Senin , September 28 2020
Home / Seni / Mariana, Srikandi Bersuara Merdu dari Lotim

Mariana, Srikandi Bersuara Merdu dari Lotim

Mariana

Banyak orang berbakat dan berprestasi di NTB ini, tapi luput dari perhatian publik. Di antaranya adalah Ibu Mariana (51). Perempuan asal Lombok Timur ini, selain 2 kali mengharumkan nama NTB di tingkat Nasional untuk cabang olah raga pencak silat (1986 dan 1987), juga seorang musisi yang telah menagarang 8 album lagu berbahasa Sasak.

Tak sekadar menyanyi, wanita asal Lombok Timur ini juga telah mengarang puluhan lagu Sasak yang terhimpun dalam 8 album. Ia telah berkiprah di dunia musik sejak tahun 1980-an, bersama grup legendaris Pelita Harapan Pimpinan Al Mahsyar yang sangat populer di NTB. Tetapi perjalanan waktu dan berbagai kesibukan lain telah membuat wanita yang 2 kali mengharumkan nama NTB di tingkat Nasional untuk bidang olahraga pencak silat ini seolah tenggelam dalam sunyi. “Padahal dulu dia dipuja penonton.” kata Ahmad Bages (64 tahun), salah satu musisi senior di Lombok yang sesekali masih tampil bersama Mariana untuk mengisi acara musik di lingkungan pemerintahan.

            Sebagai pengarang lagu dalam bahasa daerah (bahasa Sasak), Mariana (51 tahun) mengaku mendapat aliran darah seni dari neneknya. Neneknya yang keturunan Mandar adalah seorang penyanyi. Sehingga sejak kecil di Labuan Lombok Mariana memang sudah suka bersenandung. Ia tak menyadari jika kegemarannya bersenandung itu adalah bakat bawaan (talenta) yang kelak akan mengantarkannya menjadi pengarang lagu.

            Dalam menciptakan lirik lagu, Mariana tidak berangkat dari ruang kosong. Setiap lagu yang diciptakannya selalu memiliki latar belakang peristiwa, apakah itu peristiwa berkesan atau yang menyakitkan. Sebagai contoh, dua lagunya yang cukup popular di masanya seperti “Temadu” dan “Senggeger Suling”. Lagu “Temadu” (dimadu) berangkat dari keprihatinannya melihat fenomena kawin-cerai atau kecenderungan beristri lebih dari satu di Lombok, tanpa bermaksud mempersoalkan hukum agama yang sudah baku, Ana lebih melihat aspek sosialnya, “Sudah miskin, punya istri 2 lagi.” kritiknya. Realitas sosial dan sikap tidak realistis para pelaku poligami itulah yang mengusik batin Ana, sehingga mengarang lagu “Temadu” yang kemudian dilantunkan oleh biduan Lombok, Erni itu.

            Berbeda dengan lagu “Senggeger Suling”. Ana berkisah, saat itu di Labuan Lombok, ada seorang pria yang sangat pandai meniup seruling. Setiap dia memainkan sulingnya, orang-orang, terutama kaum perempuan akan mendatangi pria yang meniup seruling itu atau mendengarkannya secara sembunyi-sembunyi dari balik pagar rumah. Orang-orang yang tidak menyadari kekuatan seni menganggap ketertarikan orang pada suara seruling yang merdu itu karena pengaruh senggeger (pelet), padahal tak ada hubungannya dengan ilmu klenik itu. Kisah nyata di kampungnya pesisir Labuan Lombok Timur itu kemudian menginspirasi Ana untuk membuat lagu berjudul “Senggeger Suling” yang menyentuh hati itu.

Selain aktif menyanyi dan mengarang lagu, Ana juga kerap diundang menjadi juri dalam berbagai ajang musik. Tak hanya itu, ia juga sibuk di berbagai organisi, di antaranya GOW Lotim (sebagai Sekretaris Umum), DPD LASQI (Sekretaris Umum), dan IPSI (sebagai Dewan Wasit & Juri daerah). Oleh karenanya, ia sangat berterima kepada keluarga, khususnya suami tercinta Syamsul Hadi (pengawas di Dikbud Lotim) yang selalu memberikan dukungan dalam beraktivitas, “Ia tidak pernah mengekang saya. Mungkin karena dia tahu saya pesilat, sehingga bisa jaga diri…” candanya.

“pasang senggeger tereng kuning,

pentang kawat kadu paku,

pasang senggeger lekan suling,

adek becat turut aku….”

Demikian petikan lirik lagu yang dilantunkan Ana di akhir perbincangan singkat sore itu.(Jon Ardi)

About literasi

Check Also

Komidi Rudat Bonyeq : Kreasi Bentuk Teater Tradisi Sasak

Perlahan tapi pasti, teater tradisional NTB terus menggeliat membangun dirinya. Berbagai upaya dilakukan untuk mencari …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: