Rabu , Januari 27 2021
Home / Seni / Pengalaman, Fikiran dan Perasaan Ali BD dalam “Ibuku Sayang”

Pengalaman, Fikiran dan Perasaan Ali BD dalam “Ibuku Sayang”

Ali BD bersama KetuaLPPM UGR dan buku kumpulan cerpen “Ibuku Sayang”

Riyanto Rabbah

Realitas sosial dimasa lalu dan sekarang adalah mozaik-mozaik melodia dalam sastra. Jika dahulu karya sastra lahir dari tema-tema dan alur yang imajinatif, Ali BD justru mengangkat realitas sosial dimasa lalu dan sekarang dalam karya sastra dengan fakta-fakta imajinatif.

Apa yang dilihat, dialami dan dirasakan digambarkan dengan organ-organ yang jelas. Ali tidak memanipulasi tempat dan suasana, bahkan mungkin saja cerita. Ia menggambarkan itu semua dengan terang seperti bahasa ungkap seorang jurnalis mengeksplorasi kenyataan yang ada. Fenomena yang terjadi di lingkungan masyarakat Sasak dari waktu kewaktu seakan-akan fiksi dalam karya Ali.

Dalam menulis Cerpen, Ali BD mengangkat tema tidak jauh dari tempatnya berpijak, yakni Bumi Sasak. Ada nilai yang ditawarkan tentang kesasakan orang Sasak berkaitan dengan kritik sosialnya, ketidakberdayaannya, kebiasan-kebiasannya. Yang jelas, orang Sasak ditengah modernitas mengusung problem pelik yang menggunung dalam fikiran-fikiran Ali BD. Ia sangat tertarik mengangkat istilah-istilah local genius yang tidak hanya mengandung filosofi melainkan juga diksi. Hal ini menjadi sumber inspirasi untuk berbuat sekaligus mengenang cermin retak di depan matanya.

Barangkali dengan alasan  itu pula Ali BD mengusung nama ibu dalam buku ini dengan judul “Ibuku Sayang”, tempat dimana generasi ini lahir dari sosok yang sering kali terabaikan. Ibu yang membangun bangsa Sasak sehingga tercermin dalam kondisi faktual sekarang. Ali BD merangkai fenomena-fenomena ibu melalui indikasi-indikasi sosial kemasyarakatan. Ia mendalami, menyelami, menemukan selimut yang melingkupinya. Dia menjadi terbuka seperti santapan yang “indah” dan kritik sosial.

Sebagai mantan wartawan Tempo, Ali BD memiliki modal pengetahuan dan informasi yang tidak sedikit dalam mengeksplorasi fakta-fakta menjadi karya. Kadang sulit memisahkan mana kenyataan dan mana imajinasi dalam karya-karyanya. Semua kondisi dan fakta-fakta lingkungan dikemas seakan-akan tidak memiliki jarak karena tipisnya hubungan antara keduanya.

Sebagai sosok yang juga penulis produktif, tidak sulit bagi Ali BD merangkaikan pokok-pokok fikirannya dalam karya tulis, terlebih tidak ada lagi kesibukan yang padat sebagaimana ketika menjadi Bupati Lombok Timur. Disela-sela sebagai Rektor Universitas Gunung Rinjani (UGR), Ali menggali kembali pengalaman, perasaan, fikiran, dan gagagasan-gagasannya tentang sesuatu sebagai episode hidup lewat jalan sutra yang disebut karya sastra.

Pengalaman yang sangat kaya itu tidaklah mengherankan menghasilkan karya seperti cerpen dan puisi. Namun setiap cerpen yang diciptakannya memiliki hubungan dengan cerpen lain. Ia adalah rangkaian cerita yang berada dalam kemasan fikiran dan perasaan Ali BD. Karena, setiap pengalaman dan peristiwa yang dialami dan diamati memiliki hubungan kausalitas yang sangat permanen dalam cara pandangnya. Mungkin suatu saat ditemukan sosok  perempuan dalam karyanya yang memiliki hubungan dengan kondisi sosial budaya bahkan politik pada cerpen lainnya.

Berbagai  gagasan Ali BD ibarat anak kandung yang berada dalam rahim. Ia menemukan jalan keluar bersama kritik sosialnya, dan Ali begitu pandai memilah mana yang harus diurai dalam opini maupun  artikel dan mana yang menuju jalan lain yang memerlukan perenungan mendalam. Mungkin berbagai simulasi dilakukan berkenaan dengan data dan fakta pendukung. Ali BD tinggal membelokkan kearah mana ide-ide itu diurai untuk menemukan jalan keluar yang paling ideal dengan pesan-pesan yang ingin disampaikan.

Kehadirannya sebagai sosok sastrawan bukanlah dadakan. Sebelumnya Ali condong sebagai seorang pemerhati sastra karena ruang perenungan untuk terjun sebagai sastrawan masih cukup sempit. Bahkan ia sudah membaca karya Ashadi Siregar “Cintaku di Laut Biru” pada dekade sebelumnya yang turut memberinya warna walau dengan pulasan yang spontan dan lugas.

Ketika ruang dan waktu untuk berekspresi mulai terbuka, kreativitasnya seakan-akan tumpah seperti banjir bah. Barangkali dalam tahapan sekarang belum menjurus bagaimana kata-kata itu terpilih menjadi kalimat yang sastrawi, kecuali bagaimana gagasannya sampai melalui alur yang disusun untuk mencapai keterjangkauan tema yang disampaikan.

Dalam karya-karya yang ditampilkan, Ali seakan mengungkapkan bahwa dirinya begitu banyak merasa kehilangan. Kehilangan norma adat yang terdegradasi oleh kemajuan zaman ditengah sisi lemah mentalitas masyarakat dan pengaruh kapital. Hal itu tercermin dalam “Birunya Lokoq Segara”. Ali sempat menemukan sesuatu di sana namun merasa kehilangan setelahnya.

Ali misalnya, mengggambarkan sosok pemuda yang membayar denda adat karena justru ingin memperkuat adat, akan tetapi fenomena belakangan terdegradasi oleh unsur-unsur  materialistik. Dalam karya yang sama dia juga menyebut tradisi midang dimasa lalu yang menyebut tidak diizinkan setiap lelaki melakukan midang tanpa ada pihak perempuan turut hadir di sana. Terdapat pula istilah-istilah lokal yang cukup kental dalam karya ini yang menjadikan cerpen-cerpennya cukup lengkap menjadi penyampai adanya sesuatu yang hilang di lingkungan komunitas Sasak.

Dalam dunia sastra, seorang penulis biasanya melakukan pilihan kata yang kadang tidak bermakna tunggal. Ada sesuatu yang dinyatakan, ada pula peristiwa yang digambarkan. Ali lebih memilih menyampaikannya secara gamblang dengan bahasa verbal, kadang berupaya mengulang satu kata dalam satu kalimat hanya untuk menyampaikan diksi bahwa sesuatu itu kuat sebagai sebuah pesan. Namun intinya, Ali memilih menyampaikan cerita dengan pernyataan-pernyataan enteng dan begitu saja.

Hal ini tidak lepas dari kecenderunganya berada pada keadaan ketika Ali BD mulai mencermati karya sastra sejak masa lahirnya kritikus sastra HB Jassin. Pada masa itulah, perhatian Ali BD terhadap karya sastra sudah tumbuh, khususnya ketika karya-karya Khairil Anwar booming memenuhi rongga pemahaman setiap warga Indonesia tentang puisi dan satra pada umumnya.

Itulah sebabnya, model pijakan dan penyampaian pesan dalam menulis cerpen masih sangat sederhana. Bagaimana misalnya Khairil Anwar dengan gaya perjuangannya menyebut : Aku ingin hidup seribu tahun lagi!” Cara penyampaian itu mungkin terasa verbal dengan cara analisa sekarang, tetapi perjalanan sastra memang harus melintasi ruang-ruang masanya. Dan, pengaruh-pengaruh puisi maupun cerpen pada masa ketika Ali BD “jatuh cinta” nampaknya masih terpendam sekarang ditambah bahasa jurnalistik sebagai bagian pengalaman serta kepribadian Ali sendiri yang spontan. Namun, satu kelebihannya adalah semua bisa dikemukakan secara detil dan mendalam. Kadang cerpennya adalah fakta sehingga nampak seperti karya jurnalisatik sastra.

Mungkin pula cara bercerita yang dianut tidak lepas dari keinginan  agar apa yang disampaikan bisa lebih cepat dicerna. Yang jelas, setiap ungkapan yang dituangkan seperti menjamu kita tentang hal-hal yang tak terungkap dan lugu.

Kehadiran Ali dengan karya fiksinya itu bisa menjadi cermin bahwa mantan bupati, pemilik bank, justru memiliki kesempatan menuangkan hasil perenungannya tentang keadaan masyarakat. Orang yang kemudian mengenali keadaan dirinya yang sebenarnya bahwa dalam keadaan apapun harus kembali pada kesendirian untuk bercermin pada kejujuran diri dan lingkungan

Fakta empirik ketika seorang Ali mulai intens menulis  menjadi sebuah tanda bahwa penulis sastra tidak akan pernah hilang. Karena, setiap orang akan kembali ke ruang permenungan untuk mengambil nilai setiap konteks kehidupan yang dialami. Ada sesuatu yang bisa dihadirkan dan ditemukan dengan menulis sastra, yakni harmoni, kehalusan budi, sebagai etalase yang membingkai diri menyambangi kembali masa lalu.

Karya-karya yang dihadirkan Ali BD dalam kumpulan Cerpen “Ibuku Sayang” merupakan karya pertama dalam bentuk buku. Saya ingat betul ketika beliau mengatakan agar terus menulis sehingga selalu mendorong setiap orang mengasah pena, menjadikannya karya. Bagaimana pun hasilnya, kata Ali, yang jelas Anda sudah berbuat dan mencoba dan Itu lebih baik dibanding tidak berbuat sama sekali.

Menulis memberi banyak pengetahuan karena dengan menulis akan belajar membaca. Dan, karya-karya Ali BD adalah model inspirasi bagi siapa saja untuk dibaca agar yang membaca sadar pentingnya menulis sebagai media evaluasi dan pengingat sesuatu, bahkan mungkin sesuatu yang tak ingin dikenang.

About literasi

Check Also

Gelar Lomba Mewarnai Cara Gravitasi Edukasi PHBS Anak-anak KLU

Suasana lomba mewarnai untuk usia anak di KLU yang dilakukan Gravitasi pada masa pandemi Covid-19 …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: