Minggu , November 28 2021
Home / Obyek Wisata / Pada Puncak Pujawali, GubernurAjak Umat Hindu Rawat Tambora

Pada Puncak Pujawali, GubernurAjak Umat Hindu Rawat Tambora

BIMA, Literasi-Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah menitipkan pesan kepada seluruh masyarakat yang ada di lingkar Taman Naional Gunung Tambora (Bima, Dompu dan Sumbawa) agar senantiasa merawat kelestarian hutan dan lingkungan hidup di kawasan yang telah ditetapkan oleh Unesco sebagai cagar biosfer dunia itu. Sehingga kelak kembali dapat menjadi buah bibir dunia karena kehebatan dan prestasinya dibidang lingkungan, sekaligus menebar atmosfir kesejukan dan contoh baik bagi dunia.
Khusus kepada umat Hindu yang sedang melaksanakan ritual keagamaan Pujawali di Pura Agung Udaya Parwata Gunung Tambora, Gubernur yang akrab disapa Doktor Zul juga meminta doa dan dukungan. Semoga senantiasa dirakhmati kekuatan, kesehatan serta bimbingan dan perlindungan oleh Tuhan Yang Maha Esa, sehingga dalam memimpin NTB bersama Wakil Gubernur Umi Rohmi dan jajarannya mampu meraih sukses mewujudkan NTB Gemilang.

Plt. Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Provinsi NTB, Gde Putu Aryadi menyampaikan pesan Doktor Zul itu saat mewakili Gubernur pada puncak acara Pujawali di Pura Agung Udaya Parwata Tambora Desa Oi Bura di dekat kawasan perkebunan kopi Tambora, Sabtu (14/9/2019). Hadir pada kesempatan tersebut Ketua FKUB Kabupaten Dompu, Drs. M. Dahlan, Pengurus Badan Perdamaian dunia, Bunda Hj. Helena, Ketua PHDI NTB, Gde Madra, Ketua PHDI Kabupaten/Kota se-Pulau Sumbawa, sejumlah Pejabat pemerintahan dari Kabupaten Bima dan Dompu, Polsek dan Danramil serta ribuan Ummat Hindu yang mengikuti persembahyangan bersama.

Dalam sambutannya, Gubernur mengingatkan bahwa lebih dari 3,5 abad yang lampau, yakni pada tanggal 19 April 1815 gunung Tambora pernah mengirimkan pesan dan pelajaran penting kepada ummat manusia di dunia. Letusannya yang maha dahsyat, bahkan sempat menghentikan perang dari pasukan Napoleon Bonaparta dan setahun tanpa peralihan musim di eropa karena gelapnya dunia tertutup awan letusan Tambora. Dengan peristiwa itu, kata Aryadi seolah tambora ingin bercerita dan menunjukkan kepada dunia, bahwa diujung Timur NTB di Tambora ini ternyata ada kekuatan Maha besar yang tidak hanya mampu mengubah peradaban masyarakat dunia. Tetapi juga dapat menjadikannya seperti apapun sesuai kehendak Illahi, ujar Aryadi menyampaikan pesan gubernur.

Kini Tambora telah ditetapkan sebagai cagar biosper dunia, yang meliputi SAMOTA, tegasnya. Yakni Kawasan Teluk Saleh, Taman Wisata Alam Laut Pulau Moyo, Kawasan Perburuan Pulau Moyo, Taman Nasional Gunung Tambora termasuk taman Wisata Laut Pulau Satonda dan area sekitarnya yang menyimpan beragam potensi dan kekayaan bagi masa depan rakyat NTB yang gemilang.
Kekayaan tersebut, kata Aryadi yang dipesan oleh gubernur untuk disampaikan agar dijaga, dirawat dan dikelola dengan sebaik-baiknya tanpa menimbulkan kerusakan. Sehingga kelak akan kembali mengguncang dunia, mengabarkan tentang kehebatan dan prestasinya. Juga kelestarian alamnya yang menebarkan atmosfir kesejukan serta aura kedamaian yang dirasakan semua pihak dan dinikmati oleh generasi-generasi selanjutnya.

Ia mengajak ummat Hindu di pulau Sumbawa untuk benar-benar mengamalkan ajaran tri hita karana, yakni hidup dengan cara selalu menjaga hubungan harmonis dengan semesta alam dan lingkungan, tanpa pernah melakukan perusakan. Aryadi juga mengingatkan pentingnya terus merekatkan toleransi beragama yang telah berlangsung sangat baik di Dompu- Tambora khususnya dan di Pulau Sumbawa ini umumnya. “Seperti disampaikan ketua FKUB tadi, saya 18 tahun bertugas di sini sudah merasakan, sungguh dou Mbojo dan masyarakat Samawa, sangat bersahabat, baik dan penuh toleransi”, ujarnya. Maka jaga itu semua dan sesuaikan diri melalui ajaran desa, kala, patra, pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua FKUB Dompu Drs. M. Dahlan menyampaikan bahwa kehidupan toleransi beragama di wilayahnya sangatlah baik. Tidak ada konflik-konflik berbau sara yang muncul dari masyarakat, ujarnya. Hanya saja ia mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai isu-isu dan hoax berbau sara yang disebar lewat media sosial. “Isu-isu hoax itu yang membuat ummat kita menjadi kurang harmonis”, tegasnya. Oleh karena itu, M.Dahlan mengajak semua pemuka agama dan ummat untuk tidak percaya begitu saja bila membaca atau menerima suatu informasi lewat media sosial. Tetapi mari kita perbanyak pertemuan, diskusi dan silaturahmi untuk merawat hubungan toleransi yang sudah baik ini, ajaknya.

Hal senada disampaikan Ketua PHDI NTB, Gde Mandra. Ia berharap kepada ummatnya di Tambora untuk senantiasa merawat lingkungan dengan baik, dan membina hubungan toleransi dengan umat-umat lainnya.
Kepada Ketua FKUB dan Para Pejabat Pemerintah Kabupaten/Kota se-Pulau Sumbawa, Mandra menitip ummat hindu kiranya dapat dibina, diayomi dan dibimbing. “Bila ada kekeliruan yang dilakukan ummat kami, mohon kiranya dapat dibina, ditegur dan dibimbing. Jika ada hal yang sulit diatasi atau dibimbing, kiranya dapat disampaikan kepada untuk kami lakukan pembinaan”, ujarnya seraya menyampaikan terima kasih kepada FKUB dan Pemerintah Daerah di Bima dan Dompu atas pembinaan dan kerja sama yang telah terjalin baik selama ini.

Ketua Panitya dan Jro Mangku Tambora mewakili ummat Hindu yang ada di Bima, Dompu, Sumbawa menitip aspirasi, keluh kesah dan harapan untuk disampaikan Bapak Gubernur NTB, Bapak Dr.H. Zulkieflimansyah. Yakni mohon kiranya akses jalan sepanjang sekitar 4 Km yang kondisinya rusak berat, dapat segera di perbaiki atau diaspal. Aryadi dihadapan para tokoh dan sulinggih berjanji akan menyampaikan hal tersebut kepada Gubernur Doktor Zulkieflimansyah. (hm, ay)

About literasi

Check Also

Dimusim Pandemi, Sesaot Tetap jadi Magnet bagi Wisatawan

Sesaot Lobar, Literasi-Kabupaten Lombok Barat dikenal memiliki potensi yang cukup lengkap di sektor kepariwisataan. Potensinya …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: