kuta- Lombok Tengah maka dapat disimpulkan bahwa RNP yang terseleksi dan teridentifikasi sebanyak 44 (empat puluh empat) yang dikategorisasikan menjadi 5A yakni, asset wisata, aksesibilitas, atraksi, amenitas, dan anciliray. A1 terdiri dari 13 RNP, A2 sebanyak 8 RNP, A3 hanya 1 RNP, A4 sebanyak 13 RNP, dan A5 sebanyak 9 RNP. Dari dimensinya RNP yang teridentifikasi ada 4 yakni, dimensi ekonomi sebanyak 12 RNP, dimensi sosial sebanyak 16 RNP, dimensi budaya 1 RNP, dan dimensi lingkungan sebanyak 12  RNP sedangkan berdasarkan kondisinya RNP yang teridentifikasi adalah RNP—Real sebanyak 36 RNP dan RNP—Ideal sebanyak 8 RNP. Dengan demikian RNP di KEK Pariwisata Mandalika Kuta-Lombok Tengah memang terbukti ada dan eksis sebagai sebuah berkah yang tersembunyi bagi masyarakat lokal. Hal ini dapat dilihat dari keterlibatan masyarakat yang aktif dalam setiap aktifitas pariwisata.

Saran

Pada bagian RNP—Ideal yang belum eksis disarankan untuk menciptakan suasana aman dan nyaman di areal pantai sehingga wisatawan merasa betah berjemur (sun bathing) dan meramaikannya. Dampaknya kemudian penyewaan lazy chair, payung pantai (beach umbrella), penjualan lotion, cream, handuk, sabun, dan lain sebagainya termasuk juga jasa pemijatan tradisional (traditional massage) laku dan laris. Lebih lanjut, RNP sebagai fotographer; dan penjual lukisan memang diperlukan pengkondisian tempat seperti pasar seni (art market), diperlukan manajemen pengelolaan untuk pentas seni, dan saling percaya (trust) untuk membangun sebuah wadah atau koperasi angkutan wisata.

Daftar Pustaka

Citrawati, Luh Putu, 2014. Evaluasi Perkembangan Kawasan Pariwisata Candidasa di Kabupaten Karangasem. Jurnal Bisnis Hospitaliti, Vol. 3,No. 1, (Hal. 10—25). Nusa Dua, Bali: Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Sekolah Tinggi Pariwisata.

Hampton, M., and Jeyacheya, J. 2012. Local Tourism Supply Chain in SmallStates: sharing best practice, final report. Canterbury, UK: Centre for Tourism in Island and Coastal Area (CENTIKA), Kent Business School, University of Kent. Available at: URL: http://www.kent.ac.uk/kbs/documents/res/ref-case-studies/Local%20Tourism%20Supply%20Chains%20in%20Small%20States%20Final%20Report.pdf. Acessed on April, 1, 2015.

Mao, Nara, et al., 2013. Local Livelihoods and Tourism Value Chain: a case study in Siem Reap-Angkor Region, Cambodia. International Journal of Environment and Rural Development (IJERD), Vol. 4, No. 2. Available at: URL: http://iserd.net/ijerd42/42020.pdf. Acessed on April, 1,2015.

Putra, Dewa Gede, 2014. The Impact of Tourism on the Environment. JurnalKepariwisataan, Vol. 13, No. 2, (Hal. 25—36). Nusa Dua, Bali: Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Sekolah Tinggi Pariwisata.

Vongsaroj, Rugphong, 2013. Sustainable Tourism Supply Chain Management and It’s Deteminants: a case of Thailand. Thailand: Graduate School of Tourism Management, National Institute of Development Administraions. Thailand. Available at: URL:

http://ibacconference.org/ISS%20%26%20MLB%202013/Papers/MLB%202013/4030..docx.pdf. Acessed on April, 1, 2015.

  1. Dosen Tetap STP Mataram, Kosentrasi Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata
  2. Dosen Tetap STP Mataram, Kosentrasi MSDM

Check Also

Lendang Ara, Ubudnya Lombok

Lendang Ara merupakan salah satu desa di Kecamatan Kopang, Kabupaten Lombok Tengah. Desa yang terletak …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: