Senin , September 28 2020
Home / Obyek Wisata / Beragam Sensasi di Tanjung Batu

Beragam Sensasi di Tanjung Batu

LOBAR, Literasi-Ekowisata Tanjung Batu,  Desa Sekotong Tengah, Kecamatan Sekootong, Kabupaten Lombok Barat, merupakan salah satu kawasan wisata mangrove yang tidak kalah menariknya untuk dikunjungi. Meski terbilang baru, kawasan wisata seluas  15 hektar ini menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Sekotong, yang kini banyak menarik kunjungan wisatawan domistik maupun mancanegara.

Selain Tanjung Batu, wisatawan juga dapat menikmati indahnya Kawasan Ekowisata Mangrove Bagek Kembar (KEMBar), obyek wisata baru yang berada di wilayah pesisir Desa Cendi Manik, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.

Kepala Desa Sekotong Tengah, Lalu Sarappudin, menyulap kawasan tersebut dalam waktu yang tidak terlalu lama. Dia mengubah kawasan mangrove tersebut menjadi Ekowisata Tanjung Batu yang menakjubkan. “Meski belum tuntas, pengunjung sudah mulai ramai datang ke tempat ini,”  ujar Sarappudin, Senin (30/12-2019), seraya menambahkan dibutuhkan kerja keras untuk terus mempercantik kawasan pesisir tersebut sekaligus untuk melestarikan kawasan hutan manggrove yang multi fungsi itu.

“Rencana tahap kedua kami pemerintah desa akan membangun warung terapung yang mengelilingi kawasan ekowisata ini. Warung makan di atas laut dengan konsep klasik dipadukan dengan selera milenial. Warung yang terbuat dari kayu dengan kursi bean bag warna-warni yang akan menjadi spot selfie yang menakjubkan,” tuturnya.

Latar laut biru yang tenang dengan rimbunan pepohonan hijau mangrove, kata Saparudin akan menyajikan sensasi tersendiri bagi pengunjung. Terlebih di tempat itu, para pengunjung bisa menikmati hidangan kuliner seafood hasil tangkapan para nelayan Sekotong.Juga dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung seperti jembatan lintasan membelah hutan bakau yang merupakan hasil tangan kreatif pemuda setempat. Jembatan kayu itu di cat warna warni sehingga menambah keanggunan dan indahnya lokasi ini. Ada juga menara atau gardu pandang yang memanjakan mata pengunjung, karena pengunjung bisa melihat pemandangan hutan mangrove dan pantai dari atas ketinggian belasan meter serta aula pertemuan yang dapat menampung banyak orang.

Lokasinya terbilang strategis karena berada persis di pinggir jalan dekat dengan akses jalan besar Sekotong yang menghubungkan langsung ke kawasan wisata di daerah Sekotong Barat- Mekaki Pelanggan hingga tempat selancar  desert points di Bangko-bangko Desa Batu Putih.

Pengunjung yang ingin ke lokasi ini tidak butuh waktu lama perjalanan dari simpang tiga Sekotong. Melewati jalan hotmix menunju arah barat, pengunjung dengan mudah melihat lokasi wisata ini persis di tikungan jalan utama. Tiba di lokasi wisata ini, pengunjung akan disambut tulisan selamat datang di lokasi ekowisata Tanjung Bantu.

Sebelum masuk di lokasi ini terpasang larangan, dimana pengunjung tidak membuang sampah sembarangan, merusak atau menebang pohon di hutan bakau, menangkap binatang atau satwa di sekitar kawasan itu serta dilarang berbuat hal yang melanggar hukum, seperti mesum, memakai barang terlarang dan minuman keras.

Ditambah lagi lampu hias di sepanjang jalur lintasan, sehingga indah dipandang mata pada waktu malam hari. Di beberapa titik disiapkan spot selfie dan tempat duduk bagi pengunjung  yang mau menghabiskan waktu di hutan mangrove tersebut.

Sarappudin mengatakan pembangunan penataan kawasan wisata mangrove, ia mulai sekitar bulan November lalu. Ekowisa mangrove ini didanai murni dari dana desa (DD). Dalam penataannya, pihak desa melibatkan masyarakat khususnya pemuda setempat. Sejumlah fasilitas dibangun di lokasi ini, seperti jembatan lintasan sepanjang 150 meter dengan lebar 1,5 meter. Ditambah lagi bangunan menara setinggi 13 meter.

“Tahun 2020 kita akan tambah jembatan lintasan 120 meter dilengkapi dengan fasilitas lain seperti berugak, aula dan untuk lesehannya kemudian tentunya dekorasi untuk menambah keindahannya,”jelas Kades Sekotong Tengah ini.

Dijelaskannya,  dibangunnya kawasannya wisata mangrove ini, mengingat di wilayah Sekotong sangat jarang hutan mangrove yang terbentuk secara alamiah sehingga dapat menjadi daya tarik wisata tersendiri. Ia berharap ekonomi warga dapat meningkat. Baik dari sektor perdagangan, jasa dan lain-lain. “Sebenarnya tinggal mempercantik dengan aksesoris dan fasilitas penunjang saja. Rencananya kami akan resmikan  setelah selesai bangunan awal pada 2020,” pungkasnya. (jm)

About literasi

Check Also

Soal Obyek Wisata Sembalun, Wagub Bilang Pelestarian Lingkungan Tanggung Jawab Semua Pihak

Wagub NTB ketika menerima Baiq Sri Mulya dari Komunitas Sembalun Belajar Mataram, Literasi – Tidak …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: