Sabtu , September 19 2020
Home / Dinamika / Di Sektor Pariwisata, Kabupaten Lain Merasa Ketinggalan Dibanding Lobar

Di Sektor Pariwisata, Kabupaten Lain Merasa Ketinggalan Dibanding Lobar

MATARAM, Literasi-Kabupaten lain seperti KSB dan Kota Bima, merasa ketinggalan di sektor pariwisata dibandingkan Kabupaten Lombok Barat. Tidak hanya dalam SDM pariwisata melainkan juga dalam konsep pengelolaan pariwisata.

Hal itu mengemuka pada Gathering Pariwisata Kepala Dinas Pariwisata se NTB di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Mataram, Kamis (31/1) yang dihadiri para pemangku pariwisata di daerah.  Dalam acara yang dimoderatori Dr.Made Suyasa itu tampil sebagai narasumber, Kepala Dinas Pariwisata Lobar, Ispan Junaidi.

Dinas Pariwisata Kota Bima misalnya, merasa jauh ketinggalan dibanding Lobar. Sarana prasarana pariwisata belum tersentuh, destinasi pun belum dipoles indah. Malahan penertiban berkenaan dengan sektor ini, baru ditertibkan saja pedagang kaki lima sudah berteriak. “Ketika turun ke desa yang ditanya proyek. Warga belum merasa memiliki pariwisata,” kata pejabat utusan dari Kota Bima.

Sedangkan pejabat dari KSB mengaku industri pariwisata pun tidak punya. Berbagai organisasi kepariwisataan yang dibutuhkan belum berdiri.  Bahkan MoU yang sudah ditandatangani dengan Pemkab KLU berkenaan dengan upaya mendatangkan wisatawan ke KSB lewat jalur laut belum jalan.

Hal itu tidak lepas dari tidak hanya faktor pengelolaan, akan tetapi juga SDM di pemerintahan yang memiliki latarbelakang pendidikan pariwisata.

“SDM pariwisata KSB masih rendah. Saya sendiri pertanian jurusan hama penyakit, sedangkan Kabid tidak ada latarbelakang pariwisata,” aku Kepala Dinas Pariwisata KSB, IGB Subawanto dalam sesi dialog.

Ia mengakui hanya dua orang tamatan sekolah tinggi pariwisata (STP). Anehnya, ketika pihaknya turun guna membuat desa wisata, yang ditanya, “Pak proyeknya mana? Pokdariwis harusnya bangunkan kesadaran sapta pesona”.

Kepala Dinas Pariwisata Lobar,Ispan Junaidi, dalam sesi pemaparan mengemukakan dengan lugas perkembangan sektor pariwisata dunia. Khusus wisatawan dari Timur Tengah, ia menilai memiliki potensi yang cukup besar. Apalagi dikaitkan dengan wisata halal yang digembar-gemborkan di NTB.

Sayangnya, selama ini Indonesia belum menggarap wisata halal tersebut dengan serius. Akibatnya, wisatawan Timur Tengah yang kaya raya itu lebih banyak menghabiskan uangnya ke Thailand, Jepang dan negara lain di Eropa. Hal itu disebabkan keseriusan negara lain yang notabene minoritas muslim dalam mengurus sertifikasi halal.

Pariwisata sendiri merupakan sektor yang berkembang luar biasa mengalahkan minyak. “Pariwisata adalah ekspor yang tidak tampak. Ketika satu destinasi dibuka ada 185 industri yang berada di belakang pariwisata,” ujar Ispan.

Ia pun menguraikan dahulu kerajinan gerabah biasa dibawa dengan berjalan kaki masuk ke luar desa untuk ditukar dengan beras, namun begitu pariwisata dibuka para pengusaha gerabah itu pergi ke New Zealand untuk berlatih keterampilan.

“Dulu mahasiswa IKIP menolak bandara, begitu beroperasi inaq yang menolak bandara yang menikmatinya. Mereka menjaga bandara ketika kue pariwsata sudah dirasakan,” paparnya. Ketua STP Mataram, Dr.Halus Mandala, mengemukakan sektor kepariwisataan

About literasi

Check Also

Di Hadapan Finalis OwnBeat Urban Festival 2020, Niken Katakan NTB Beri Ruang yang Luas Generasi Muda yang Ingin Berkarya

Bunda Niken di hadaoan dinalis OwnBeat Urban Festival 2020 Mataram, Literasi – Ketua Umum International …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: