Kamis , Februari 25 2021
Home / Budaya / Saka Buffalo Race Series di Festival Moyo, Menambah Waktu Tinggal Wisatawan

Saka Buffalo Race Series di Festival Moyo, Menambah Waktu Tinggal Wisatawan

SUMBAWA, Literasi-Barapan Kebo Sumbawa atau Saka Buffalo Race Series Championship 2019 yang ditampilkan pada Festival Moyo 2019 merupakan event yang paling menarik dan diminati para wisatawan mancanegara.

Digelar di Sirkuit Sumer Payung, Karang Dima, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), Minggu (15/9-2019), banyak wisatawan dan komunitas yachter dari berbagai negara yang masuk dari Australia itu, menambah waktu tinggal (length of stay) menjadi 6 hari dari rencana awal 4 hari. Mereka membanjiri event Saka Buffale Race tersebut yang menampilkan kombinasi story mistis dan sport science.

“Banyak yachter yang bertahan di perairan Teluk Saleh karena tertarik barapan kerbau”, ungkap Ketua Panitia Saka Buffalo Race Series World Championship 2019 Hendri Sumarto seraya menjelaskan, konsep event seperti ini hanya ada di Sumbawa. “Saka Buffalo Race Series membuat 90 yachter asing bertahan di sana”, ujarnya.

Padahal mereka awalnya berniat akan ke Nias, akhirnya memilih tinggal lebih lama di sini. Mereka sangat tertarik dengan Saka Buffalo Race Series sehingga meminta ijin tinggal lebih lama. “Jumlah mereka yang bergabung akan terus bertambah,” ungkap Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Sumbawa, Iskandar, Minggu (15/9).

Ada beragam aktivitas yang dijalankannya. Beberapa wisman bahkan ikut merasakan sensasi memacu kerbau di track berlumpur. Mereka menggunakan kerbau pacu milik peserta. Sebelumnya, para wisman diberi tips dasar cara mengendalikan kerbau. Sebab, event ini menilai akurasi dan kecepatan kerbau dalam membidik sasaran berupa Saka atau tiang khusus.

Hasilnya, para wisman mampu bertahan di atas kareng pada track sepanjang 99 meter. Kareng adalah tempat berdiri para joki kala memacu kerbau. Beberapa sukses membidik target saka. Namun, ada juga yang menjatuhkan diri sesaat kerbau mau menabrak saka.

Ketua Panitia Saka Buffalo Race Series World Championship 2019, Hendri Sumarto, menjelaskan, konsep event seperti ini hanya ada di Sumbawa.

“Saka Buffalo Race Series selalu ditunggu publik. Sebab, sangat unik dan menarik. Event ini melibatkan seluruh elemen masyarakat. Selain Sumbawa, peserta juga datang dari Sumbawa Barat. Apalagi, konsep event ini kami dorong untuk level dunia. Format event seperti ini baru ada di Sumbawa. Selain cepat, di sini juga ada akurasi,” jelas Hendri.

Kejuaraan ini diikuti 32 tim. Mereka adalah tim terbaik 20 besar dari tingkat desa. Total ada 160 pasang kerbau yang dilibatkan. Mereka bertarung pada 3 kelas berbeda, seperti Saka 3 (kerbau Kecil), Saka 2 (Kerbau Besar), dan Saka 1. Saka 1 jadi ajang pertarungan tim terbaik dari Saka 3 dan 2. Peserta harus mengumpulkan point terbanyak dari kecepatan dan akurasi.

Untuk akurasi, parameternya adalah karing di antara 2 kerbau yang menambrak saka. Bila karing bisa menabrak saka secara akurat maka point yang diraih 100. Untuk tim tercepat mendapat angka 160. Dan secara khusus, saka menjadi konseptual hubungan vertikal manusia. Sebab, para joki dituntut untuk membuat alur laju kerbau lurus hingga menabrak saka.

“Antusiasme wisman sangat luar biasa. Mereka mau menunggu untuk bisa menikmati keunikan event ini. Secara umum, Saka Buffalo Race Series merupakan permainan rakyat tradisional. Sport budaya lokal. Tapi, kemasannya menarik dengan konsep series. Sekarang tinggal lokasi eventnya didekatkan dengan bersandarnya yacht,” tegas Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang kebudayaan Taufik Rahzen.hm

About literasi

Check Also

Dandim 1628/KSB Ajak Warga Majukan Kesenian Daerah Adat Sumbawa

Lomba kesenian adat Ratob Rebana dan Bagontong dalam rangka menyambut HUT ke-75 TNI MATARAM, Literasi …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: