Rabu , September 30 2020
Home / Sosok / MANCAL PASAR

MANCAL PASAR

Catatan Si Yoi South of Asia (4)

“Apa harapan Mas, dengan keliling bersepeda ini? Sekedar sensasi atau…?”

Sebelum pernyataan itu selesai. Aku manggut-manggut bersungut.

“Aku cuma ingin melihat perubahan pada diri setiap orang. Arti pentingnya kesadaran pasar. Karena setiap pribadi itu pasar!”

Aku pun bercerita pentingnya kesadaran itu, pentingnya keniscayaan itu, pentingnya arti keberadaan setiap pribadi unik itu.

Sekumpulan anak-anak HMI Jambi itu, hanya memperhatikan, bengong dan seperti letih, pada kecederungannya selama ini dalam mengelola kesadaran pasarnya.

“Ketika kalian semua ada di hadapanku, sesungguhnya aku tidak ada bukan?”

Sejenak mereka menarik napas, ruangan hening, mungkin mereka tak mengerti. Mereka serentak kembali berfikir dan merenungkan sesuatu yang barusan aku ucapkan. Pernyataanku itu mengejutkan? Atau oleh sebab latarbelakang pendidikan mereka selalu dikejutkan logikanya sendiri? Logika di antara kemanusiaan lain yang saling mempertanyakan dan mempertentangkan eksistensinya. Mengenal filsafat sebagai sesuatu yang ‘menantang’? Menurutku lebih menantang memahami kejutan pasar yang selama ini memperkenalkan filsafat.

“Apa maksudnya, Mas?” tanya salah seorang diantara mereka.

“Dialog hanya bisa dibangun oleh dua orang atau lebih, bukan?”

Kuperhatikan mereka yang hadir saat itu satu – persatu.

“Itulah realitas sosial yang sesungguhnya. Begitu juga dalam membangun wacana sosial. Orang berorganisasi oleh sebab kebutuhan sosial. Tapi kesadaran bahwa setiap kita adalah ‘Pasar’  memberi kemungkinan khusus dalam menyinergikan setiap kebijakan. Begitulah etika sosial menyatakan eksistensinya!”

Seolah ketiga bendera yang kupasang di belakang sepeda melambai-lambai. Pertama: bendera Indonesia, kedua: bendera Pemerintah Daerah NTB, ketiga : bendera pemberian komunitas onthel Bandung.

“Inilah ledakan pemikiran dari kesadaran itu,” ungkapku dalam hati.

About literasi

Check Also

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

Catatan Si Yoi South of Asia (5) “Ruangannya terlalu luas dan gelap. Saya kepingin yang …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: