Kamis , Juli 18 2024
Beginilah semangat besiru di lingkungan petani

Besiru, Kearifan Lokal yang Bisa Diterapkan Dimasa Pandemi

Beginilah semangat besiru di lingkungan petani

Ada sebuah kearifan lokal yang disebut besiru yang bisa dibangkitkan dalam menyikapi berbagai fenomena kehidupan. Termasuk dimasa pandemi corona saat ini, semangat kegotongroyongan itu akan memberi nilai dan mempercepat penyelesaian masalah pembangunan yang sesungguhnya.

DITENGAH hamparan tambak garam yang panas, perempuan-perempuan paruh baya itu merapikan
pinggiran pematang. Mereka bahu membahu mengatasi persoalan pemilik lahan orang lain seolah bahwa itu juga bagian dari masalahnya.

Wajah  mereka  sama  legam.  Alangkah  akan  semakin legam jika luas hamparan yang sampai hektaran itu harus dikerjakan sendiri atau bersama suami. Sepasang tangan tentu tidak cukup, apalagi teknologi yang digunakan masih konvensional. Sebatang skop atau cangkul tidak berarti jika digerakkan seorang diri. Sedangkan langit sudah mulai mendung. Hujan adalah ancaman bagi petani garam. Sehingga cara cepat hanya bisa dilakukan lewat besiru alias gotong royong untuk mempercepat tercapainya tujuan.

Pemandangan itu nampak di tambak garam seluas sekitar 8 hektar di Desa Bilelando, Praya Timur, Lombok Tengah, ketika sejak pagi hingga sore hari, mereka mengolah lahan dari satu tambak ke tambak lainnya. Langkah ini merupakan salah satu upaya mempercepat pelaksanaan program yang mengangkat kembali kearifan lokal dalam upaya peningkatan kesejahteraan perempuan melalui pengembangan usaha garam ramah lingkungan di Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Tidak ada teriakan perintah karena masing-masing sudah memahami apa yang mesti dikerjakan. Mengubah model lahan dengan petakan-petakan yang cukup luas memerlukan tenaga yang kuat. Bayangkan, sistem ulir dalam bertani garam mengedepankan perubahan model petakan dari tradisional. Jika pada sistem tradisional  meja garam sebanding dengan areal penampungan air laut, dalam sistem ulir meja garam cukup satu. Mengubah sistem aliran air itulah yang berat.

Ketika kelompok-kelompok petani sudah dibentuk di masing-masing desa untuk menggarap hal yang sama, produksi garam tidak lagi menjadi tanggung jawab diri sendiri, melainkan komunitas. Kebersamaan itu nampak disaat mereka memahami bahwa setelah lahannya mendapatkan giliran besiru, berikutnya adalah tenaganya dibutuhkan untuk yang lain.

“Memang kami besiru melakukan perubahan lahan.Dalam satu kelompok saya dibantu saudara-saudara saya,” kata Suryati, salah seorang petani garam Kelompok Geger Girang Desa Bilelando, Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah. Karena dilakukan dengan cara gotong-royong maka waktu yang dibutuhkan menyelesaikan pekerjaan hanya sehari.

Langkah besiru dibenarkan juga oleh Sahni, anggota kelompok yang sama telah mampu menyelesaikan pekerjaan perubahan lahan secara lebih cepat. Hal ini tidak lepas dari upaya perubahan sistem bertani garam dari tradisional menuju sistem ulir.

Sistem ulir dilakukan oleh petani garam di 6 desa lokasi program mulai akhir bulan April 2017 di Lombok Timur dan pertengahan bulan Mei 2017 di Lombok Tengah. 

Besiru merupakan sistem sosial masyarakat petani garam di Lombok Tengah yang juga diterapkan di Lombok Timur dengan tujuan selain untuk menghemat biaya, juga dalam rangka membangun kebersamaan. Membayar tenaga kerja tidak  harus dengan uang tapi bisa membayar dengan tenaga atau “barter tenaga” secara bergilir dalam satu kelompok ke kelompok yang lain. Besiru dapat membangun rasa keakraban dan solidaritas antar petani garam sehingga kelompoknya  menjadi lebih solid dan kuat.

Prinsip Kekeluargaan

Pada umumnya, lingkungan masyarakat pedesaan tidak lepas dari kegiatan gotong royong. Hanya saja istilahnya berbeda-beda. Kawasan pesisir tergolong kawasan pedesaan, sehingga dalam etika pergaulan senantiasa memegang teguh prinsip kekeluargaan dan gotong-royong. Penerapannya nampak dari pembangunan tempat ibadah, di lahan pertanian, iuran bela sungkawa, dan lain-lain.

Tradisi ini memang sudah berlangsung turun-temurun. Di lingkungan petani, besiru dijalankan jika musim tanam dan panen tiba. Mereka bahu-membahu saling besiru mengerjakan lahan pertanian yang dimiliki dari pagi hingga sore hari. 

Jika besiru dilakukan di sawah, hal itu biasa dilakukan sejak dari menanam hingga melaksanakan panen secara bergilir. Besiru, jika di Lombok Timur, dikenal juga dengan istilah betulung, betenak, atau betejak. Oleh generasi kelahiran 1960 an, Besiru menjadi keseharian sebagai warga masyarakat di Pulau Lombok pada saat kegiatan nggaro hingga matak di sawah.

Nggaro, sebagai rangkaian prosesi kegiatan dimulainya kegiatan penanaman (menanam padi) di sawah  saat  musim tanam. Para petani, siapa pun dia, akan terlibat dalam kegiatan tersebut. Demikian halnya saat musim panen (matak : Sasak), semua petani yang di lingkungan tersebut berbondong-bondong untuk terlibat memanen padi. Ketika itu, kegiatan panen padi masih memakai alat tradional anai (rengkapan : Sasak) karena padi waktu itu masih jenis padi bulu yang memang berpokok cukup tinggi dan harus memanennya dengan cara berdiri. 

Sebagai bagian terpenting  dalam aktivitas keseharian warga masyarakat suku bangsa Sasak sejak masa dulu,  besiru dimaknakan sebagai kegiatan saling tolong-menolong secara ikhlas tanpa mengharap imbalan yang selanjutnya identik dan dikenal dalam kategori  makna gotong-royong.

Digerus Zaman

Saat ini, besiru semakin tergerus seiring dengan zaman yang kian maju. Banyak kemudian warga yang mengandalkan upah. Ketika hal tersebut dibiarkan saja, bukan tidak mungkin berpotensi mengganggu akselerasi  pembangunan masa kini dan menekan keswadayaan masyarakat. 

Menurut budayawan Sasak, Ir. Haji Muhidin, besiru belakangan nyaris dilupakan dalam komunitas warga masyarakat petani. Padahal, tradisi ini sangat cocok untuk dicontoh dalam aktivitas pembangunan daerah masa kini dan masa mendatang. “Tidak saja dalam kegiatan pertanian, besiru sesungguhnya dapat diterapkan kepada aktivitas lain,” katanya. 

Umumnya besiru berkembang dalam komunitas masyarakat bawah yang sebagian besar berprofesi sebagai petani. Mereka saling tolong-menolong tanpa mengharap imbalan. Saat ini, besiru nyaris tak ada lagi dalam kegiatan kemasyarakatan petani pada umumnya, tidak sebagaimana beberapa puluhan tahun yang silam. Ada memang upaya kegiatan yang memiliki semangat seperti besiru namun jumlahnya sangat sedikit.

Kabupaten Lombok Timur sendiri menerapkan semangat besiru dalam pembangunan di pedesaan. Sebutlah untuk membangun jalan, jembatan, pembangunan masjid maupun saluran irigasi. Karena itu, pemerintah daerah perlu menerapkan hal ini. Setiap kali menggelontorkan bantuan untuk desa, kegotongroyongan dan keswadayaan dalam merealisasikan rencana tersebut memerlukan kebersamaan. Hasilnya  nilai keswadayaan jika diukur dengan kebutuhan dana yang seharusnya bisa mencapai dua kali lipat.

“Karena itu, besiru menjadi sangat penting untuk diangkat kepermukaan lagi, diimplementasikan  sebagai acuan dalam kegiatan keseharian,” cetus Muhidin. Saat ini aktivitas petani umumnya berorientasi kepada upah dan nyaris tidak ada semangat besiru.

Sementara budayawan,  H. Lalu Wirabhakti, SH.,  menilai masih ada kegiatan yang memiliki nilai relevansi dengan semangat besiru pada masa sekarang ini. Misalnya, kegiatan ronda. Di sini ada semangat dan nilai besiru.

Para petugas ronda sudah ada jadwal masing-masing yang terdiri dari beberapa orang,  Mereka kemudian melaksanakan tugasnya secara ikhlas tanpa mengharapkan imbalan karena dilakukan untuk kepentingan bersama.

 Besiru sebagai kearifan lokal sangat penting digunakan sebagai pola kegiatan pembangunan. Hal yang sangat memungkinkan dan mudah pelaksanaannya adalah dalam kegiatan kelompok. Beberapa contoh diantaranya dalam kehidupan kelompok tani, kelompok petambak garam, kelompok peternak, dan kelompok lainnya.

Besiru dalam makna yang luas menjadi rangkaian yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Para petani garam tidak hanya besiru dalam mengubah bentuk lahan, melainkan dalam kerjasama pengelolaan hasil produksinya secara menyeluruh hingga ke tingkat pemasaran.Semangat besiru itu sendiri akan berperan dalam mengurangi ketergantungan.

BESIRU DIMASA PANDEMI

Model besiru dalam menyikapi masalah berperan pnting dalam mengeleminiasi persoalan sekecil mungkin. Saat  mengikuti Kegiatan Peringatan Bulan Bung Karno 2020 dan mengenang tujuh Tahun Meninggalnya DR.(HC).Taufik Kiemas secara Virtual dan Live Streaming di Channel Bamusi TV, Ketua PDIP NTB, Rahmat Hidayat,  mengungkapkan, spirit gotong royong sebagai intisari Pancasila yang dicetuskan Bung Karno 1 Juni 1945 menjadi faktor terpenting dalam menghadapi pandemi Covid-19.

“Pastinya, tanpa gotong royong, kita tidak akan bisa melewati pandemi ini,” ujar Rahmat dalam siaran tertulisnya, Selasa (9/6). Sebutlah  pada masa pandemi ini, pihaknya sejak Maret lalu terus bergotong royong membagi sembako, membagikan masker dan melakukan penyemprotan disinfektan di tempat ibadah umat Islam, Hindu dan Kristen. Selain itu, ada berbagai aksi lain untuk masyarakat, termasuk hari ini dalam rangka kelahiran Bung Karno.

Sementara itu berbagai komponen masyarakat mulai menyadari tradisi besiru ini ketika mereka bergotong royong membantu warga lewat bantuan-bantuan sosial yang terus mengalir, baik berupa sembako, APD mupun masker. Itu semua dilakukan karena masyarakat mengalami masalah yang sama, yakni ancaman corona.

Menurut politisi Puan Maharani, gotong royong yang merupakan intisari dari Pancasila hanya bisa diwujudkan melalui persatuan  seluruh anak bangsa. “Dan Bung Karno maupun Bapak Taufiq telah menunjukkan perjuangan luar biasa dalam mempersatukan bangsa,” tandasnya. Ian, berbagai sumber

Check Also

Bhayangkari Gandeng Saifana Organic Farm

Pengurus Cabang Bhayangkari Lombok Utara menggelar pertemuan rutin dengan tema “Sharing Pengelolaan Lingkungan Ramah Lingkungan” …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *