Selasa , Juli 7 2020
Home / Kuliner / Melongok Apitaik, Penghasil Pindang di Lotim

Melongok Apitaik, Penghasil Pindang di Lotim

SELONG, LITERASI-Dua potensi kuliner Desa Apitaik, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur (Lotim), yang bahkan sudah dikenal pada  era tahun 1960 an hingga kini yaitu ikan pindang dan kerupuk kulit (sapi dan kerbau)..

 Warga masyarakat 4 dusun (Gubuk Lekok, Gubuk Motong, Gubuk Pernek, Gubuk Pande) dari 8 dusun (Bagik Kedok Daya, Bagik Kedok Lauq, Dasan Bagik Daya, Dasan Bagik Lauq, Gubuk Motong, Gubuk Lekok, Gubuk Pernek, Gubuk Pande), banyak berprofesi sebagai pemindang/pedagang ikan.  Ikan pindang dipasarkan  mulai dari Pasar Aikmel hingga Pasar Sweta Kota Mataram. Jenis ikan yang dipindang diantaranya Ciro, Bengkawal, Cumi-cumi, dan Tongkol.

    Ada 4 orang agen ikan di Desa Apitaik masing-masing Parman, Solihin, Kusmanto, dan Soh. Mereka merupakan  agen tetap ikan pindang. Nah, calon ikan yang dipindang ini sebagian besar didatangkan dari Pulau Sumbawa yang dikemas dalam couldbox. Berbagai jenis ikan tersebut biasanya datang siang, sore, atau malam hari, bahkan jelang Subuh (dini hari)

    Salah seorang agen ikan,  Parman uyan akrab dipanggil Ameng, mengakui banyak menerima ikan dari Sape (Pulau Sumbawa), disamping juga dari wilayah pesisir setempat yang ada di Pulau Lombok (Tekalok, Tanjung Luar, Labuhan Lombok).

     “Ikan banyak kita terima dari nelayan di Pulau Sumbawa seperti Sape. Disamping itu  ikan didatangkan dari pesisir setempat seperti  Tekalok, Tanjung Luar, Labuhan Lombok, dan Ampenan,” katanya. Senada disampaikan juga oleh agen lain, Solihin dan Kusmanto. “Kalau ikan dari Tekalok biasanya memakai bak, yang langsung diambil oleh sang pemindang (beli sendiri),” katanya.

Serap Tenaga Kerja

    Setidaknya, puluhan orang terlibat dalam aktivitas di wilayah sentra pemindangan ikan, Desa Apitaik. Salah seorang buruh, Udin,  menuturkan, jumlah couldbox yang datang berada dalam kisaran 70 hingga 500 couldbox/hari.

    Bila ikan sedikit, setiap pemindang hanya dapat mengambil 1 couldbox saja, namun bila sedang melimpah dapat 2 hingga 5 couldbox.  Untuk buruh melangsir ikan yang sudah dipindang dan siap ke pasar biasanya dilakukan 5 orang. Diperkirakan jumlah tenaga yang terserap terus meningkat seiring dengan semakin dinamisnya aktivitas para pemindang/pedagang ikan.

    “Mara si neka sine, sengker limang atusan box empak tongkol. Empak sine dateng mun dek kenjelo, elek-elek,  kekelem, atau malah tengak kelem cenengka na meik isikna tindok dengan. bos (agen) badak ite jam dateng na  empak wah na sinerimek kontekan  lekan ito, Sape, Sumbawa (Seperti saat ini, hingga 500 an couldbox ikan tongkol. Ikan ini datang kalau tidak siang, sore, malam, atau bahkan tengah malam saat orang nynyak tidur. Bos ngasi tahu kita saat kedatangan ikan setelah dia menerima teleponan dari sana, Sape-Sumbawa),” tutur Udin dalam bahasa Apitaik yang kental. 

Perputaran Rupiah

    Salah seorang pedagang ikan, Marwan, Ahad (19/1/20), menyampaikan, harga ikan pindang diantara pedagang tidak akan jauh berbeda, sebab di antara pedagang sudah saling sepakat. Menurutnya,  istri para pedagang yang berjualan di seantero pasar dari ujung timur, barat, utara, dan selatan Lombok (dari pasar Apitaik, Aikmel, hingga Sweta) sudah saling menjaga stabilitas harga, sehingga tidak ada yang merasa dirugikan di antara pedagang yang satu dengan yang lain.

    “Dengan nine si bedagang lek peken niki pada saling badak langan telpon  nggih pak. Jeri, endek na gen arak beda ejian empak lek Eikmel kanca lek Peteik (Para perempuan yang berjualan di pasar  saling menginformasikan lewat telpon ya pak. Jadi, tidak akan ada perbedaan harga ikan di pasar Aikmel dengan di pasar Apitaik),” katanya dalam bahasa Apitaik.

    Menurut Marwan, satu couldbox berisi antara 35 kg s/d 40 kg. Setiap 1 kilogram berisi  antara 3,  4 hingga 5 ekor tergantung dari besar kecilnya ikan. Sedangkan harga perkilogram dengan kisaran Rp 6.000 hingga Rp 14.000.  Terkait harga per couldbox tergantung dari informasi  melalui agen setempat yang berkisar antara Rp 200.000 hingga Rp 500.000.

  “Tidak berlaku pasti ya pak, apalagi sedang melimpah seperti saat ini, sebagaimana informasi dari agen. Juga berdasarkan pengalaman kita para pedagang bahwa selama ini berlaku harga perbox masing-masing untuk Tongkol (Rp 250 ribu – Rp 500 ribu), Ciro (Rp 150 ribu – Rp 400 ribu), Cumi-cumi (Rp 600 ribu – Rp 1.200.000),” terangnya.

   Khusus untuk Cumi-cumi harga memang lebih mahal. “Sementara ini untuk Cumi-cumi percouldbox dengan kisaara Rp. 600.000 hingga R. 1.200.000,” imbuhnya.   

     Perputaran uang untuk setiap kedatangan ikan untuk  aktivitas olahan ikan pindang di Desa Apitaik diperkirakan mencapai Rp 250.000.000. Adalah sebuah kewajaran kalau  jumlah para pemindang/pedagang ikan di Desa Apitaik terus mengalami peningkatan. Semisal, setiap ada keluarga baru, maka alternatif profesi utama mereka adalah sebagai pemindang/pedagang ikan (Kus).

About literasi

Check Also

Lombok Barat, Literasi– Guna meningkatkan sekaligus lebih memperkenalkan produk kopi local khususnya dari Lombok Barat, …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: