Jumat , Desember 4 2020
Home / Dinamika / Enam Desa Wisata di KLU jadi Lokasi KKN Tematik Pariwisata STP Mataram

Enam Desa Wisata di KLU jadi Lokasi KKN Tematik Pariwisata STP Mataram

Dr.halus Mandala

MATARAM, Literasi- Sebanyak enam desa di KLU menjadi lokasi KKN Adminduk Pariwisata berkelanjutan tahun 2020. Hal ini dimaksudkan agar masing-masing desa bisa membangkitkan perekonomiannya hingga mandiri.

Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Mataram, Dr.Halus Mandala, menyebut enam desa itu masing-masing Desa Genggelang Kecamatan Gangga, Desa Senaru, Desa Bayan dan Desa Karang Bajo di Kecamatan Bayan, Desa Malaka Kecamatan Pemenang, dan Desa Medana Kecamatan Tanjung, Masing-masing desa akan digali potensinya untuk dikembangkan secara berkelanjutan sehingga potensi itu bisa membangkitkan perekonomian masyarakat setempat.

Halus menyebut Desa Genggelang yang memiliki potensi bagus seperti kebun Kakao dan pabrik coklat. Di sisi lain ada air terjun sebagai obyek wisata alam. Hal ini dirasa penting untuk dikembangkan sehingga mahasiswa KKN harus mengutamakan potensi tersebut untuk digrap lebih lanjut.

“Jika berorientasi ke obyek wisata maka arahnya ke manajemen obyek wisata seperti pengelolaan destinasi dan lanscapenya, tempat ibadah, tempat wudhu dan istirahat, ada tempat tamu untuk makan, pengelolaan tempat parkir, dan lain-lain termasuk homestay,” ujar Halus. “Tujuan itulah yang diutamakan KKN tematik pariwisata untuk menggerakkan ekonomi di desa agar Pokdarwis dan BUMDesnya berjalan,” lanjutnya.

Salah satu kegiatan KKN mahasiswa STP Mataram melakukan diskusi dengan masyarakat setempat untuk menggali potensi pariwisata yang bisa dikembangkan.

Sedangkan untuk perkebunan di Genggelang khususnya, diupayakan agar ada pabrik pengolahan coklat di sana dengan kemasan dan pemasaran yang baik. “Ke mana akan dibawa produk itu. Kalau dikelola mahasiswa dengan baik maka produk coklat itu akan bisa masuk super market,” cetus Halus

KKN  tematik itu sendiri punya waktu terbatas yakni selama 45 hari  sehingga enam desa yang digerakkan diarahkan menjadi desa binaan. Ketika mahasiswa ke luar dari sana setelah selama 45 hari mengabdikan diri maka STP Mataram tetap melakukan pendampingan sembari mengajak mahasiswa sebagai supervisor dengan arahan para dosen.

Sampai kapan desa wisata menjadi desa binaan? Kata Halus, hal itu akan berlangsung sampai desa tersebut bisa mandiri. ”Itu konsep yang sebenarnya karena  kampus ini berkesinambungan, ada penelitian dan pengembangan. Sesungguhnya ilmu yang hakiki adalah mendekatkan kampus dengan masyarakat,” paparnya.

Sebanyak enam desa yang menjadi lokasi KKN merupakan bagian dari 20 desa yang sudah disetujui Pemkab setempat sebagai desa binaan STP Mataram. Namun, untuk tahun ini hanya empat desa yang disetujui. Kontribusi Pemkab KLU di empat desa ini memfasilitasi protokol covid. Kedua memfasilitasi penginapan bagi mahasiswa. “Sekda sudah mengeluarkan surat sekaligus izin melakukan KKN,” ujarnya.

Halus mengemukakan target selama 45 hari KKN adalah penguatan kapasitas SDM sampai kepada planning ke depan.”Mana yang bisa diselesaikan selama 45 hari dan mana yang harus dilakukan pendampingan,” katanya. Sedangkan pada KKN berikutnya melanjutkan apa yang sudah dijalankan sebelumnya.

Pembina KKN STP Mataram, Muryanto, menambahkan pilihan desa wisata lokasi KKN berdasarkan MoU dengan Pemkab KLU berkenan dengan KKN Tematik. Harapannya enam desa wisata menjadi desa percontohan untuk dikembangkan ke desa-desa lain.

“Karena kami melihat mereka punya potensi namun belum dikemas dengan baik,”: katanya seraya menambahkan masalah SDM masih menjadi fokus. Sebutah ada beberapa desa dengan potensi wisata budaya maupun alam namun belum memiliki Pokdarwis.ian

About literasi

Check Also

LKIR 2020, SMAN Gerung Buat Inovasi Pengelolaan Air Limbah Jadi Air Bersih

Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) Tahun 2020 Banyumulek, Literasi – – NTB patut berbangga dengan …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: