Selasa , September 29 2020
Home / Sosok / JAMBU BATU BANGKOK MENGANTAR KE BAKAHUENI

JAMBU BATU BANGKOK MENGANTAR KE BAKAHUENI

Wing Sentot Irawan

Catatan Si Yoi South of Asia (2)

Indra Kusuma adalah mantan jurnalis. Ia sekaligus ketua Dewan Kesenian Cilegon. Melihatku, DKC kemudian menggelar acara untuk menggalang donasi buat perjalananku menuju Asia Tenggara. 

Di lantai dua bekas mall yang sudah disulap menjadi Kantor Kebudayaan dan Pariwisata digelar acara Lelang CD, musikalisasi serta baca puisi dan diskusi.

Si Muhib, Aktivis Agra yang kukenal di tempat Indra — yang hadir dalam diskusi malam itu — memintaku untuk sejenak  mampir di kampungnya, dusun  di atas bukit di seputar Merak  1000 meter di atas permukaan laut.

    Sebuah kampung petani dengan sepetak sawah ladang di antara pabrik baja dengan bising suara mesin raksasa.

     Di beranda gubuk Muhib aku menarik napas panjang dan mengucap syukur. Dan kembali belajar membaca marwah kerakyatan di tengah modernitasnya.

“Inilah buah yang banyak ditemukan di daerah ini, Mas!” ujarnya. “Silahkan!’ katanya seraya enyorongkan buah itu.

”Ayo cicipi!” seloroh Muhib sambil terus menghidangkan sepiring buah Jambu Batu. Kunikmati udara Desa, mengenali kembali kemurnian daya hidup. mengumpulkan suara hati, diantara petualangan-petualangan sejarah. Riwayat kebudayaan diantara romantisme dan nalar keIndonesiaanku yang gagap. Adalah suara kunyahan Jambu Batu di mulutku lebih bising ketimbang suara Pabrik Baja di sekitarnya.

Setelah acara itu, keesokan paginya kukayuh sepeda menuju Merak. Menunggu Kapal penyeberangan di Merak – Bakaheuni yang berangkat sore hari, di rumah sahabatku, Bageni, yang berada tak jauh dari Pelabuhan Merak-Banten.

Bageni adalah seorang aktivis, seniman yang aku kenal di IKJ sepuluh tahun yang lalu.  Sudah naik Haji, Juragan mapan dengan dua anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Potret ideal keluarga  Indonesia yang layak dicontoh ditengah  konsep stadarisasi petualangan kebudayaan dunia.

***

Sore sekira pukul 05.00 aku menuju pelabuhan Bakaheuni – Merak. Serta merta seorang petugas berselimut mempersilahkan aku numpang kapalnya sampai ke Bakaheuni.

Tiba di Bakaheuni  Lampung, kira-kira pukul setengah enam.  Aku putuskan menginap di seputar pelabuhan, diketinggian Bukit Sireng di satu musholla. Dari ketinggian nampak laut luas membentang. Layarkan kapal, layarkan perahu nelayan. Layarkan petualangan.

Jauh sudah perjalanan ini kutempuh menyeberangi beberapa selat. Mulai Selat Lombok, Selat Bali, juga Selat Sunda, untuk sampai ke tempat di Lampung ini. Ada kebanggaan dalam jiwaku mengingat itu semua. Bahwa jika ada tekad dan kesungguhan semua hal dapat kita raih walaupun dengan sarana dan keterbatasan — hanya dengan mengayuh sepeda.

Pagi pukul 06: 35 aku melanjutkan perjalanan bersepedaku menuju Bandar Lampung. Terbaca di pal jalan, 89 Km. Angka 89 kilometer tergelar dipikiranku. Artinya, 89 persoalan lingkungan mesti aku cermati modusnya. Begitulah aku dalam catatan perjalanan bersepeda keliling Asia itu memahami nilai.

Diseperempat perjalanan, kuperhatikan sekumpulan orang sedang bekerja memecah bukit batu cadas. Ini menarik perhatianku. Untuk secangkir kopi dan percakapan ringan, pengalaman perjalanan petualangan coba aku indahkan.

“Keliling, Mas? Dari Jawa, Mas?” sapanya.

“Bapak petani?” tanyaku.

“Ndak, Mas! Ndak punya lahan!” ujarnya lagi.

“Ya, begini! Kami memecah batu dan mengumpulkan lantas menjualnya!”

Kuseruput kopi sekali lagi. Untuk tak sewenang-wenang  mempercayai realitas sosial yang kutemui.

“Coba ambil gambar saya dengan ponsel ini!” pintaku menyodorkan ponselku padanya. Ia menggeleng.

“Saya ndak tahu!“ Matanya melirik aneh padaku, “Saya ndak bisa!” Dengan raut wajah dan gestur alergi bahasa teknologi.

“Bisa, Bapak bisa!” ungkapku.

Tapi ia menolak.

“Bahasa itu mahal tuan. Begitu juga dengan eksistensi teknologi,” ujarku.

Jika peristiwa ini merupakan satu diantara 89, maka dibutuhkan 88 lainnya.

“Tapi apa?” aku pasti menemukannya.

About literasi

Check Also

HABIS GELAP TERBITLAH TERANG

Catatan Si Yoi South of Asia (5) “Ruangannya terlalu luas dan gelap. Saya kepingin yang …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: