Selasa , November 12 2019
Home / Kajian / Mengurai Benang Kusut Desa Melalui Desa Wisata

Mengurai Benang Kusut Desa Melalui Desa Wisata

Dengan latar belakang pegunungan, keluarga itu secara bergiliran berdiri di atas rangkaian bambu yang disusun menyerupai panggung di sebuah lereng. Ada hal yang luar biasa dirasakan. Ibu dan anak-anaknya berekspresi ria, merasakan sensasi sejak jempretan pertama di atas perbukitan Sembalun Lawang. “Lagi… lagi…!” teriak Rama yang ditimpali kata serupa oleh kakaknya ditengah cuaca dingin.

Bayangan itulah yang terekam hingga sekarang. Ketika terjadi gempa bumi, kenangan sempat mengendap namun kemudian tumbuh lagi setelah pemuliah terjadi.

    “Aku rindu ke Sembalun lagi,” cetus Rama sedikit menggerutu. Siswa SD itu mengingat penginapan rumah panggung dari kayu. Menyantap makanan di atas berugak yang berada di bawah rumah panggung itu. Ternyata, semua dirasakan sangat memesona. Terlebih ketika memetik buah strowbery dan membeli seikat bawang putih nunggal. Pun bercakap dengan petani bawang tentang kegiatannya sehari-hari. Yang tak kalah menarik adalah sensasi suhu dingin Sembalun Lawang. Hari indah itu ingin diulangi lagi dilain waktu ketika musim liburan tiba.

     Sembalun Lawang hanya salah satu desa wisata di Kabupaten Lombok Timur, NTB, yang cukup popular di mata wisatawan. Totalnya terdapat 99 desa wisata di seluruh NTB. Jika kemudian desa yang terpilih sejumlah itu, sudah pasti desa-desa lainnya memiliki sensasi yang menarik untuk dikunjungi.

     Setidaknya, sebutan wisata desa sudah mulai popular. Dengan kelebihannya masing-masing, desa kini tidak hanya bisa “menjual” produk  kerajinan tangannya melainkan pesona alam, seni budaya dan cara hidup masyarakatnya.

     Wakil Gubernur NTB, Hj.Sitti Rohmi Djalillah  dalam  Rakornas Pariwisata  III tahun 2019 yang berlangsung dari 10-11 September 2019, mengemukakan desa wisata dibagi kedalam 6 kategori yaitu 9 Desa Wisata Ekraf, 14 Desa Wisata Budaya, 24 Desa Wisata Alam, 18 Desa Wisata Agro, dan 34 Desa Wisata Bahari.

    Beranjak dari katagori desa wisata tersebut nampaklah keberagaman potensi wisata di NTB. Dengan keberagaman tersebut wisatawan bisa menentukan pilihan-pilihan yang berbeda jika suatu saat ingin bertamasya. Apalagi muncul trend baru wisatawan manca negara sudah mulai asyik menikmati kehidupan di desa.

     Sebutlah paket wisata ‘Coffee Siong Kete’ di Kembang Kuning. Paket wisata menyangrai biji kopi melalui wajan tanah liat yang oleh masyarakat Lombok dikenal dengan istilah “kete” itu memiliki daya tarik bagi wisatawan. Sehingga, mereka sering mengikuti proses menyangrai kopi secara tradisional hingga menyuguhkan lalu menikmatinya.

     Perubahan orientasi wisata membuat  sektor kepariwisataan, oleh penduduk setempat,  berangsur-angsur  tidak lagi dimaknai dengan gelagat meniru tabiat wisatawan melainkan menunjukkan praktik baik yang dilakukan masyarakat setempat.

    “Malahan wisatawan banyak yang memilih tinggal di dalam kampung. Ada banyak yang saya lihat mereka tinggal di Cemara (Kota Mataram) kemudian berjalan kaki, padahal ada banyak hotel yang bagus di dalam kota,” kata dosen Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Mataram, Dr.Made Suyasa.

     Disisi lain terdapat perbedaan yang cukup signifikan dalam konteks cara pandang masyarakat terhadap pariwisata. Dahulu, warga terutama sejumlah anak muda senantiasa mengikuti gerak-gerik wisatawan pinggiran seperti mentato tubuhnya, melubangi telinga dan berating-anting, menggunakan pakaian yang sengaja disobek, urakan, dan terkesan kotor. Kini wisatawan justru ingin mengenakan kebaya maupun pakaian adat. Mereka pun ingin memainkan berbagai jenis alat musik tradisional atau ikut karnaval.

     Pemahaman bahwa wisatawan berkunjung ke NTB untuk melihat sesuatu yang berbeda dari dirinya mulai mengemuka. Para pemandu wisata memiliki kesadaran mengajak para wisatawan mengikuti kehidupan masyarakat. Sebuah gambaran akan hadirnya kegemilangan masyarakat pedesaan di mata dunia.

Belajar Mengenali Desa

    Dampak yang ditimbulkan dari desa wisata adalah masyarakat desa setempat mulai belajar mengenali dirinya untuk menggali potensi alam, kearifan budaya yang meliputi kesenian dan gastronomi.  Selama ini masyarakat pedesaan kadang tidak punya wadah untuk menyuarakankeberadaannya.

    “Dengan adanya desa wisata potensi-potensi itu tergali ke permukaan,” kata Suyasa.

    Tidak sedikit wisatawanyang tertarik mengggali potensi gastronomi, yaitu segala sesuatu yang berhubungan dengan kenikmatan dari makan dan minuman yang dimiliki masyarakat, termasuk hal ikhwal makanan tersebut; apa bahan yang digunakan dan bagaimana proses dan cara pembuatannya.

    Fakta wisatawan mulai senang melakukan wisata desa diakui masyarakat Desa Lantan di Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah. Karena itulah dengan beragam potensi yang dimiliki, terutama keberadaan air terjun yang mencapai 9 jumahnya, Pemdes setempat berkemas menyambut kedatangan wisatawan. Pemdes menyadari potensi  panorama alam di desa tersebut cukup memikat wisatawan yang bagi warganya adalah hal biasa.

    Menurut pengurus Pokdarwis Desa Lantan, Ardi, desa ini menjadisalah satu jalur yang biasa dilalui dalam pendakian ke Gunung Rinjani. Setiap bulan  selalu ada wisatawan yang secara berombongan datang ke Lantan. Akibatnya, banyak potensi lain yang juga bangkit dan diminati wisatawan seperti Taman Maiq Meres, Gua Kelelawar dan wisata arung jeram. Sektor pertanian pun menjadi perhatian mengingat wisatawan suka berlama-lama mengamati persawahan. 

    Sementara itu dukungan terhadap sektor kepariwisataan sudah datang dari segenap komponen masyarakat. Mereka tidak lagi gagu menyambut tamu. Malahan sejumlah pemuda dari sana merupakan pemandu wisata di sejumlah obyek wisata lain di Lombok.

   “Lewat guide yang berasal dari Lantan inilah kadang wisatawan diajak juga ke Lantan,” katanya. Pihaknya pun memanfaatkan media sosial untuk “memamerkan” keunggulan Desa Lantan.

    Manfaat yang ditimbulkan adalah keamanan di Desa Lantan cukup terjamin terkhusus bagi wisatawan. Dahulu, kata Ardi, warga desa senantiasa memagari rumahnya karena khawatir kecurian. Kini, rumah-rumah penduduk justru sangat terbuka menyusul angka  kriminalitas yang kecil. Itulah sebabnya, wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri tidak segan-segan bermalam di Desa Lantan selama beberapa hari.

    “Mereka kadang tidur di rumah penduduk atau penginapan,” ujarnya. Karena terbiasa dengan wisatawan, warga Lantan pun memahami beberapa keterbatasan dalam menyambut mereka, diantaranya tempat istirahat sepanjang perjalanan wisatawan mendaki Rinjani. Pemdes Lantan kemudian mencoba menganggarkan pembelian berugaq sebagai tempat istirahat.

Perlunya Kemitraan

    Kekayaan potensi desa memerlukan penggalian secara terus menerus dan berkesinambungan. Jika desa itu sendiri melakukannya, kemungkin tidak cukup tergali ke permukaan setiap kekayaan yang sebenarnya bisa menjadi modal.  Apa yang sesungguhnya yang mereka miliki, kadang justru diketahui oleh orang lain. Oleh sebab itu, desa harus membuka diri melakukan kemitraan dengan pihak lain seperti perguruan tinggi agar akses-akses yang diperlukan bisa meluas.

    Menurut Suyasa, dana desa sebetulnya bisa dimanfaatkan untuk menggali potensi yang dimiliki agar memiliki nilai jual. Dalam kaitan ini perguruan tinggi bisa diajak bekerjasama melakukan pendampingan. Sebutlah dalam KKN Tematik Pariwisata.  Para mahasiswa dalam kaitan ini bisa melakukan kajian terkait potensi desa bersangkutan dengan mengedukasi masyarakat. Artinya, pengembangan desa wisata bisa dilakukan dengan KKN Tematik. Pemerintah dalam hal ini memberikan dukungan agar perguruan tinggi mengarahkan KKN ke desa-desa wisata bersangkutan serta membekali mahasiswa berkenaan dengan pengembangan desa wisata.

     Tidak sedikit popularitas suatu desa justru terjadi  seusai mahasiswa melakukan KKN. Sebut misalnya Sembalun, popularitasnya tidak lepas dari kehadiran mahasiswa di sana, baik yang berasal dari perguruan tinggi di NTB maupun dari Jawa.

     Suyasa mengemukakan untuk mengembangkan desa wisata tidak cukup dengan satu periode KKN, melainkan terus menerus dengan melakukan analisa potensi sampai desa wisata bersangkutan bisa menggali sekaligus “menjual” apa yang dimilikinya dengan perangkat teknologi. “Kalau tidak ada analisa potensi maka desa itu tidak akan bisa dikembangkan untuk peningkatan ekonomi masyarakat,” cetus Ketua Pusat Kajian Pariwisata STP Mataram itu.

    Setidaknya, kehadiran mahasiswa melakukan pendampingan bisa mempopulerkan desa bersangkutan di satu sisi, disisi lain memberikan edukasi positif dalam menggerakkan potensi setempat dengan berbagai inovasi. Ketika dengan diri sendiri sulit bergerak mengembangkan desa wisata maka dengan pihak lain akan lebih leluasa mengurai benang kusut  menjadi kekuatan bersama. riyanto rabbah

 

About literasi

Check Also

Isu Sesar Selatan Bukan untuk Gagalkan MotoGP

MATARAM, Literasi-Isu sesar selatan yang berpotensi menimbulkan gempa 9 SR dan tsunami setinggi 20 meter …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: