Jumat , Oktober 30 2020
Home / Obyek Wisata / Lebaran Topat, Masyarakat Sasak Serbu Makam Loang Baloq

Lebaran Topat, Masyarakat Sasak Serbu Makam Loang Baloq

MATARAM, Literasi – Masyarakat Suku Sasak yang beragama islam di Pulau Lombok, merayakan Lebaran Ketupat atau Lebaran Topat sebagai perayaan setelah berpuasa sunah enam hari beruturut-turut di awal bulan Syawal pada Rabu (12/6). Momen itu biasanya digunakan untuk berlibur bersama keluarga ke sejumlah obyek wisata pantai di wilayah Kota Mataram, Lombok Barat dan KLU.

Meski demikian,  sebelum berlibur masyarakat akan datang beziarah ke sejumlah makam keramat di Pulau Lombok. Diantaranya, makam Loang Baloq dan Bintaro di Kota Mataram.

Di makam Loang Baloq disebutkan yang dimakamkan adalah Syekh Gaos Abdul Razak yang merupakan tokoh agama terbesar di Pulau Lombok yang datang dari Timur Tengah. Makam tersebut berlokasi di pinggir Pantai Mapak Kecamatan Sekarbela.

Sedangkan, di Makam Bintaro adalah Syekh Saleh Sungkar. Makam Syekh Saleh Sungkar ini terkenal dengan sebutan Makam Bintaro karena berada di pinggir pantai kawasan Bintaro Kecamatan Ampenan. Sehingga dua makam tersebut dikeramatkan oleh sebagian warga di Pulau Lombok dan selalu ramai dikunjungi peziarah, terutama pada Lebaran Topat (ketupat) dan musim haji.

Pantauan wartawan, sejak pagi sekitar pukul 07.00 Wita, jalan-jalan menuju kawasan Loang Baloq  di Kecamatan Sekarbela  dan kawasan Makam Bintaro di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram sudah mendapat penjagaan petugas kepolisian.

Ratusan orang sudah berjubel di depan pintu masuk makam untuk antre. Puluhan polisi pun tampak berjaga di sekitar lokasi makam yang berdekatan dengan Pantai Loang Baloq.

Beberapa pedagang tampak menjajakan dagangannya berupa topi dan juga kembang 7 rupanya. Saat itu terik matahari tampak sekuat tenaga menyinari Kota Mataram. Namun semangat untuk merayakan Lebaran Topat membuat masyarakat tak menghiraukan panas matahari.

“Ayo topinya bu, mas. Topi buat gak panas kepala nih. Bunganya juga buat di makam. Topi Rp 15 ribu aja. Bunganya Rp 5 ribu aja. Dibeli yuk bu, mas,” ujar Asri, salah satu pedagang di pintu masuk makam.

Di Makam Loang Baloq ini terdapat beberapa makam seperti makam Maulana Syeikh Abdurrazak atau masyarakat Lombok lebih mengenal dengan nama Sayyid Tohri. Kemudian terdapat pula makam Datuk Laut dan makam anak yatim.

Hampir setiap makam dipenuhi oleh peziarah yang sudah menyiapkan bunga 7 rupa untuk ditabur di atas makam. Selain itu botol air minum pun disiapkan untuk diusapkan ke muka setelah berdoa di makam.

“Berharap berkah menurut kepercayaan sini. Jadi biasanya air itu didoakan sambil mendoakan ulama di kuburannya. Setelah berdoa terus airnya diusap-usap ke muka dan tangan. Kalau yang punya anak biasanya diusapkan ke anaknya. Inilah tradisi kami warga Suku Sasak yang beragama Islam setiap datang kemari,” ujar Amren, salah satu pengunjung asal Lombok Timur.  

Tokoh masyarakat setempat, H. Subki menuturkan, jika dahulu ada seorang ulama besar yang namanya Maulana Syeikh Abdurrazak. Ulama tersebut berasal dari jazirah Arab. Dia datang ke Lombok melalui Pelabuhan Ampenan dari Palembang untuk menyebarkan agama Islam.

Hal itu terjadi pada tahun 1866. Ulama yang dikenal juga dengan nama Sayyid Tohri ini kemudian ajarannya banyak diikuti oleh masyarakat Lombok. Setelah wafat, Sayyid Tohri kemudian dimakamkan di kawasan Loang Baloq.

“Selain berdoa, berziarah, masyarakat kadang duduk-duduk di beruga (bale) yang ada di sekitar makam. Bawa makanan. Bawa bekel dari rumah kemudian di makan di sini. Ini tuh nanti makin malam, makin ramai. Panas terik saja sudah ramai ya,” jelas Subki.

Disalah satu sudut makam keramat tanpa nama di komplek Makam Loang Baloq terlihat  sudah penuh dengan banyak orang. Udara pengap dan panas pun terasa ketika masuk ke dalam. Banyak yang berebut menyentuh makam dan membaca doa sedekat mungkin dengan makam sambil membawa air minum ketika sudah di dalam rumah kecil itu.

Setelah usai membaca doa, air kemudian dibasuhkan ke muka dan tangan. Kemudian hal berikutnya dilakukan adalah menaburkan bunga 7 rupa yang telah dibawa dari luar kompleks makam.

Ada dua petugas makam berada di dalam untuk mengarahkan orang yang berziarah untuk tidak berlama-lama di dalam makam. Karena masih banyak orang yang mengantre. “Ayo-ayo kalau sudah selesai cepat keluar ya. Giliran ada yang mau masuk lagi. Jangan lawan arah bu, pak,” kata salah satu petugas makam.

          Terpisah, salah satu pengunjung lainnya. Siti Khodizah asal Sandubaya, Kota Mataram,  menceritakan tradisi lebaran topat dahulunya diisi dengan mengunjungi makam leluhur, namun belakangan ini diisi juga dengan liburan ke tempat wisata.

          “Seminggu setelah idul fitri memiliki tradisi lebaran topat. Kalau dulu hanya kunjungi makam, sekarang kunjungi makam dan pantai (destinasi wisata),” tandasnya.

          Tradisi lebaran topat mulai digelar setelah umat muslim menyelesaikan puasa sunnah bulan Syawal. Puasa enam hari setelah bulan Ramadhan. RUL

About literasi

Check Also

Menikmati Wisata “Betalet” di Pantai Kerakat

Pantai Kerakat SELONG, Literasi – Menimbun sebagian badan ke dalam pasir pantai, atau dalam bahasa …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: