Minggu , Juli 25 2021
Home / Budaya / Tradisi Belangar, Perekat Masyarakat Suku Bangsa Sasak

Tradisi Belangar, Perekat Masyarakat Suku Bangsa Sasak

Beginilah tradisi Belangar yang masi lestari

Ada tradisi masyarakat suku Bangsa Sasak di Lombok yang bernilai silaturrahmi yang sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Tradisi yang senantiasa terjaga dan terawat tersebut adalah Belangar.

Menurut Prof. DR.  Haji Fahrurrozi, MA., Guru Besar pada IAIN Mataram, ada tiga dimensi silaturrahmi dalam tatanan tradisi budaya religi masyarakat suku bangsa Sasak di Lombok, yaitu : Besiru, Belangar, dan Begawe.

Besiru  merupakan tradisi masyarakat sasak dalam hal tolong-menolong dengan tenaga. Belangar  merupakan tradisi silaturrahmi membawa sesajian/bantuan kepada orang yang mengalami musibah (contoh : meninggal dunia). Sedangkan Begawe, tradisi merayakan acara sunatan, nikah dan lainnya. Begawe, tersimpul dalam social cultural suku bangsa Sasak di Lombok dengan istilah Roah.

“Roah satu makna dengan roh dan satu makna dengan rahim. Inilah yang berada dalam satu dimensi kultur (budaya)  Silaturrahmi,” terang Haji Fahrurrozi, dalam  sebuah kesempatan halal bihalal Idul Fitri.

Belangar dalam aplikasinya  tidak saja dilakukan pada saat ada warga mengalami musibah (meninggal dunia), namun juga pada saat ada warga yang sunatan,  nikah, dan  atau molang maliq, sebagaimana juga yang dilakukan oleh masyarakat Desa Apitaik, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) Nusa Tenggara Barat (NTB).

Belangar ke warga yang mengalami musibah (meninggal dunia) dilakukan pada pagi/siang hari jelang jenazah dikuburkan. Sementara Belangar ke warga yang sunatan, nikah, dan molang maliq dilakukan pada malam hari (ba’da Isya) dilaksanakannya acara (Gawe : Sasak) bersangkutan. Laki-laki membawa bantuan berupa dana, sementara perempuan datang pada saat hari (pagi-siang) Begawe dengan membawa sesaji berupa beras dan gula dalam wadah baskom. 

Tradisi yang sudah berlangsung lama sejak zaman nenek moyang suku bangsa Sasak,  Belangar saat ada orang yang meninggal dunia merupakan suatu keniscayaan untuk dilakukan, siapapun warga masyarkat yang meninggal dunia. Apalagi pada saat ini khusus bagi warga yang mengalami musibah (meninggal dunia) langsung dumumkan melalui masjid yang ada di seluruh dusun sehingga masyarakat segera mengetahuinya.

Sementara bagi warga masyarakat yang berhajat mengadakan sunatan, pernikahan, dan atau molang maliq, Belangar  tidak menjadi suatu keharusan untuk dilakukan oleh warga lain, kalau tidak ada pemberitahuan atau undangan, atau istilah bahasa Sasak disebut dengan mesilaq dari warga masyarakat yang memiliki hajat, hatta saling mengenal.  

Namun demikian, bagi warga masyarakat yang mengenal betul (sahabat-karib atau ada kerabat yang bertempat tinggal jauh) warga yang memiliki hajat tersebut, akan datang juga Belangar, dengan pertimbangan mungkin yang punya hajat lupa mengundangnya. Hanya saja, masyarakat kebanyakan  berangkat dari  naluri sebagai makhluq sosial yang saling peduli, kalau tak diundang merasa tak enak untuk datang Belangar.

Ada hal penting yang dapat dipetik sebagai masyarakat sosial yang berbudaya dan beragama dari Belangar yaitu : adanya rasa empati terhadap sesama, peduli dan tumbuh-berkembangnya rasa persaudaraan, dan meningkatkatnya ukhuwah islamiyah. Sehingga, tidak ada ruang untuk menolak suatu upaya kearah pelestarian tradisi Belangar ini. Dengan demikian, sesungguhnya Tradisi Belangar dalam kehidupan sosial kemasyakatan Suku Bangsa Sasak memiliki potensi sebagai perekat pemersatu. 

“Karena itu, demi generasi dan masa depan bangsa dan negeri ini maka, selaku pewaris Suku Bangsa Sasak mari dalam  satu komitmen dengan  nilai ukhuwah yang tinggi.  Kita jaga,  rawat,  dan  lestarikan tradisi Budaya Religi yang ada di sekitar kita, seperti halnya Belangar ini,” kata Suhardi, Kadus/Kaling Gubuk Motong Desa Apitaik Kecamatan Pringgabaya Lotim, Rabu (26/05/21). (Kus).

About literasi

Check Also

Pelepasan Tukik di KLU Warnai Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia diisi Wabup Lombok Utara dengan melepas Tukik Tanjung, Literasi- Dalam …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: