Selasa , Desember 1 2020
Home / Obyek Wisata / Ada Penangkaran Penyu, Pantai Mapak Dulu Angker Kini jadi Primadona

Ada Penangkaran Penyu, Pantai Mapak Dulu Angker Kini jadi Primadona

MATARAM, Literasi – Kegigihan Haji Awan selaku pengelola Pantai Indah Mapak (PIM) di kawasan Lingkar Selatan Kota Mataram layak diatensi. Kawasan pantai seluas 24 are yang dulunya dikenal angker dan penuh kriminal kini berubah menjadi tempat liburan keluarga yang reccomended dan instagramable di ibukota provinsi NTB tersebut.

Bahkan, beberapa komunitas nongkrong yang beranggotakan puluhan anak muda dari luar Kota Mataram mengapresiasi pihak pengelola yang telah merubah kawasan pantai tersebut.

Sudin, misalnya. Menurut dia, sosok Haji Awan ini perlu dicontoh. Bapak tiga anak itu harus mendapatkan award dari pemerintah. Pasalnya ia telah mampu merubah perekonomian warga sekitar area pantai yang kini dikelolanya tersebut

“Lihat saja betapa pantai ini sungguh menenangkan dengan kenyamanan luar biasa, tertata baik dan cukup reccomended, padahal hanya dikelola mandiri loh tanpa sentuhan pemerintah,” ujar Sudin menjawab wartawan, Jumat (7/2). Sudin yang juga pengunjung tetap pantai tersebut mengaku betah berada di lokasi itu.

Sementara itu, pengelola Pantai Indah Mapak Mataram, Haji Awan, membenarkan jika area pantai yang mulanya kumuh angker bahkan penuh kriminal itu beberapa tahun silam disulap olehnya secara mandiri. Area pantai seluas 24 are itu kini telah berubah menjadi tujuan wisata pantai terfavorit di Kota Mataram. Puluhan lapak dan food container menjajakan ragam kuliner bisa ditemui, bahkan aneka minuman yang biasa menemani kongkow anak muda bisa didapatkan disini.

“Harga makanan dan minuman kita standarkan tidak mahal dan tidak terlalu murah, yang jelas terjangkau, spot swafoto tinggal dipilih saja, kopi sebagai minuman wajib beraroma khas kopi murni juga tidak kalah dengan kafe-kafe di tengah kota sana,” kata Joko Laut sebutan Haji Awan ini.

Sebagai lokasi eduwisata, terdapat penangkaran penyu mulai dari disediakannya tempat pengembangbiakan hingga kolam perawatan sebelum penyu dilepas kembali kehabitatnya yakni di laut tersebut. Penangkaran penyu ini atas swadaya masyarakat yang dikelola oleh Kelompok Pelestari Penyu Mapak (KP2M).

“Saya berfikir wisata pengetahuan atau edukasi sangatlah penting, karena itu kita kolaborasikan dengan yang telah tersedia di pantai ini, penyu-penyu ini kan naik bertelur ke pantai setiap bulan Juni, sayangkan kalau kita tidak manfaatkan begitu saja,” terangnya.

Sampai akhirnya pantai ini sering disebut “Pantai Penyu Mapak Indah” akhir 2019 lalu.

“Konsep yang kami kembangkan adalah eduwisata. Pengunjung bisa menikmati keindahan alam, sambil mendapat pengetahuan tentang penyu ini,” ujar Ketua KP2M, H Mahendra Irawan, saat didampingi Haji Awan.

Kawasan pantai Mapak Indah memang merupakan habitat dan lokasi bertelur penyu. Tiga jenis penyu yang kerab muncul adalah penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik.

Menurut Mahendra, dulunya masyarakat mengambil telur-telur penyu untuk dijual ke pasaran. Tapi sejak 2018 silam, setelah KP2M terbentuk, kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian satwa langka dilindungi ini semakin meningkat.

“Telur-telur penyu yang tadinya diambil untuk dijual, kemudian mulai kami kumpulkan dan tetaskan untuk ditangkar. Dalam usia yang cukup penyu-penyu dipenangkaran kemudian kami lepasliarkan kembali ke habitatnya,” kata Mahendra Irawan.

Kunikan lain pantai ini, terdapat sebuah makam yang diyakini makam tokoh berpengaruh dalam sejarah Lombok. Makam tersebut adalah makam Dende Kalijaga, istri dari Anak Agung Karang Asem.

Diceritakan, saat Kerajaan Karang Asem menyerang Lombok dan tiba di Mataram, Dende Kalijaga mencoba berdiplomasi agar Karang Asem tidak melanjutkan ekspansi ke Lombok Tengah dan Lombok Timur.

Hingga sang ratu menjadi istri dari Anak Agung untuk mencegah kerajaan tersebut melebarkan sayap. Namun, historikal kisah tersebut masih butuh penelitian lebih dalam.

Lokasi makam yang bersebelahan dengan Pantai Mapak Indah ini dikelilingi tembok dengan dua pintu masuk  yaitu gerbang selatan dan utara. Konon makam tersebut sering dikunjungi oleh orang-orang untuk minta-minta

“Bahkan beberapa pejabat juga datang tengah malam jam dua, minta-minta gitu dah,” tandas Joko Laut ini. RUL.

About literasi

Check Also

Sekawan Sejati, Tiga Desa Unggulan di Lombok Barat Menuju Desa Wisata Dunia

Aiknyet di Sekawan Sejati Lombok Barat, Literasi-Tiga desa wisata Sekawan Sejati, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: