Minggu , Juli 25 2021
Home / Budaya / MOLANG MALIQ, Tradisi Suku Sasak yang Cinta Lingkungan dan Kesehatan

MOLANG MALIQ, Tradisi Suku Sasak yang Cinta Lingkungan dan Kesehatan

Bayi yang diaqiqah

Selong, Literasi-Molang Maliq dikenal sebagai tradisi Budaya Suku Bangsa Sasak di Lombok Nusa Tenggara Barat. Molang Maliq dilaksanakan pada saat sang ibu yang sudah melahirkan tidak lagi mengeluarkan darah nifas/darah kotor habis melahirkan (minimal 40 hari) atau pada saat bayi sudah berumur 40 hari. Saat ini baru bayi dicukur/aqiqah, disembelihkan 2 ekor kambing untuk bayi laki-laki dan 1 ekor untuk bayi perempuan.

Yang khas dari Molang Maliq ini adalah dimandikannya sepasang suami istri yang sudah bebas dari darah nifas itu yang dilakukan oleh perempuan yang membantu melahirkan (Belian/Dukon Beranak : Sasak), dengan mengambil tempat di lokasi sumber mata air (mualan : Sasak). Hanya saja,  prosesi yang khas dari Molang Maliq itu, saat ini nyaris sudah tak dilakukan lagi, meskipun  masih ada namun sangat-sangatlah jarang. Desa yang masih melakukannya adalah Desa Telaga Waru Kecamatan Pringgabaya Lombok Timur.  

Sebelumnya, pada saat bayi berumur 1 (satu) minggu  dilaksaakan Medak Au. disebut juga ngaranin. saat inilah bayi diberikan nama yang baik atas saran tokoh agama.  Saat ini cukup mengundang tetangga, tokoh masyarakat,  dan tokoh agama untuk tahlilan dengan mengambil waktu pagi hari (tanpa Belangar tanpa Begawe) ditutup dengan menikmati ala kadar sarapan pagi yang sudah disiapkan tuan rumah.

“Dulu saat orang Molang Maliq,  dimandikan secara bersama-sama antara suami dan istri, karena saat itu darah nipas habis melahirkan dari seorang perempuan sudah berhenti keluar pas sesudah 40 hari. Bahkan saya dulu dimandikan di sungai yang airnya mengalir. Dulu sungai kita airnya  bersih dan juga bening. Jadi itulah telitinya orang tua kita dulu. Seperti kata orang yang pintar, Molang Maliq ini kita membuang sial/kesialan. Nah, waktu Molang Maliq ini kalau anaknya laki-laki disembelihkan 2 ekor kambing/kibas, begitu pula halnya perempuan, Cuma kalau perempuan disembelihkan 1 (satu) ekor kambing/kibas),” tutur Amaq Sahuri, tokoh masyarakat yang mengikuti tradisi Molang Maliq di rumah seorang warga Dusun Gubuk Motong Desa  Apitaik Kecamatan Pringgabaya Lotim.

Sementara itu, Junaidi, S.Pd.,  tokoh masyarakat Desa Telaga Waru Kecamatan Pringgabaya, menyampaikan bahwa yang khas sebagai kearifan lokal dari Molang Maliq itu saat ini tak lagi dilaksanakan. Menurut alumni STKIP Hamzanwadi Pancor ini, yang khas dari Molang Maliq itu jangan sampai hilang, karena memiliki makna yang sangat dalam, baik bagi diri, lingkungan, dan kesehatan sebagai masyarakat yang berbudaya dan beragama. 

          “Kalau di Desa Telaga Waru masih dilakukan yaitu dengan dimandikannya Ibu yang melaksanakan acara Molang Maliq itu di Mualan Benyer. Dilakukan oleh perempuan yang membantu  melahirkan (Belian/Dukun Beranak : Sasak) bersama perempuan sepuh lainnya.  Memang, saat ini tak ada lagi dukun beranak, namun dia sangatlah mengerti dan siap mendampingi seorang Ibu yang melahirkan di Puskesmas atau  Klinik. Termasuk membantu sang Ibu sepeti halnya menanam ari-ari (adik-kakak : Sasak) yang baru melahirkan itu setelah pulang dari Klinik/Puskesmas,” ungkap Junaidi, yang juga selaku Sekdes Telaga Waru ini. 

Molang Maliq, ditandai/diawali dengan Serakalan, mengirngi bayi yang dicukur dilanjutkan dengan  tahlilan, baru menikmati ala kadarnya. Warga lain yang sudah dipesilak pun berangsur    berdatangan, termauk tamu dari jauh yang diundang (Kus).

About literasi

Check Also

Tradisi Belangar, Perekat Masyarakat Suku Bangsa Sasak

Beginilah tradisi Belangar yang masi lestari Ada tradisi masyarakat suku Bangsa Sasak di Lombok yang …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: