Selasa , Maret 2 2021
Home / Kajian / PUTRI MANDALIKA DALAM PERSPEKTIF PARIWISATA SASTRA

PUTRI MANDALIKA DALAM PERSPEKTIF PARIWISATA SASTRA

Oleh : Dr.Made Suyasa, Dosen STP Mataram

  1. Pendahuluan

Perkembangan pariwisata Indonesia dalam satu dekade terakhir ini mengalami peningkatan jumlah kunjungan wisatawan terutama ke beberapa destinasi baru secara merata. Peningkatan kunjungan wisatawan telah mampu memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan kesejahteraan terutama bagi masyarakat di sekitar kawasan wisata. Kemenpar yang memperkenalkan sepuluh destinasi Bali baru dan ditunjang dengan semakin gencarnya berbagai promosi yang dilakukan oleh daerah yang menjadi daerah tujuan wisata (DTW) semakin memantapkan prospek pariwisata. Masing-masing destinasi baru tersebut mempunyai kekhasan, baik dari sisi topografi, budaya, dan atraksi wisata yang ditampilkan. Kekhasan suatu produk wisata tidak sedikit berasal dari sumbangan sastra dalam pengembangan kepariwisataannya, hal ini tampak dalam berbagai bentuk atraksi, nama kawasan, artefak, bangunan, dan spiritual. Melalui nama atau latar tokoh dalam kisah cerita yang dipakai dalam penamaandestinasi wisata memudahkan destinasi itu dikenal, itulah kontribusi sastra dalam pengembangan pariwisata.

Kontribusi sastra dalam pengembangan dan kemajuan pariwisata juga berdampak pada karya itu sendiri, dimana sastra semakin dikenal luas dan dilestarikan. Dibeberapa DTW penamaannya diambil dari nama tokoh dan latar cerita seperti, nama Tanjung Lesung di daerah Banten, objek wisata Batu Gantung di Kabupaten Simalungun, Tangkuban Perahu di Jawa Barat, Candi Prambanan di Yogyakarta, Danau Toba (tokoh cerita) di Sumatra, Pantai Air Manis dan Malin Kundang di Sumatra Barat, Wisata Bangka Belitung yang dikenal sebagai bumi Laskar Pelangi, Wisata Lembata yang diangkat dari Novel Cintaku di Lembata (Sari Narulita), dan masih ada beberapa kawasan lain yang semuanya terkait dengan sastra.

Dalam beberapa film terkenal seperti, Harry Potter (Inggris) yang syutingnya diKastil Alnwickdan sekaligus sebagai tempat belajar sihir kini banyak dikunjungi wisatawan, dan juga Empire State Building banyak dikunjungi wisatawan karena tempatnya yang terkenal sebagai lokasi syuting film King Kong dan ratusan film Hollywood lainnya. Selain itu, Eat Pray Loveyang dalam filmnya memperlihatkan alam Desa Ubud yang indah mempesona dengan alam pedesaannya yang menakjubkan sehingga Ubud kemudian semakin meningkat  kunjungan wisatawannya, dan juga film 5Cmdi Gunung Semeru, banyak menarik wisatawan dan membius para millennial Indonesia untuk mendaki Gunung Semeru dan menyaksikan keindahan dari puncaknya.

Berbagai mitos dan legenda seperti, Rawa Pening, Batu Raden, dan juga Jaka Tarub dengan Sendang Bidadarinya di Jepara yang semua menjadi daya tarik wisata. Atraksi wisata seperti, ritual mandi di air panas, air terjun, kolam, mata air, dan sungai diyakini dapat membuat pengunjung yang mandi sembuh dari sakit atau mudah mendapat jodoh serta menjadi awet muda. Wisata spiritual seperti mengunjungi makam, candi, dan petilasan  banyak terdapat di wilayah Indonesia, dimana tempat-tempat tersebut diyakini mempunyai kekuatan spiritual yang semua berakar dari kisah cerita. Maka berbagai kisah cerita yang berhubungan dengan tempat wisata kembali  digali dan disampaikan dalam berbagai bentuk seni  untuk menarik minat wisatawan.

Kisah Putri Mandalika yang dikenal luas oleh masyarakat Sasak di Lombok sejak jaman dahulu memang dirangkai dengan tradisi bau nyale dalam kisah tersebut.  Tradisi tersebut yang dulunya diikuti secara beramai-ramai oleh masyarakat yang bermukim di sekitar pantai Selatan Lombok, kini telah melibatkan pengunjung dari berbagai pelosok pada  setiap tahun di bulan Februari dan Maret. Pantai Kute yang indah tempat menangkap nyale kemudian ramai dikunjungi dan menjadi objek wisata yang menarik. Semenjak dikembangkan sebagai kawasan wisata, tempat ini kemudian diberi nama  Mandalika Resort. Mandalika diambil dari nama tokoh mitos yang berkembang di masyarakat Sasak dan kini menjadi trade mark-nya kawasan wisata pantai Selatan Lombok. Sumbangan sastra terhadap pariwisata yang cukup besar dalam mengangkat kepariwisataan di Lombok. Pariwisata dan sastra ibarat dua sisi mata uang yang mempunyai kepentingan berbeda dalam eksistensinya, namun dapat saling berkontribusi dalam kepentingan tertentu.Fenomena yang terjadi di masyarakat tentu dibutuhkan kajianuntuk mencermatinya. Darma Putra (2017) menawarkan pendekatan pariwisata sastra sebagai cara-cara baru yang dapat dijadikan sebagai alat berpikir/analisis yang objektif.

Terkait dengan pernyataan di atas, dapat dicermati dari kepentingan keduanya. Sastra memanfaatkan dua aspek penting yakni,  estetika dan imajinasi dalam membangun karyanya melalui citra tokoh dan latar. Sedangkan pariwisata aspek pentingnya yaitu, profitabilitas dan hospitalitas, dimana aspek hospitalitas banyak disukai wisatawan dan menjadikannya daya tarik wisata yang bernilai ekonomi. Karakter keduanya masing-masing berbeda, dimana sastra bersifat kritis yang menimbulkan kesan oposisi dengan aktivitas dan industri pariwisata (Putra, 2017:2). Kekritisan sastra tentu karena dipengaruhi oleh berbagai teori-teori yang lahir dari era poststrukturalisme, postmodernisme, dekonstruksi, new historicism, dan postkolonial. Dalam aktivitas pariwisata terlihat adanya kecenderungan pada aspek profitabilitas yang bersifat positivistik, dimana pariwisata adalah sesuatu yang menghasilkan dan berkelanjutan. Pariwisata cenderung memanfaatkan berbagai produk masyarakat yang dapat dijadikan sebagai daya tarikpariwisata yang dapat dihitung secara profitabilitas.

Pariwisata sastra sebagai sebuah pendekatan yang baru, dapat dijadikan bahan  kajiandalam mencermati  aktivitas sastra dengan kepariwisataan yang dilakukan dengan meminjam pariwisata sebagai ilmu bantu. Pendekatan pariwisata sastra dalam hal ini menggunakan kajian atas karya sastra yaitu, karya sastra yang bertemakan pariwisata (Putra, 2017:6). Cerita rakyat Putri Mandalika dapat memperkuat citra pariwisata budaya kita. Pendekatan yang memadukan keduanya yakni, sinergitas fiksionalitas dalam sastra dengan faktualitas dalam pariwisata .Potensi yang adadapat disinergikan dengan perencanaan yang baik, sehingga ke depannya dapat direncanakan strategi pengembangan kawasan wisata di tempat lain dengan menjadikan sastra sebagai daya tarik wisata. Mencermati dampak pariwisata terhadap destinasi  sebagaimana yang diartikulasikan dalam cerita rakyat,memunculkan berbagai penafsiran yang beragam terhadap citra tokoh dan latar cerita yang ditampilkan tentunya tidaklah tunggal.

  • Cerita Putri Mandalika dan Tradisi Bau Nyale

Cerita dan tradisi ini pada awalnya berkembang di daerah pesisir selatan Lombok Tengah.Dikisahkan bahwa di daerah tersebut dahulunya terdapat sebuah kerajaan bernama Tonjang Beru. Kerajaan ini diperintah oleh seorang raja bernama Prabu Tonjang Beru yang terkenal arif dan bijaksana, permaisurinya bernama Dewi Seranting. Baginda mempunyai seorang putri,  bernama Putri Mandalika yang teramat elok parasnya, anggun, dan cantik jelita. Sang putri yang selain terkenal kecantikannya juga ramah dan sopan, tutur katanya yang lembut membuat rakyat bangga dengannya.

Nama Putri Mandalika sangat tersohor ke seluruh kerajaan di pulau Lombok. Para pangeran pun telah mendengar keanggunan sang putri yang membuatnya mabuk kepayang dan jatuh cinta melihat perangainya. Silih berganti para pangeran mengajukan lamaran dan ada yang disertai ancaman namun satu pun tidak ada yang diterimanya.  Tidak sedikit pun sang putri  bergeming dari ancaman para pangeran. Namun ternyata ada tiupan senggeger jaring sutradari Pangeran Maliawang yang membuatnya tak bisa tidur, makan hingga sang putri pun kurus kering. Walaupun begitu aura kecantikannya tidaklah pudar oleh kekuatan senggeger para pangeran.

Beban yang dipikul sang putri cukup berat jika ia harus menjatuhkan pilihannya pada salah seorang pangeran. Dalam semedinya sang putri mendapat wangsit agar mengundang semua pangeran dalam pertemuan tanggal 20 bulan 10 (bulan Sasak)menjelang pagi buta sebelum adzan subuh berkumandang. Mereka harus disertai rakyatnya masing-masing dan semua undangan datang dan berkumpul di pantai Kuta. Pangeran dengan rakyatnya datang menyemut di pantai. Ada yang datang jauh hari sebelum hari yang ditetapkan, karena mereka ingin menyaksikan sang putri dalam menentukan pilihannya. Sang putri pun datang menepati janjinya persis ketika langit memerah di ufuk timur, keanggunannya membuat semua orang terdiam melihat kecantikan dan pakaian yang dikenakannya saat itu.

Begitu turun dari usungan yang membawanya, sang putri pun langsung naik ke atas onggokan batu karang. Dari atas tebing yang menghadap ke laut lepas itu, sang putri berbicara dengan lantang kepada semua yang hadir “ Ayahnda dan Ibunda ratu serta semua pangeran dan rakyatku tercinta. Hari ini aku telah menetapkan bahwa diriku untuk kamu semua. Aku pun tidak dapat memilih satu di antara semua pangeran. Aku telah ditakdirkan menjadi nyale  yang dapat kalian nikmati bersama pada bulan dan tanggal saat munculnya nyale di permukaan laut setiap tahun”.

Para pangeran pun pada kebingungan mendengar ucapan sang putri, tanpa diduga-duga sang putri mencampakkan sesuatu di atas batudan menceburkan diri ke dalam laut yang langsung ditelan gelombang dan gemuruh ombak disertai angin kencang, hujan, kilat dan petir menggelegar. Sang putri sudah tidak ada lagi tanda-tanda akan muncul, tetapi tiba-tiba di tengah kebingungan muncullah binatang kecil serupa cacing yang ribuan jumlahnya yang disebut sebagai nyale. Mereka semua menduga binatang kecil inilah jelmaan dari sang putri.Rakyat pun berduyun-duyun mengambil binatang kecil itu sebanyak-banyaknya untuk dinikmati sebagai rasa cinta kasihnya kepada sang putri.

Sejak itu masyarakat Sasak setiap tahun hadir beramai-ramai ke pantai Kuta untuk berburu nyale yang kemudian menjadi tradisi bau nyaleatau tradisi menangkap cacing laut.  Bau nyale diselenggarakan setiap tanggal 20 pada bulan ke-10 berdasarkan penanggalan masyarakat Sasak, yakni di bulan Februari dan Maret. Tradisi ini dijadikan festival tahunan untuk menarik para wisatawan datang ke pantai Kuta dan sekitarnya. Sebelumbau nyale,diadakan berbagai kegiatan festival kesenian yang terkait dengan cerita Putri Mandalika dipertunjukkan dalam berbagai bentuk seperti, tarian Putri Mandalika, drama kolosal, dan pembacaan puisi tentang Putri Mandalika . Acara ini  dilaksanakan oleh pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah dan Provinsi NTB dengan beberapa sekolah dan kampus.

Nyale dengan namaLatin eunice fucata ini sebenarnya hidup di dasar laut seperti di lubang-lubang batu karang. Cacing ini muncul menjelang fajar di 16 titik sepanjang pantai Selatan kabupaten Lombok Tengah. Pantai Kuta dan Seger menjadi lokasi titik pusat pengunjung dalam menangkap nyale, mengingat di lokasi inilah sang putri menceburkan dirinya ke dalam laut yang  kemudiankeluar menjadi jutaan nyale. Masyarakat Sasak meyakini bahwa nyale merupakan perwujudan sang putri, dimana cacing palolo ini berhubungan dengan kesejahteraan serta keselamatan masyarakatnya. Nyale juga bisa dijadikan lauk dan diolah menjadi pepes, bahkan dipercaya sebagai obat kuat. Di samping itu, masyarakat juga percaya bahwa cacing yang ditaburkan di sawah ladang mereka bisa menyuburkan tanah sehingga hasil panen melimpah. Semakin banyak cacing ini keluar dari laut  menjadi pertanda hasil pertanian mereka akan melimpah.

Itulah sejarah tradisi bau nyale di Lombok yang tidak dapat dipisahkan dengan cerita Putri Mandalika. Cerita itu dikenal luas oleh masyarakat Sasak karena keyakinannya, dimana dengan  keluarnyanyale menjadi pertanda bahwa kecintaan sang putri kepada rakyatnya tidak pupus dan tetap setia kepada janjinya untuk datang setiap tahun.

Dalam pandangan masyarakat Sasak saat ini,fenomena tradisi bau nyale tersebut tentu berbeda, dimana keadaan alam dan pola kehidupan masyarakat tani yang mempunyai kepercayaan yang kuat terhadap kebesaran Tuhan dalam menciptakan alam dengan segala isinya termasuk nyale.Keluarnya nyale dikatakan sebagai keajaiban alam, dimana sebelum keluar akan ditandai oleh hujan lebat yang diselingi petir menggelegar dan tiupan angin kencang. Pada hari keempat setelah bulan purnama, hujan biasanya mulai berganti rintik-rintik dan itu pertanda nyale akan menampakkan dirinya. Nyale keluar bersama dengan gulungan ombak yang gemuruh memecah pantai, pengunjung pun berlari membawa alat berupa jaring kecil untuk berebut menangkap dan memasukkannya ke tempat yang sudah disediakan.

Ketika sang fajar mulai menyingsing di ufuk timur, secepat itu pula nyale lenyap masuk ke dalam tarikan air laut meninggalkan sang pengunjung untuk bertemu kembali tahun depan di pantai selatan ini. Tradisi ini sudah puluhan bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu telah ada, tak ada orang tahu sejak kapan tradisi bau nyale ini berlangsung dan entah kapan akan berakhir. Tapi yang jelas tradisi ini mulai terpublikasi secara luas ketika ditetapkan sebagai event pariwisata oleh Pemerintah Daerah NTB sebagai daya tarik wisata. Kehadiran nyale  menjadi magnet tersendiri dalam menarik kunjungan wisata sehingga tempat tersebut menjadi terkenal dan tersebar luaslah kisah Putri Mandalika ke seantero jagat raya dan jika ingin bertemu dengannya tunggulah di pantai Selatan. Sang Putri pun dengan ramah dan senang hati datang menemui  pengunjung pantai setiap tahun di bulan Februari dan Maretsebelum fajar menyingsing di ufuk timur  sebuah tempat di pantai Kuta yang indah mempesona.Akulah Sang Putri yang cantik, Mandalika namaku, aku telah berubah menjadi sejutanyale untuk kau nikmati. Itulah bukti kesetiaan dan cinta kasihku pada rakyat.

  • Kesetiaan dan Cinta Kasih dalam Mitos Masyarakat Sasak

Kesetiaan dan cinta kasih banyak mewarnai tema-tema karya sastra khususnya mitos masyarakat Sasak yang berkembang baik dalam sastra tulis maupun sastra lisan.Secara tematik berbagai jenis sastra ini berubah dari jaman ke jaman dan menyesuaikan diri dengan perubahan dalam fungsi, keadaan, publik, dan medium (Luxemburg dkk.,1986:114). Khusus pada karya-karya sastra lisan klasik yang makin terdesak, memberikan kebebasan kepada para pengarang dalam hal bentuk, panjangnya sebuah teks, serta seluk-beluknya. Secara deduktif, kita menemukan banyak tema dalam setiap periode, penyebaran sebuah tema terikat akan tempat dan waktu. Tema dapat muncul silih berganti dan ada tema yang lenyap. Di suatu daerah tertentu sebuah tema sering dimunculkan sebagai tema dalam berbagai judul cerita seperti, pada cerita-cerita panji dan dongeng tradisional.

Mitos yang dapat dikategorikan sebagai cerita lama cenderung mempunyai tema yang statis dimana tokoh utamamenjadi sentra dan pengendali keseluruhan cerita sehingga ditentukan oleh tokoh. Tema kesetiaan dan cinta kasih muncul pada beberapa cerita yang berkembang pada masyarakat Sasak seperti cerita Dewi Anjani, Putri Cilinaya, Monyeh yang kisahnya begitu berkesan di hati masyarakat sehingga tokoh-tokoh inikemudian menjadi begitu fenomenal. Banyak nama-nama tempat seperti, gedung pertemuan, nama hotel, tempat hiburan, objek-objek wisata menggunakan nama-nama dalam tokoh cerita. Nama Putri Mandalika yang diangkat dari mitos  Pantai Selatan kini menjadi nama kawasan wisata yaitu Mandalika Resort yang dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di bidang kepariwisataan sejak 2016 dan diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo.

Putri Mandalika yang karena rasa cintanya ia merasa memikul beban berat jika harus menentukan pilihannya pada salah seorang pengeran, sementara ia sangat mencintai rakyatnya. Hal ini dibuktikan ketika sang Putri mengundang seluruh rakyatnya, para pembesar kerajaan, raja beserta permaisuri, dan tidak ketinggalan seluruh pangeran yang pernah melamarnya diminta hadir di tepi pantai selatan pada sebuah bukit Angkus pesisir Pantai Seger  pada tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak bertepatan dengan bulan purnama. Di sanalah Sang Putri memberikan pelajaran bagi semua pangeran dan masyarakat, bahwa dalam kebimbangannya menjatuhkan pilihan, ia tidak memilih salah satu dari pangeran yang memperebutkannya melainkan ia memilih mengorbankan dirinya dengan terjun ke laut demi mencegah terjadinya pertumpahan darah. Kesetiaan dan cinta kasihnya kepada rakyat jauh lebih besar dibandingkan dengan ia harus memilih salah satu pangeran yang hanya akan menimbulkan kegaduhan. Ia pun memutuskan untuk menjadi  milik semua orang dengan menyerahkan diri pada alam dengan melompat ke dalam laut dan menghilang.

Hilangnya Sang Putri di laut lepas dan tanpa diduga-duga sang putri mencampakkan sesuatu di atas batu, kemudian disambut angin kencang dan hujan badai pun datang. Para pangeran dan masyarakat yang hadir terkesima menyaksikan pengorbanan sang putri, kemunculan Sang Putri yang ditunggu-tunggu tidak nampak adatanda-tanda di permukaan. Akhirnya mereka semua berduyun-duyun menuju ke laut untuk menyelamatkannya, namun tiba-tiba menemukan jutaan cacing berwarna-warni yang menyala dan mengkilap diterpa sinar lampu. Cacing-cacing ini dikenal dengan namanyale inilah yang dipercaya oleh masyarakat sebagai jelmaan Putri Mandalika. Nyale ini dapat ditemukan di sepanjang pantai selatan Lombok seperti, Arguling, Kuta Lombok, Seger, Mawun setiap tahun pada bulan Februari dan Maret.Kehadiran jelmaan Putri Mandalika kemudian dijadikan ritual tahunan oleh masyarakat Sasak sebagai bukti kesetiaannya dan cinta kasih sang putri kepada rakyatnya, sehingga nyale menjadi berkah dan kehadirannya sebagai tanda bahwa para petani akan mengalami panen yang berlimpah. Kesetiaan kepada sang putri juga ditunjukkan dengan menangkapnya untuk dijadikan sebagai lauk-pauk dan juga sebagai pupuk yang menyuburkan tanaman para petani.

Ketika sang putri menjatuhkan dirinya tanpa diduga-duga mencampakkan sesuatu di atas  bukit batu Angkus. Sampai saat ini timbul teka-teki di kalangan masyarakat tentang sesuatu yang telah dicampakkan itu belum mendapat jawaban yang pasti. Dari hasil penelusuran penulis di masyarakat sekitar pantai selatan banyak yang tidak mengetahui apa sesuatu yang dimaksudkan itu, sebuah jawaban mengejutkan dan didukung bukti berupa batu yang mirip dengan kemaluan perempuan menjadi jawaban atas sesuatu yang dimaksudkan itu. Memang sebagian masyarakat malu mengungkapkan sesuatu kepada khalayak tetapi yang pasti itulah jawaban yang disampaikan oleh masyarakat khususnya para tetua yang agak malu-malu menyampaikannya. Dalam kajian teks tidak dapat dilepaskan dari situasi pemakaiannya (Luxemburg, 1986:90), dimana ketika para pangeran memperebutkan sang putri bukan hanya hati dan budi baiknya tetapi di balik semua itu keinginan untuk menguasai tubuhnya menjadi lebih penting karena adanya dorongan emosi dan erotisme. Situasi persaingan  yang begitu ketat di antara para pangeran yang pada akhirnya tidak mendapatkan apa-apa. Sang putri meninggalkan dua kenangan berupa batu dan nyale sebagai tanda cinta dan kasih sayangnya.

  • Mitos Putri Mandalika sebagai Daya Tarik Wisata

Kuatnya kepercayaan masyarakat pada mitos Putri Mandalika menjadikan ritual bau nyale dipersiapkan dengan baik, mulai dari penentuan hari keluarnya nyale. Berbagai pertunjukanseperti,drama kolosanPutri Mandalika, betandak yakni berbalas lelakaq (pantun) Sasak sambil menanti keluarnya nyale, dan momen ini juga dijadikan sebagai ajang untuk mencari jodoh bagi para muda-mudi. Untuk penentuan tanggal, panitia biasanya mengundang pemangku adat dari penjuru mata angin yang paham dengan penanggalan Sasak dengan cara mapanyakni, dengan  melihat petunjuk pada buku semacam (primbon) yang disebut papan urige. Mereka memperkirakan berdasarkan perhitungan bulan, bintang, tanda-tanda alam seperti gemuruh di langit dan arah angin. Semakin kencang hujan angin turun, maka semakin banyak nyale keluar namun jika waktu yang ditentukan itu tanpa hujan lebat dan angin kencang, biasanya nyale sedikit yang keluar. Saat ritual berlangsung ribuan manusia menyemut ke  pesisirPantai Selatan untuk bertemu Putri Mandalika walau dalam bentuk jelmaan berupa cacing yang jutaan jumlahnya.

Masyarakat yang datang ke Pantai Selatan dari berbagai wilayah pulau Lombok sehari sebelum hari yang ditentukan,mereka membangun tenda-tenda di sepanjang pantai hingga ke bukit-bukit sekitardijadikan tempat pesta yang sangat meriah. Mereka takut kehilangan kesempatan yang hanya sekali setahun, sehingga rela tidak tidur semalam suntuk untuk menanti nyale yang akan keluar menjelang subuh selama 30-60 menit dan setelahnya lenyap tanpa bekas.Kehadiran manusia yang menyemut ketika ritual bau nyale dilaksanakan sudah ada sejak lama, sehingga tempat yang pantainya indah berpasir putih ini menjadi kunjungan tetap setiap tahunnya oleh masyarakat sekitar. Berita tentang pesta ini tersebar ke berbagai tempat di wilayah Lombok yang kemudian dijadikan sebagai atraksi wisata dan masuk dalam kalender pariwisata NTB. Ramainya pengunjung ke tempat ini berawal dari adanya ritual bau nyale yang bersifat tradisional yang diikuti oleh masyarakat Sasak di Lombok. Sejak itu tempat tersebut dikenal banyak orang,baik dari dalam maupun luar negeri dan menjadi daya tarik wisata yang kini ditetapkan sebagai destinasi wisata.

Sebagai destinasi wisata tempat tersebut kini sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas akomodasi dan atraksi wisata yang didukung pula oleh berbagai objek di sekitar kawasan ini. Wisatawan yang datang pada hari biasa dapat berjalan-jalan di pantai menikmati hamparan pasir putih dengan deburan ombak pantai selatan serta menatap bukit batu Angkus tempat sang Putri menerjunkan dirinya. Dengan daya tarik wisata ini telah menjadikan kawasan ini ditetapkan sebagai destinasi wisata yang diberi nama Mandalika Resort. Kawasan ini kemudian menjadi ikonnya pariwisata Lombok bagian selatan, mengingat keasrian danhamparan lahan serta pantainya yang luas, serta didukung pula oleh pemandangannya yang indah mempesona.

Rencana pengembangan kawasan ini sampai sepuluh tahun ke depan akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas wisata sepeti, hotel, restaurant,sky boat, selancar, kano, tempat pertujukan, dan sirkuit internasional untuk formula satu. Dengan ditetapkannya Mandalika Resort sebagai destinasi wisata akan membawa dampak positif terhadap perekonomian masyarakat. Masyarakat sekitar diharapkan dapat menjadi pelaku pariwisata yang tentunya  akan mendapat keuntungan dari hadirnya wisatawan ke kawasan tersebut. Itulah sebabnya masyarakat harus turut serta berpartisipasi dan menjadikan hospitalitas sebagai daya tarik wisata. Kehadiran wisatawan di satu kawasan akan membawa keuntungan secara profitabilitas bagi para pelaku pariwisata. Maka diharapkan berbagai tataran budaya masyarakat termasuk sastra dapat dijadikan sebagai daya dukung dalam membangun pariwisata ke depan.

  • Profitabilitas dan Hospitalitas dalam Pariwisata Sastra

Kehadiran masyarakat Sasak yang tumpah ruah ke pantai selatan saatbau nyale merupakan awal perjalanan wisatatradisional ke pantai selatan. Perjalanan ini kemudian diikuti dan menarik minat orang lain untuk ikut melakukannya. Lama-kelamaan tradisi bau nyalebanyak menarik pengunjung dari berbagai tempat untuk melakukan perjalanan wisata ke tempat ini. Tempat yang kemudian banyak dikunjungi orangkarena keunikannya yang terkait dengan mitos yang berkembang, budaya masyarakat, dan didukung pula oleh keindahan serta keasrian alamnya menjadikan pantai ini sebagai kawasan wisata. Paduan keduanya yakni, alam dan budaya masyarakatnya menjadi hospitalitas yang menarik banyak orang berusaha untuk mendatangi kawasan ini.

Alamnya yang indah dan asri , keramahtamahan serta budaya penduduknya yang unik  mengundang orang untuk datang, sehingga ini merupakan profitabilitas yang menguntungkan. Kawasan seperti ini layak untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata karena memenuhi keduanya. Maka dibutuhkan perencanaan dalam pengembangannya ke depan. Menurut Syamsu, dkk (2001) mengatakan bahwa perencanaan pengembangan suatu kawasan wisata memerlukan tahapan-tahapan pelaksanaan seperti: Marketing Research, Situational Analysis, Marketing Target, Tourism Promotion,pemberdayaan masyarakat dan swasta dalam promosi dan Marketing.Lebih lanjut dijelaskan, untuk menjadikan suatu kawasan menjadi objek wisata yang berhasil haruslah memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut. (1) Faktor kelangkaan(Scarcity) yakni: sifat objek/atraksi wisata yang tidak dapat dijumpai di tempat lain, termasuk kelangkaan alami maupun kelangkaan ciptaan. (2) Faktor kealamiahan (Naturalism)yakni: sifat dari objek/atraksi wisata yang belum tersentuh oleh perubahan akibat perilaku manusia. Atraksi wisata bisa berwujud suatu warisan budaya, atraksi alam yang belum mengalami banyak perubahan oleh perilaku manusia. (3) Faktor Keunikan (Uniqueness) yakni sifat objek/atraksi wisata yang memiliki keunggulan komparatif dibanding dengan objek lain yang ada di sekitarnya. (4) Faktor pemberdayaan masyarakat (Community empowerment). Faktor ini menghimbau agar masyarakat lokal benar-benar dapat diberdayakan dengan keberadaan suatu objek wisata di daerahnya, sehingga masyarakat ada rasa memiliki agar menimbulkan keramahtamahan bagi wisatawan yang berkunjung. (5) Faktor Optimalisasi lahan (Area optimalsation)maksudnya adalah lahan yang dipakai sebagai kawasan wisata alam digunakan berdasarkan pertimbangan optimalisasi sesuai dengan mekanisme pasar. Tanpa melupakan pertimbangan konservasi, preservasi, dan proteksi. (6) Faktor Pemerataan harus diatur sedemikian rupa sehingga menghasilkan manfaat terbesar untuk kelompok masyarakat yang paling tidak beruntung serta memberikan kesempatan yang sama kepada individu sehingga tercipta ketertiban masyarakat tuan rumah menjadi utuh dan padu dengan pengelola kawasan wisata.

            Berdasarkan pendapat di atas, Mandalika Resortsebagai kawasan wisata memang dapat dijadikan sebagai objek wisata,namun tiga faktor yang terakhir perlu dipertanyakan keseriusan investor dan pemerintah dalam keberpihakannya pada masyarakat. Mengenai tiga  faktor pendukung seperti, faktor  kelangkaan, dimana tradisi bau nyale yang terkait dengan mitos masyarakat tidak ditemukan ditempat lain. Di samping itu, kuatnya keyakinan masyarakat Sasak terhadap tradisi ini sebagai event budaya yang mendorong mereka untuk hadir setiap tahun di tempat ini yang dapat memancing keramaian. Maka disitu terjadi perputaran ekonomi masyarakat yakni, berbagai transaksi mulai dari kuliner, transportasi, jasa akomodasi, dan berbagai atraksi budaya terkait Putri Mandalika pun ditampilkan selama 2 sampai 3 hari. Faktor kealamiahan,  dalam hal ini pantai yang terbentang luas dan jauh dari perkampungan penduduk menjadikan tempat ini tidak banyak tersentuh oleh perubahan atau tercemah limbah rumah tangga dan bahan kimia. Mengenai keunikan kawasan ini dapat dilihat dari tradisinya  yang telah dipaparkan di atas, sedangkan dari alamnya pantai Seger dan Kuta setiap tahunnya selalu didatangi jutaan cacing laut ini,sementara pantai-pantai lain di Lombok Barat, Utara, dan Timur tidak ada. Inilah keunikanya karena mampu mengundang ribuan pengunjung dari berbagai pelosok negeri sebagai sebuah ritual.

            Tiga faktor lainnya seperti, pemberdayaan masyarakat, optimalisasi lahan, dan pemerataan bagi masyarakat dalam hal penghasilan diperlukan keterlibatan pihak ketiga terutama pemerintah. Adanya kepedulian dan komitmen  pengusaha terhadap masyarakat sekitar untuk diberdayakan dengan keberadaan objek wisata tersebut  maka ada rasa memiliki yang kemudian menimbulkan keramahtamahan terhadap pengunjung. Usaha bidang kepariwisataan terlebih lagi di sebuah kawasan terkenal tentunya membutuhkan lahan yang luas, optimalisasi lahan masyarakat harus memperhatikan lingkungan seperti konservasi, limbah, dan penataan kawasan. Pemerataan bagi masyarakat dalam penghasilan perlu adanya perhatian yang serius dari berbagai pihak agar tidak terjadi ketimpangan. Ketiga faktor inilah yang sering luput dari perhatian dan sering hanya dalam bentuk lontaran janji-janji palsu baik dari pengusaha maupun pemerintah.

            Dalam perspektif pariwisata sastra, profitabilitas secara  ekonomidalam pariwisata tidak bisa melupakan aspek hospitalitasnya yang hidup dan berkembang dalam masyarakat yang menjadi magnet kuat kepariwisataan kita di Indonesia. Hospitalitas dalam masyarakat berupa produk sastra yang dikawinkan dengan pariwisata dapat dijadikan ikon dalam pengembangan pariwisata ke depan. Apakah sastra yang bertemakan pariwisata atau sastra yang memberikan kontribusi pada industri pariwisata dimana sastra ditransformasikan ke dalam bentuk lain yang berdampak langsung pada industri pariwisata. Keberadaan mitos Putri Mandalika dengan tradisi bau nyale harus terus dipelihara dalam rangka meningkatkan kunjungan wisatawan ke tempat ini. Pariwisata menjadi semakin kuat gaungnya jika didukung secara masif oleh budaya masyarakatnya.

  • Penutup

Pendekatan pariwisata sastra dalam mencermati dampak pariwisata terhadap destinasi sebagaimana yang diartikulasikan dalam mitos Putri Mandalika, bahwasastra telah memberikan sumbangan besar terhadap kepariwisataan di Lombok khususnya dengan menjadikan nama tokoh dalam cerita sebagai nama kawasan pariwisata di pantai selatan yaitu Mandalika Resort.

Mitos yang dirangkaikan dengan tradisi bau nyale  mampu menarik ribuan wisatawan setiap tahunnya baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Kajian tematik terhadap mitos tersebut dimananyalesebagai perwujudan sang Putri, dialah yang selalu datang sebelum subuh setiap tahunnya sebagai bukti cinta dan kasih sayang kepada rakyatnya. Di pantai selatan inilah orang datang berduyun-duyununtuk sebuah ritual adat yang mentradisi bernama baunyale. Adat dan budaya masyarakat sebagai hospitalitas yang lahir dari sebuah kesadaranakan kebenaran imajinasi.

Kehadiran wisatawan merupakan sinergitas hospitalitas dan profitabilitas yang sama menguntungkannya karena keduanya mendapat imbalan yang sama pentingnya. Sastra dan budaya masyarakat Sasak sebagai gambaran hospitalitasnya dikenal luas dan dilestarikan karena menjadi daya tarik wisata, sedangkan profitabilitas dalam perspektif pariwisata adalah sesuatu yang menguntungkan secara ekonomi. Ke depan sinergitas pariwisata dan sastra harus direncanakan dalam rangka menggerakkan pariwisata budaya sebagai pariwisata alternatif.

            Masih banyak tempat di NTB yang terkait dengan karya sastra untuk dijadikan kemasan sebagai daya tarik wisata dalam bentuk informasi, atraksi, dan wisata spiritual. Dibutuhkan kajian dari para pakar untuk memadukan pariwisata dengan berbagai bidang ilmu lain guna mencari terobosan-terobosan baru yang kreatif dan inovatif agar pariwisata dapat tetap berkelanjutan.

About literasi

Check Also

Ditengah Covid 19, Warga Masih Tetap Merindukan Pantai

Situasi pantai di Desa Malaka LOBAR, Literasi-Ditengah situasi Covid 19, warga masih tetap merindukan pantai …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: