Senin , Februari 6 2023

Ini Pesan Dalam Legenda Putri Mandalika

SELONG, Literasi – Mandalika adalah seorang putri Raja Tonjang Beru Raden Panji  Kusuma  dan permaisuri Dewi Sarinting, yang hidup  sebelum abad 16. Legenda Putri Mandalika telah menjadi bagian penting dalam  kehidupan masyarakat dengan pesan-pesan prnting.

Di Desa Sengkol, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah (Loteng), kebaikan dan keluhuran budinya membuat negeri aman, tenteram, adil, makmur, dan sentosa. Itu adalah gambaran umum kerajaan Tonjang Beru dalam kepemimpinan raja yang arif bijaksana.

Cinta Putri Mandalika kepada para pangeran dari penjuru negeri yang melamarnya,  terkubur di bibir Pantai Seger Kuta Loteng. Setelah menyampaikan cinta tulus ikhlasnya sembari mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih, sebelum akhirnya menceburkan  diri ke laut yang diikuti pancaran  cahaya bersinar.

Masyarakat meyakini bahwa, nyale dari cacing laut ragam warna bagai pelangi itu adalah jelmaan dari Putri Mandalika yang dicintainya. Pangeran Johor, Beru, Lipur, Pane, Kuripan, Daha, Sawing, Bumbang dalam kesedihan yang mendalam bersama prajurit. Masyarakat kemudian  menjemput dan menangkap Nyale (Bau Nyale : Sasak) itu.

Pemeran Raja Tonjang Beru Raden Panji Kusuma, Muh. Rusdi Arjiman, S.Sos.,  menyampaikan terkait pengalamannya dalam drama Putri Mandalika Nyale. Menurut budayawan NTB ini, drama Putri Mandalika yang ditulis dan disutradarai Max Arifin  pertama kali dipentaskan tahun 1982 di Lapangan Karang Jangkong. Kemudian tahun 1985 – 1990 pentas arena (kolosal) di Pantai Seger Kuta Loteng. Pada tahun 1990 itu juga drama Putri Mandalika Nyale dimainkan di TVRI Denpasar Bali.

Rusdi  menyampaikan apa yang diucapkan Putri Mandalika kepada pangeran pujaan hatinya. “Aku sangat mencintai rakyat Tonjang Beru dan kerajaan ayahku. Bila aku memilih salah satu pangeran berarti itu perang. Kalau perang rakyatkulah yang menderita. Aku adalah milik semua”.

Itulah kalimat yang disampaikan Putri Mandalika dari atas batu di Pantai Seger Kuta, sebelum menceburkan diri ke laut.  Pernyataan tersebut sekaligus sebagai jawaban atas lamaran para pangeran.

Sementara itu, Drs. Usup, MA., yang juga budayawan NTB menyampaikan aspresiasi yang tinggi, kepada Pemda dan penggiat seni budaya dan pariwisata yang telah berupaya mengenalkan Putri Mandalika lewat Festival Bau Nyale hingga diketahui oleh masyarakat seantero dunia. Menurutnya, proses ituvterus berjalan sebagaimana awal dimulai tahun 1980 an.

“Pak Max Arifin telah menulis naskah drama Putri Putri Mandalika Nyale pada dekade tahun 1980 an. Itulah yang kemudian dimainkan ketika itu,” ujar Usup. Dalam naskah itu, kata dia, Putri Mandalika sebagai sosok yang sangat luar biasa hingga menyebar ke seluruh pelosok negeri. “Kini, Max Arifin sudah almarhum dan alhamdulillah generasi sekarang ini meneruskannya lebih hebat lagi,” imbuh pendidik di MAN Cendekia Lotim ini, Senin (28/11/2022).

 Usup menyampaikan, ada tiga tokoh pangeran dari kerajaan besar yang sulit dilupakan oleh Putri Mandalika saat itu. Namun, Mandalika berat untuk memilih siapa di antara tiga pangeran itu sebagai suaminya.

“Ketiga pangeran itu adalah  Pangeran Johor, Pangeran Sawing, Pangeran Bumbang,” lanjut  Usup. seraya menjelaskan bahwa ada filosofi kehidupan penuh makna yang dapat diambil dari apa yang menjadi keputusan seorang Putri Mandalika. Ada makna trilogi dari ending legenda Putri Mandalika.

Ketiga aspek itu yaitu melalui komunikasi dengan manusia/masyarakat yang dalam hal ini persoalannya disampaikan kepada orang tuanya (Raja Tonjang Beru); melalui berdo’a kepada Tuhan; dan melalui alam dalam hal ini datang ke Pantai Seger Kuta membuang diri ke laut dan menjelma menjadi Nyale.

“Jadi, kontennya itu, bahwa manusia tidak bisa terlepas dari tiga dimensi ini, yakni masyarakat, Tuhan, dan alam semesta,” terang Usup (Kusmiardi).

Check Also

TAMAN TEMAN AMAN, Puisi H.Dienullah Rayes

Suatu waktu kita tiba di lembah tidak muda lagiaku.kau dan siapapun mata kabur,rambut putih,pendengaran sayup-sayup …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: