Kamis , Oktober 1 2020
Home / Seni / “Belanjakan”, Dulu Dikejar Polisi, Kini Disenangi Wisatawan

“Belanjakan”, Dulu Dikejar Polisi, Kini Disenangi Wisatawan

SELONG, Literasi-Seni bela diri dan olah raga Lombok, “Belanjakan” kini sudah menjadi konsumsi wisatawan. UFC-nya Lombok inipun sudah sejak tiga tahun belakangan dikompetisikan di Masbagik, Kabupaten Lombok Timur. Sebutlah PADA 27-31 Agustus 2019, olah raga ini digelar dan ramai dikunjungi penonton, bahkan dari kalangan turis manca negara.

Pada ajang yang berlangsung di Masbagik itu misalnya, seorang turis asing ikut serta sebagai petarung. Kendati lawannya yang berasal dari Lombok nampak lebih agresif menendang dari berbagai sisi, diakhir pertarungan sang turis berhasil melumpuhkan lawannya dengan teknik kuncian.

    “Itu satu peserta turis namun yang lain nonton,” kata Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Kabupaten Lombok Timur, Ahmad Roji, Sabtu (31/8), disela-sela seminar nasional Pariwisata Berkelanjutan di STP Mataram. Kehadiran guide turut serta membantu promosi pariwisata di Lombok Timur.

     Menurut Roji, pertandingan itu digelar setahun sekali pada bulan Agustus. Soal penghargaan bagi pemenang yang digunakan berupa sawer oleh masyarakat. Pasalnya, petarungnya sendiri adalah dari penonton itu sendiri. Mereka dihadirkan oleh juri di empat sudut. Tinggal menunggu siapa yang mau maju untuk dipertarungkan dengan yang lain dari sudut yang berbeda.

     “Belanjakan ini menarik karena beda,” kata Roji seraya menyebut ada standar keselamatan yang disepakati bersama, dimana sebelum bertarung kuku jari peserta dipotong terlebih dahulu untuk menghindari luka akibat cakaran.

     Ia mengatakan “Belanjakan” akan masuk Calender of Event Pariwisata Lombok Timur. Pada acara yang berlangsung di Lapangan Masbagik itu, misalnya, hadir Wagub NTB yang diwakili Kepala BPBD NTB, H.Ahsanul Khalik, untuk membukanya.

    “Dulu kesenian tradisional ini jika berlangsung  dikejar-kejar polisi. Kemudian mulai dipersilahkan dengan terus meningkatkan kualitas pertandingan,” katanya. Pertandingan terdiri dari tiga ronde dengan satu ronde masing-masing 5 menit. “Ada wasit atau pekembar. Ada iringan musik gendang beleq,” cetusnya.

     Berdasarkan keterangan, pada tahun 80 an belanjakan dimainkan oleh anak-anak Lombok diatas tumpukan jerami yang berada di tengah sawah. Hal itu biasa dilakukan pada saat para petani bergembiran melakukan panen padi. Biasanya waktu yang digunakan adalah sore hari. Pun pada malam hari pada saat cahaya bulan terang.

    Pada masa lalu, aturan yang diterapkan cukup ketat seperti tidak boleh menggunakan tangan untuk menyerang  lawan melainkan cukup menggunakan kaki untuk menjatuhkan lawan. Jika lawan terjatuh maka dianggap sudah kalah dan harus diganti oleh tim lawan lainnya. Oleh sebab itu dalam permainan ini sangat dibutuhkan keseimbangan yang kuat untuk bertahan jika ingin menang.

    Seiring perkembangan zaman, belanjakan digelar masyarakat untuk menarik perhatian wisatawan. Dalam aturannya tetap tidak boleh menggunakan tangan untuk memukul sebagai ciri khas khas dari permainan ini. Tidak mengherankan, seiring kemajuan sektor pariwisata, turis-turis pun ikut serta dalam pertarungan. Mereka memeroleh kegembiraan walau tidak menerima hadiah besar jika menang. ian

Permainan mulai dilestarikan oleh pemerintah menjadi salah satu tradisi olahraga khas Lombok selain presean yang digelar setiap bulan Agustus pada saat penyambutan datangnya hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Loakasi pun hanya ada di Kecamatan Masbagik Kabupaten Lombok Timur.ian

About literasi

Check Also

Bidari Hotel Support Oky Maynaldi, Musisi Baru dari Lombok Tengah

Oky Maynald MATARAM, Literasi – Nama Oky Maynaldi mungkin belum terlalu populer. Namun kepiawaian dan …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: