Rabu , Juli 15 2020
Home / Dinamika / Lobar Masuk Pilot Project Pariwisata Berkelanjutan

Lobar Masuk Pilot Project Pariwisata Berkelanjutan

MATARAM,Literasi-Kabupaten Lombok Barat (Lobar) masuk pilot project pariwisata dunia sebagai kawasan pariwisata berkelanjutan diantaranya bersama Sleman, Pangandaran dan Sanur. Sedangkan yang menjadi obyek wisatanya meliputi Sesaot dan dua desa di sekitarnya.

Hal itu dikemukakan Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat, Ispan Junaidi, pada Gathering Kepariwisataan Kepala Dinas Pariwisata se NTB di STP Mataram, Kamis (31/1). Bagi Ispan, hal itu sangat menggembirakan buat Lobar karena untuk menjadi pilot project pariwisata berkelanjutan tidaklah mudah karena harus memenuhi berbagai kriteria.

Ispan sendiri mengaku optimis dengan perkembangan industri tanpa asap ini. Dari segi kunjungan wisatawan, misalnya, Indonesia sudah dikunjungi hampir 20 juta wisatawan yang semula hanya 9 juta. Bahkan dahulu lebih dikenal Bali ketimbang Indonesia. Khusus di NTB, banyak potensi yang bisa dikelola namun jumlah kunjungannya masih sangat rendah.

“Penerimaan pariwisata sebagai mega industri sudah mengalahkan minyak. Indonesia tercepat nomor 9 di dunia,” katanya. Hal itu tidak lepas dari pendapatan yang diperoleh sangat luar biasa. Mengambil contoh pertanian, kata dia, kedatangan 10 wisatawan ke NTB bisa mengalahkan hasil dari 1 hektar pengelolaan lahan.

“Dalam pariwisata orang lokal harus berdaya. Jika dulu penebang pohon di Sesaot, kini mereka bekerja dengan Rp 2 milyar kontribusinya pertahun,” ujar Ispan. “Di Sesaot sebanyak 335 orang yang semua penebang pohon jadi pegawai pariwisata,” paparnya seraya menambahkan bahwa Lobar merupakan satu-satunya kabupaten yang punya Perda Pariwisata berkelanjutan.

Dibalik kabar gembira itu, masih ada persoalan yang mengganjal di sektor ini. Persoalan selama ini, kata Ispan, adalah sampah. Namun, sampah bukan hanya soal tong sampah akan tetapi culture. Selain itu, orang pariwisata tidak bisa single fighter tapi harus bergandengan tangan. “Harus pula ada komitmen,” katanya terkait komitmen bupati masing-masing daerah dalam mengembangkan sektor ini.

Dalam konteks pariwisata halal, halal tourism banyak membangun persepsi. Dengan penduduk muslim dunia mencapai 1,6 miliar, kata Ispan, potensinya sangat bisa dikelola. Sayangnya, masalah di Indonesia adalah serifikasi halal produk yang dipasarkan. Berbeda dengan Thailand dan Jepang yang serius menggarapnya, sedangkan di indopnesia tidak ada.

“Itulah yang menyebabkan mereka berlibur ke daerah yang non muslimnya sedikit,”ujar Ispan seraya menambahkan bahwa halal  adalah service tambahan yang tidak merusak yang sudah ada sehingga tidak boleh dipersepsikan diskriminatif. ian

About literasi

Check Also

Gubernur Dr. Zul berharap LIFT lahirkan Penerbang Hebat dari NTB

Lombok Institus Of Fligh Technologi (LIFT) Mataram, Literasi – – Sekolah Tinggi Penerbangan Lombok Institus …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: