Senin , Oktober 25 2021
Home / Dinamika / Jelang WSBK dan MotoGP Mandalika, Vaksinasi Kunci Penting Keluar dari Pandemi Covid-19

Jelang WSBK dan MotoGP Mandalika, Vaksinasi Kunci Penting Keluar dari Pandemi Covid-19

FOTO. Dirut RSUD Provinsi NTB dr H. Lalu Herman Mahaputra alias Dokter Jack (kanan) saat rapat dengan jajarannya terkait kesiapan RSUD Provinsi setempat menjelang pelaksanaan WSBK dan MotoGP Mandalika. (FOTO. RULDS)

MATARAM, Literasi- Vaksinasi merupakan kunci penting untuk bisa bertahan dan keluar dari pandemi Covid-19. Melalui vaksinasi pula permasalahan ekonomi nasional yang terjadi karena dampak pandemi dapat diatasi.

Dirut RSUD Provinsi NTB dr H. Lalu Herman Mahaputra alias Dokter Jack mengatakan, sejauh ini, vaksin menjadi kunci sekarang ini. Apalagi, provinsi NTB akan menjadi tuan ruumah even Akbar dunia, yakni WSBK dan MotoGP di sirkuit Mandalika.

“Jadi, kita enggak akan habis di angka 70 persen. Tapi bila perlu vaksinasi itu bisa mencapai 100 persen untuk semua warga di NTB. Makanya, vaksinasi terus kita genjot bersama aparat TNI dan polisi, baik siang dan malam untuk menyasar semua komunitas dan warga masyarakat,” kata Dokter Jack pada wartawan, Kamis (14/10).

Ketua Satgas Vaksinasi Provinsi NTB itu, tak menampik, manakala vaksinasi memang tak serta-merta menghilangkan pandemi. Namun, dengan vaksinasi, dampak terburuk pandemi bisa ditekan.

“Di beberapa negara yang memiliki tingkat vaksinasi tinggi, tingkat kematian akibat covid dapat ditekan. Ini yang kita cari, herd immunity, bukannya tidak tertular, tapi tidak fatal, maka harus vaksin,” tegas Dokter Jack.

Ia mendaku, kedatangan vaksin Pfizer pada Senin (11/10) lalu, akan menambah banyak varian vaksin untuk NTB. Sebelumnya Provinsi NTB telah menerima vaksin Sinovac, Moderna, Astrazeneca, dan Sinopharm.

Meski demikian, mantan Dirut RSUD Kota Mataram itu, juga mengingatkan pentingnya penguatan penanganan Covid-19 di hulu.

“Jadi, memnag dalam penanganan Covid-19, tidak hanya sekadar vaksinasi untuk mencapai herd immunity, tapi juga mengedepankan penemuan kasus baik secara pasif maupun tracing secara aktif,” ujar Dokter Jack.

Dirinya mengungkapkan penguatan tempat isolasi terpusat juga dibutuhkan untuk mengantisipasi lonjakan kasus yang bisa saja terjadi di kemudian hari.

“Memang, harus kita akui ada penurunan kasus Covid-19 yang kini terus melandai. Tapi tetap skema antisipasi dengan penyiapan kembali RS Darurat yang sudah ada. Termasuk, isolasi terpusat juga harus tetap kita lakukan,” tandas Dokter Jack.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan NTB dr. H. Lalu Hamzi Fikri menegaskan, pihaknya tidak pilih-pilih vaksin. Kata dia, vaksin apa saja yang diberikan pemerintah pusat, akan langsung didistribusikan ke daerah, untuk digunakan masyarakat.

“Kalau ada (datang) vaksin, langsung kita pakai. Kita diminta untuk percepatan, supaya cepat juga ngamprah ke pusat,” tegas Hamzi.

Percepatan vaksinasi tengah dilakukan Pemprov NTB bersama jajaran TNI dan Polri. Salah satu tujuannya agar bisa menggelar event World Superbike (WSBK) di Pertamina Mandalika International Street Sircuit di Lombok Tengah, pada 21 November nanti.

Tercatat, hingga 9 Oktober, untuk dosis pertama secara total sudah 1.807.916 orang atau 46,23 persen dari target 3.910.638 orang. Rinciannya, Kota Mataram 276.679 orang atau 87,67 persen; Lombok Barat (Lobar) 222.616 orang atau 41,99 persen; Lombok Tengah (Loteng) 529.347 orang atau 68,95 persen.

Lombok Timur (Lotim) 321.333 atau 33,74 persen; Lombok Utara 107.127 orang atau 59,48 persen; Kota Bima 53.523 orang atau 47,47 persen; Bima 84.465 orang atau 21,83 persen; Dompu 47.473 orang atau 27,21 persen; Sumbawa 117,182 orang atau 30,33 persen; dan Sumbawa Barat 48.171 orang atau 46,26 persen.

Dikebutnya vaksinasi guna mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok, dengan ketentuan harus tembus 70 persen dari sasaran vaksin. “Memang, dari progres vaksinasi terakhir, hanya Kota Mataram yang melebihi. Disusul Loteng, yang diperkirakan bisa tercapai kurang dari satu pekan ini. Mohon doanya, untuk bisa kita mencapai target yang sudah ditetapkan,” kata Hamzi Fikri.

Terpisah, Asisten III Setda NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi mengatakan, herd immunity bukan hanya melihat capaian dosis pertama saja. Tapi juga dosis kedua. “Harus seperti itu baru bisa kita katakan herd immunity,” katanya.

Namun, bukan berarti capaian 70 persen pada dosis pertama tidak berarti. Kata Eka, ketika vaksinasi mulai dilakukan pemerintah, cukup sulit untuk mengajak masyarakat. Meski sudah tersedia gerai vaksinasi di sejumlah titik. Belum banyak masyarakat yang datang.

“Sekarang dengan 70 persen dosis pertama, artinya kita sudah punya kontak orang yang divaksin kan. Carinya lebih gampang, lebih cepat jadinya untuk dosis kedua,” jelas Dokter Eka. RUL.

About literasi

Check Also

Gala Dinner HK EC 2021, Gubernur NTB : Awal Gairah Pariwisata & Ekonomi

Gala Dinner HK Endurance Challenge 2021, yang diselenggarakan oleh Hutama Karya di Hotel Tugu Lombok …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: