Sabtu , September 26 2020
Home / Obyek Wisata / Ketika Gubernur Bertandang ke Moyo

Ketika Gubernur Bertandang ke Moyo

Pulau Moyo memiliki daya pikat tersendiri bagi para wisatawan. Dibalik keanggunan alam serta gemercik air dan kicauan satwanya,  juga mampu menghadirkan beragam kisah bagi para pengunjungnya. Sensasi keindahan yang tersaji selama berlibur di pulau mungil ini akan membawa kebahagian tersendiri bagi siapapun yang pernah menghampirinya.

Pulau Moyo memiliki kawasan pantai yang sempurna, sangat ideal untuk menyaksikan keindahan sunset. Air terjun Mata Jitu yang menjadi primadona; masyarakat sekitar biasa menyebutnya “Queen Waterfall” bersembunyi di balik hutan asri dengan pepohonan hijau alami. Gemercik airnya sayup-sayup terdengar dalam kesunyian alam.

Banyak yang menyebut Pulau Moyo memiliki sensasi yang jauh beda jika dibandingkan dengan destinasi andalan pulau-pulau kecil yang ada di belahan dunia lain. Sensasi yang tak biasa itulah yang menjadikan Moyo sebagai destinasi favorit para tokoh dan selebrity kelas dunia. Sebut saja misalnya, mendiang Lady Diana yang pernah menghabiskan masa liburannya di Pulau Moyo. Tak hanya Lady Diana, artis lainnya seperti David Becham, Maria Sharapova, Mick Jagger, Edwin van der Sar termasuk artis Korea, Rain dan Kim Tae Hee, juga tak ketinggalan.

Gubernur NTB, Dr.H. Zulkieflimansyah yang akrab disapa Dr. Zul, Jum’at pagi (7/8-2020) untuk kesekian kalinya berkunjung ke Kawasan SAMOTA (Teluk Saleh, Pulau Moyo dan Tambora) guna bersilahturahmi sekaligus mendengar langsung keluh kesah dari warga  atas berbagai permasalahan yang menjadi kendala masyarakat setempat, sehingga perlu diatensi dan dirumuskan solusi penyelesainnya secara bersama.

Pesona Pulau Moyo yang meringankan langkah selebritis dunia datang ke NTB

Dengan memboyong Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala BPKAD, dan Kepala Biro Kerjasama, Gubernur Dr. Zul bergegas start pukul 09.00 Wita ( waktu setempat) dari dermaga Ai Loang, Tanjung Menangis menuju Dermaga Labuan Aji yang berada di salah satu sudut pesisir Pulau Moyo. 

Dibutuhkan waktu tempuh sekitar 45 menit untuk sampai ke pulau yang menjadi tempat liburan favorit para artis dunia ini. Tiba di Moyo sekitar pukul 09. 47,  Gubernur langsung menuju Maryam Moyo Bungalow Homestay untuk bersilaturahmi sekaligus menyerap aspirasi dari warga dan tokoh- tokoh masyarakat setempat. Hadir  saat itu, Kepala Desa Labuhan Aji, Kepala Desa Sebotok, dan Kepala Desa Bajo Medang serta warga dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya.

SAMOTA, BEBAS COVID 19

Dalam suasana santai penuh kekeluargaan, sambil menikmati kelapa muda segar, saat silaturahmi dengan Warga, Gubernur Zul tampak mendengar secara seksama beragam saran serta keluh kesah dari Warga. Sebaliknya para tokoh masyarakat pun tanpa sungkan menyampaikan saran dan keluh kesahnya secara terbuka.

Mereka menyatakan sangat bersyukur bahwa di kawasan SAMOTA, khususnya di Pulau Moyo tidak ditemukan warga yang terpapar Covid 19.  Namun bukan berarti tidak terdapat kendala. Warga mengeluhkan terbatasnya fasitas Jalan akses yang memadai yang menghubungkan konsentrasi pemukiman penduduk.

Masyarakat juga berharap adanya perhatian pemerintah untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pendidikan dan kesehatan di Pulau Moyo, terutama tenaga guru dan tenaga kesehatan di puskesmas setempat. Bahkan mengusulkan kepada Gubernur untuk bisa melengkapi fasilitas Boat Ambulance yang sudah ada selama ini, namun belum dapat beroperasi maksimal.

Tak hanya itu, warga juga mengeluhkan sulit mendapat layanan izin untuk kapal-kapal nelayan diatas 6 GT. Terhadap keluhan ini, Gubernur melalui Kepala Dinas Perhubungan NTB, L. Bayu Windia berjanji  segera mengusahakan melalui  “layanan jemput bola” berkoordinasi dengan Sahbandar Badas sebagai pemegang kewenangan.

Permasalahan lain yang diusulkan warga  diantaranya terkait mahalnya harga BBM di Pulau Medang, jaringan air untuk ternak, sinyal internet, Listrik yang belum menyala 24 jam. Juga mengusulkan pembangunan  Dermaga Labuan Aji, mengingat hingga saat ini belum tersedia “pintu masuk” yang resmi bagi warga Moyo yang hendak bepergian dengan tujuan ke “main-island” di Pulau Sumbawa.

Merespon berbagai saran dan usul dari warga tersebut, Gubernur Dr.Zul meminta jajarannya untuk segera menindaklanjuti dalam bentuk program konkrit.  Ia juga mengajak warga dan masyarakat untuk menyambut baik investasi yang masuk ke Pulau Moyo. Jika pembangunan dan roda perekonomian berjalan seimbang. Masalah kemiskinan, masalah pengangguran, masalah kesehatan, serta masalah putus sekolah bisa teratasi. Masyarakat menjadi semakin Sejahtera, terang Gubernur.

Tanpa terasa, pertemuan telah berlangsung lebih dari dua jam. Waktu Sholat Jum’at pun tiba. Gubernur ahli ekonomi itu didaulat menjadi Khotib untuk menyampaikan Khutbah Jum’at. Dalam Khutbahnya, Bang Zul memulai dengan sebuah kisah.

Di suatu desa, tinggalah seorang yang rajin beribadah, rajin berdo’a dan berbuat baik.

Tiba-tiba banjir bandang datang melanda. Ketika banjir mulai mengancam desanya, masyarakat mengatakan, “Wahai fulan, segeralah menyingkir dari tempat yang akan didatangi banjir ini!”

Ia berkata, “Tenang saja, aku selalu berdo’a dan meminta kepada Tuhan. Tuhan yang akan melindungi kita”. Air bah terus menerjang sampai setinggi dadanya.

Datang lagi orang menggunakan perahu memperingatkan, “Wahai fulan, ayo menyingkir dari tempat ini, air sudah setinggi dada, ayo kita menyingkir!”

Ia berkata, “Aku dekat dengan Tuhan, tidak perlu kalian ke sini, nanti Tuhan yang akan menolongku”. Air terus menerjang sampai mendekati atap rumahnya. Ia tetap diam, tidak memerlukan pertolongan. Katanya, ada Tuhan tempat ia memohon.

Ketika air tak surut-surut, mulai menengelamkan rumahnya, pertolongan Tuhan tak kunjung datang. Ia kemudian berdo’a, “Wahai Tuhan yang menciptakan alam dan isinya, Tuhan yang kusembah dan kuucapkan dalam doaku sehari-hari, kemana Engkau? Aku sudah demikian baik, tak pernah berhenti berdo’a, mengapa ketika banjir datang menenggelamkan ini, Engkau tidak datang menolongku?”

Tuhan menjawab, “Wahai hambaku, engkau tidak menyadari, Aku sudah menampakkan diri ketika banjir mulai menyapa tempatmu. Orang-orang mulai datang menolong, memberi peringatan agar menyingkir dari tempat itu. Tapi kau tidak menghiraukannya. Aku telah menampakkan diriku, ketika air sampai dadamu, orang-orang datang menghimbau agar engkau meninggalkan tempat itu, tapi engkau tidak menggubrisnya. Ketika air sampai menenggelamkan atap rumahmu, ada orang datang menolongmu, tapi kau juga tidak menghiraukannya”.

Dia baru sadar, menyangka bahwa hanya dengan berdo’a, akan ada kekuatan tiba-tiba yang akan menyelamatkannya. Ternyata, Tuhan menyapa dan melindunginya lewat orang-orang yang berusaha menolongnya, tapi dia tidak menggubrisnya. Tuhan punya cara tersendiri untuk menolong hambaNya yang kesusahan dan kesulitan. Sayangnya, manusia sering tak sadar, tak peka ketika pertolongan Tuhan datang.

Dalam Qur’an, Surat Al-‘Asr, Tuhan bersumpah demi Waktu bahwa manusia benar-benar berada dalam kerugian. Dalam hidupnya selalu berjumpa kekecewaan, keputusasaan, kebimbangan, gelisah, tidak bahagia, kalah, dan berada dalam situasi tidak pasti. Agar manusia tidak mengalami hal serupa, Tuhan mengatakan, Kecuali mereka yang tertancap Keimanan dan Kecintaannya pada Sang Pencipta. Mereka selalu menghadirkan Tuhan dalam setiap hembusan nafas, setiap denyutan nadinya. Memaknai kehadiran Tuhan dalam suka dan duka dalam kehidupannya.

Kadang-kadang ada orang baru dekat dengan Tuhannya ketika ditimpa musibah. Baru dekat dengan Tuhan ketika dilanda kesedihan. Baru dekat dengan Tuhan ketika tak punya apa-apa. Manusia sering lupa dengan Tuhan ketika sudah punya posisi, punya jabatan, punya harta berlimpah, lupa dengan Tuhan ketika sudah berhasil, sudah bahagia. Padahal semuanya adalah titipan Tuhan yang mestinya disyukuri.

Ketika seseorang sudah mengenal Tuhannya dengan baik, ia harus mampu menghadirkan kebaikan, melahirkan kemanfaatan buat sesamanya. Ada ahli ibadah, asyik beribadah memikirkan dirinya sendiri, di kanan kirinya ada orang sakit, ada orang lapar, tidak Ia tengok dan beri makan. Kehadirannya kurang dirasakan manfaat oleh orang-orang di sekitarnya. Menghadirkan manfaat buat sesama adalah keniscayaan. Siapa pun yang membantu keperluan saudaranya maka Tuhan akan membantu keperluannya.

Sematkan kebenaran kepada para saudara kita, distribusikan harapan dan kebaikan dengan mengajak mereka untuk memahami dan melaksanakan perintah Tuhan dengan penuh Ketaatan. Aktiflah dalam kegiatan menyampaikan kebenaran seberapapun kecilnya sumbangsih yang diberikan dengan penuh kesabaran.

Mau jadi apa pun kita, jadi Kepala Desa, jadi Bupati, Gubernur, Presiden, jadi Guru, jadi Dokter, jadi apa saja, akan punya banyak legacy, akan punya banyak manfaat, kalau kehadiran kita dirasakan oleh masyarakat. Akan sangat berarti dan bermakna kalau bisa menghadirkan kemaslahatan buat sesama. Sedikit kebaikan mungkin kecil di mata manusia tapi di mata Sang Pencipta dapat bernilai kebaikan yang sangat besar. Olehnya, tebar lebih banyak kebaikan, hadirkan lebih banyak kemaslahatan, dengan demikian, pintu langit akan terbuka lebar buat kita. ryadi

About literasi

Check Also

Soal Obyek Wisata Sembalun, Wagub Bilang Pelestarian Lingkungan Tanggung Jawab Semua Pihak

Wagub NTB ketika menerima Baiq Sri Mulya dari Komunitas Sembalun Belajar Mataram, Literasi – Tidak …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: