Rabu , November 30 2022

Tradisi Rebo Bontong Digelar di Pringgabaya

Rebo Bontong di Desa Pringgabaya.kus

SELONG, Literasi- Perayaan (Gawe : Sasak) Tetulak Tamperan atau Rebo Bontong di Desa Pringgabaya, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur (Lotim), tetap dijaga dan dirawat. Hal ini dapat dilihat dari adanya Gawe Rebo Bontong setiap tahun. Karena tradisi ini berdiri di tengah masyarakat yang beragama Islam,  pergelarannya dilaksanakan pada minggu keempat bulan Safar.

   “Kita sudah gelar Rebo Bontong pada hari Rabu tanggal 21 September  2022M bertepatan dengan minggu keempat  bulan Safar 1444 H. Namun secara sederhana karena waktu dan juga keterbatasan dana, sehingga kita pun  tidak mengundang Bupati dan Wakil Bupati serta pejabat lain di lingkungan Pemda Lotim,”  kata Lalu Marzoan Jayadi, S.Pd., Ketua Pokdarwis Tanjung Menangis Desa Pringgabaya, Kamis (22/09/2022).

Pelaksanaan Rebo Bontong ditandai dengan pembacaan naskah Tapal Adam, mengiringi pembuatan Sonsonan Tetulak Tamperan/Rebo Bontong  yang dimulai ba’da shalat Zuhur.

   Pada malam hari jelang hari tradisi Tetulak Tamperan  diadakan tahlilan (zikir bersama) di Pelataran Kantor Desa Pringgabaya, pada ba’da shalat Maghrib hinggs selesai. Sementara pembacaan kitab Tapal Adam diiringi pembuatan Sonsonan Tetulak diteruskan hingga jelang waktu Subuh tiba.

   “Sonsonan Tetulak Tamperan  dibawa bersama secara beriring (tokoh agama, tokoh masyarakat, masyarakat umum)  menuju Pantai  sekitar pukul 08.00 wita  tiba,” terang Marzoan Jayadi.

    Sementara itu, Amaq Dian menyampaikan  bahwa  para pembawa Ancak dan  Sonsonan Rebo Bontong menuju pantai  terdiri dari masyarakat didampingi pembayun.  Di pantai sudah hadir aparat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan masyarakat pada umumnya.

    “Pemdes, tokoh, masyarakat, dan undangan lainnya bersama pembayun menerima Ancak dan Sonsonan Tetulak (Sonsonan 5 dan Sonsonan pengiring). Sesudah kepala kerbau/kambing dalam Ancak  dilarung,  dilanjutkan dengan tahlil dan do’a. Setelah itu baru isi ancak dan sonsonan dinikmati bersama,” kata Amaq Dian.

    “Alhamdulillah, kiyai, tokoh, masyarakat  menikmati Sonsonan Tetulak.  Begitupun Ancak, shalawat berupa keping uang logam,” terang Marzoan Jayadi, sembari menambahkan bahwa jika Sonsonan Tetulak boleh juga dibawa pulang. “Dapat dinikmati bersama keluarga di rumah, sebagai menu sarapan pagi yang penuh berkah,” imbuh alumni FPOK IKIP Mataram ini.

  Sementara itu, Sekdes Pringgabaya, Khairul Azmi, S.AP., ikut menyampaikan Pemdes Pringgabaya sangat menghargai  semangat dari warga masyarakat yang telah mendukung sepenuhnya dan ikut bersama dalam pelaksanaan tradisi tahunan Tetulak Tamperan.

  “Alhamdulillah,  jauh hari sebelum pelaksanaan Tetulak Desa (2 minggu sebelumnya) masyarakat sudah maklum dan menunjukkan semangat partisipasinya lewat “Jimpitan” tergantung apa yang ada berupa  boleh beras,   kelapa, telur, uang logam, gula pasir, minyak goreng, dan lainnya,” kata Khairul Azmi, sembari menambahkan bahwa acara tahunan tradisi Tetulak Tamperan  berhasil dilaksanakan pada hari Rabu (21/09/2022) bertepatan dengan Rabu minggu keempat (terakhir) bulan Safar 1444 H.

Menurutnya, Rebo Bontong memiliki hikmah terjalinnya silaturrahmi, semangat berbagi, gotong royong, dan menuju ke arah peningkatan keimanan ini, telah dilaksanakan secara sederhana. Insyaa Allah kita dapat melaksanakannya dengan lebih meriah,”   imbuh alumni Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Selong Lotim ini (Kusmiardi/bersambung).

Check Also

Merawat Harapan di Mulang Pakelem

Acara Mulang Pakelem.kmf Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr H Zulkieflimansyah mengatakan banyak ritual agama agama …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: