Minggu , November 28 2021
Home / Dinamika / Politik Cenderung jadi “Bencana” bagi Pariwisata

Politik Cenderung jadi “Bencana” bagi Pariwisata

MATARAM, Literasi-Sistem politik dengan pemilihan langsung cenderung menjadi “bencana” bagi dunia kepariwisataan. Pasalnya, masyarakat kadang masih belum dewasa dalam menempatkan dirinya dalam dunia politik, apalagi menjelang Pilpres 2019.

Hal itu mengemuka dari percakapan Literasi Pariwisata dengan dosen STP Mataram, Dr.Syech Idrus, Selasa (26/3). Disebut “bencana”, wisatawan kadang merasa tidak nyaman berada dalam situasi politik yang acap kali diwarnai dengan aksi demonstrasi.

Syech Idrus menyebut ketika terjadi penolakan terhadap kehadiran Rocky Gerung dan Ustadz Haekal di Lombok, masyarakat melakukan aksi penolakan. Aksi tersebut berimplkasi negative di mata calon wisatawan. Saat itu, kata Syech Idrus, sejumlah calon wisatawan dari Surabaya mengurungkan niatnya untuk datang.

“Disini yang menjadi korban adalah masyarakat karena wisatawan tidak jadi datang,” katanya. “Jadi itu dampak negatif yang kita rasakan,” lanjut Syexch.

Menurut Syech, kedewasaan berpolitik sementara ini hanya dimiliki para politisi. Disebut kedewasaan karena selepas adu argumentasi dengan rivalnya, mereka berpelukan. Sayangnya, bias dari berbagai argumentasi pembenaran itu mengakar di masyarakat. “Para politisi itu meninggalkan sisa-sisa argumentasi mereka yang ditelan mentah-mentah oleh masyarakat,” katanya.

Implikasi pemilihan langsung tersebut telah menyebabkan warga berbagai macam profesi menjadi “politisi” dadakan karena keberpihakan mereka. Ada tim sukses dari berbagai tingkatan yang tidak terseleksi pemahaman dan daya jangkau berpikirnya tentang politik. Situasi itu memunculkan berbagai macam potensi keributan. Hal ini nampak adanya pemetaan daerah rawan konflik jelang Pilpres.

Dalam kasus penolakan terhadap Rocky Gerung dan Ustadz Haikal, masyarakat terbentur pada pemikiran-pemikiran mereka sehingga melakukan penolakan terhadap kehadiranya. Ketika cara menolak dilakukan lewat aksi demonstrasi, apalagi jika terjadi di obyek-obyek yang vital, bisa menimbulkan ketakutan para wisatawan.

Menurut Syech, dampak pemilu langsung yang berkorelasi positif dengan sektor pariwisata hanya bisa terjadi jika masyarakat sudah dewasa dalam berpolitik. “Saya sempat merasa senang ketika muncul wacana pemilu presiden akan dilakukan dikembalikan kepada sistem perwakilan seperti dulu. Tapi ternyata itu tidak terjadi,” ujarnya.

Dampak Kehadiran Presiden ke Lombok

Terkait dampak kehadiran Presiden Jokowi yang berulang kali ke Lombok sebagaimana juga kehadiran tokoh lain terhadap kunjungan wisatawan, Syech yang didampingi dosen lainnya, Lalu Yulendra, mengatakan pengaruhnya ada pada pengembangan pariwisata itu sendiri, yaitu dalam bentuk komitmen pemerintah dalam engembangkan pariwisata NTB. Namun, untuk tingkat kunjungan wisatawan relatif kecil. Yang kecil  itu berupa keikutsertaan rombongan lain jika dilihat dampak secara langsung.

Kata Syeck, dampak kunjungan tokoh sulit diukur secara kuantitatif karena berjangka panjang. Sebagaimana hadirnya artis nasional maupun dunia di Lombok, hal itu berimplikasi pada popularitas Pulau Lombok. Soal apakah wisatawan lain akan datang, karena si tokoh datang kata dia, sifatnya hanya bisa dilihat secara jangka panjang.ian

About literasi

Check Also

Gubernur NTB Resmikan Geopark Tambora

Peresmian Sekretariat Geopark Tambora ditandai dengan pengguntingan pita Mataram, Literasi-Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah meresmikan …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: