Minggu , April 21 2024
Penilaian Desa Kembang Kuning dalam lomba desa tingkat nasional

Kembang Kuning 28 Besar Desa Wisata Nasional

SELONG, Literasi-Desa Kembang Kuning merupakan salah satu desa yang masuk dalam 28 besar Lomba Membangun Desa Wisata Nusantara tahun 2019  setelah melalui seleksi administrasi Deputi Pengembangan Wisata Budaya Kementerian Pariwisata RI.  Tim Verifikasi selanjutnya melakukan peninjauan lapangan untuk melihat secara langsung kondisi riil desa tersebut. Acara  dihadiri langsung Bupati H. M. Sukiman Azmy,  Kamis (24/10).

Dalam kata penerimaanya Bupati H.M. Sukiman Azmy mengatakan akibat gempa yang melanda Kabuapten Lombok Timur beberapa waktu lalu, banyak bangunan rumah warga masyarakat maupun fasilitas umum roboh dan mengalami kerusakan, tidak terkecuali di Desa Kembang Kuning. Namun demikian, giat pariwisata di tiap kecamatan tetap berjalanan normal, aman dan terkendali.

Penilaian Lomba Desa Wisata Nusantara tahun 2019  merupakankan kebanggaan bagi warga masyarakat NTB umumnya lebih khusus masyarakat Lombok Timur, karena Desa Kembang Kuning masuk 28 besar dari selurih Indonesia.

Desa wisata, jelas Sukiman, merupakn konsep pengembangan pariwisata dari peran serta dan kesadaran masyarakat. Dengan kata lain, masyarakatlah yang berinisiatif untuk membentuk desa wisata. Hal tersebut dilatarbelakangi masyarakat sendiri yang dapat merasakan langsung dari pengembangan pariwisata berupa kunjungan dari wisatawan ke desanya dengan tidak mengubah kearifan lokal yang ada di desa tersebut. “Justru menonjolkan nilai-nilai budaya asli desa yang menjadi keunikan sendiri yang tidak ada di tempat lain,” ungkalnya

Untuk itu, khusus Desa Kembang Kuning — melihat potensi dan nilai kearifan lokal yang dimiliki — telah dirumuskan moto yang memberi inspirasi dalam membangun desa yaitu  “Desa Kembang Kuning,  Kembang Matee dan Kembang Atee”.  Kembang Kuning artinya desa yang makmur sesuai dengan simbol warna kuning. Kembang matee bermakna sejuk enak dipandang mata.  Kembang Atee bermakna berkesan baik dan tertanam didalam hati.

Meski skala kecil dan menonjolkan ciri khas perdesaan, pemerintah daerah  mendorong pengembangan desa wisata karena dinilai lebih efektif bersaing dibanding daerah dengan industri pariwisata dengan sarana dan prasarana yang lengkap.

Saat ini, kata Sukiman, di Kabupaten Lombok Timur ada 25 desa wisata yang telah diverifikasi dan jumlah kelompok sadar wisata (Pokdarwis) sekitar 80 kelompok. Dengan potensi alam yang berlimpah dan lengkap mulai dari potensi pegunungan, pedesaan dan pantai yang membentang menjadikan desa wisata yang ada di Kabupaten lombok Timur memiliki keunggulan yang beragam di masing-masing desa.

Dari 239 desa yang di Kabupaten Lombok Timur, 36 Desa masuk dalam klasifikasi Desa Tertinggal, 178 Desa Berkembang dan 25 Desa masuk kategori Desa Maju. Masih belum ada yang masuk kategori desa mandiri yang memiliki kemampuan untuk menghasilkan Pendapatan Asli Desa (PADes) yang sustainable dan mampu membiaya kebutuhannya tanpa mengharapkan Dana Transfer dari Pusat maupun daerah. 

Sesuai dengan target indikator RPJMD Lombok Timur 2018-2023, setiap tahunnya 20 desa akan didorong untuk meningkatkan statusnya. Paling tidak 10 persen dari jumlah desa yang masuk kategori tertinggal meningkat statusnya menjadi desa berkembang, demikian juga dengan desa berkembang akan menjadi desa maju. 

“Saya berharap kegiatan ini juga menjadi langkah evaluasi terhadap apa yang dilakukan pihak-pihak terkait terutama dalam kegiatan pembinaan dan pengembangan desa dan desa wisata pada khususnya yang akan berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Lombok Timur,” paparnya. 

Sementara itu Ketua Tim Verifikasi Lomba Desa Wisata Nusantara tahun 2019  yang juga Asisten Deputi Pengembangan Wisata Budaya, Kementerian Pariwisata RI, Drs. Oneng Setya Harini MM, dalam sambutan menyampaiakn,  Undang undang nomor 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan menegaskan bahwa tujuan pengembangan pariwisata diharapkan dapat mengembangkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

“Pemerintah Indonesia telah menetapkan sektor pariwisata sebagai andalan untuk mendapatkan devisa” katanya. Pada tahun 2018 telah menghasilkan Rp 224 triliun dari kunjungan 15,81 juta wisatawan mancanegara dan dalam lima tahun ke depan ditargetkan meningkat menjadi 18 juta wisatawan asing dengan target memperoleh devisa sebesar Rp 250 triliun.

Ia menyatakan strategi untuk mendukung pencapaian target wisatawan adalah pembangunan daerah tertinggal, transmigrasi .yang diharapkan bisa memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan pendapatan desa. Sebagai penghargaan bagi desa yang telah sukses membangun desa wisatanya pemerintah menginisiali “Lomba Membangun Desa Wisata Nusantara”.

Tujuan lomba ini untuk meningkatkan potensi wisata desa yang lebih fleksibel dan terkoneksi, mengapresiasi desa dalam pengembangan desa wisata untuk percepatan pembangunan desa dan mendorong BUMDes untuk berperan aktif dalam pengelolaan  destinasi wisata. “Sehingga,  tujuan lomba desa wisata Nusantara ini antara lain mempromosikan desa wisata di Indonesia melalui teknologi informasi dan komunikasi serta mengangkat keanekaragaman potensi unggulan desa dan mendorong BUMDes  bersinergi menciptakan daya tarik investasi yang kompetitif,” jelasnya

Harapan besar agar Desa Kembang Kuning dikembangkan agar tertata lebih baik lagi sehingga apa yang diamanahkan UU No. 6 tahun 2014 tentang Desa yaitu melestarikan dan memajukan adat, tradisi, dan budaya masyarakat desa : mendorong prakasa gerakan dan partisipasi masyarakat untuk pengembangan potensi dan aset desa guna kesejahteraan bersama, memajukan perekonomian, dan memperkuat masyarakat desa sebagai subjek pembangunan dapat terwujud .

Acara  dihadiri unsur Forkopimda, Kepala Dinas dan Badan Lingkup Pemerintah  Kabupaten Lombok Timur, Ketua TP-PKK Kab. Lombok Timur, camat dan kepala desa se Lombok Timur, perbankan, BUMD serta toloh agama dan masyarakat.hm

Check Also

Ini Dia Pantai Kecinan di Lombok Utara

Pantai Kecinan di Desa Malaka, Kabupaten Lombok Utara,  menjadi destinasi wisata dengan pesona alami. Salah …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: