Kamis , September 24 2020
Home / Kajian / KAWASAN EKONOMI KHUSUS (KEK) PELUANG SEKALIGUS TANTANGAN

KAWASAN EKONOMI KHUSUS (KEK) PELUANG SEKALIGUS TANTANGAN

Dr.I Putu Gede M.Par*


1. Pendahluan

Ditetapkannya NTB sebagai salah satu dari tiga wilayah  di Indonesia setelah Banten dan Maluku sebagai kawasan ekonomi khusus  merupakan wujud dari  kepedulian pemerintah terhadap NTB yang memiliki potensi sumber daya alam yang  besar. Madalika Resort  salah satu dari 7 (tujuh) kawasan yang diusulkan pemerintah NTB meliputi  3 (tiga) kawasan di pulau Lombok dan 4 (empat ) kawasan  di Pulau Sumbawa, penetapan Mandalia Resort sendiri sebagai KEK melalui peraturan pemerintah No 52 tahun 2014 dalam bidang pariwisata dan pertanian

Dalam rangka mempercepat pembangunan perekonomian di Wilayah Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, serta untuk menunjang percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi nasional, perlu mengembangkan wilayah Mandalika sebagai Kawasan Ekonomi Khusus. Wilayah Mandalika memiliki potensi dan keunggulan secara geoekonomi dan geostrategis. Keunggulan geoekonomi Wilayah Mandalika adalah memiliki objek wisata bahari — merupakan pantai yang berpasir putih dengan panorama yang eksotis dan berdekatan dengan Pulau Bali. Keunggulan geostrategis Wilayah Mandalika adalah memiliki konsep pengembangan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya dan berlokasi dekat dengan Bandar Udara Internasional Lombok.

Dua keunggulan secara geoekonomi dan geostrategis ini harus dimanfaatkan secara maksimal dalam rangka percepatan pembangunan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat. Prospek pengembangan dalam koridor V MP3EI yang fokus pada sektor pariwisata dan pertanian  ini memiki daya gerak dan daya ungkit yang sangat besar dalam pengembangan sektor-sektor  lainnya sekaligus sebagai peluang yang harus dimanfaatkan oleh masyarakat.

Pariwisata sebagai fokus pengembangan menjadi peluang bagi  wilayah di sekitarnya untuk mulai bersiap diri karena eksesnya bukan saja berpusat pada wilayah yang dikembangkan tetapi akan tersebar pada semua wilayah terdekat terlebih lagi jika pemerintah setempat jeli  membaca dan memanfaatkan peluang  program implementasi dari potensi wilayahnya,  sebagai penyangga kawasan ekonomi khusus  yang berfokus pada pariwisata dan pertanian, ini  merupakan dua industri yang dapat disinergikan dalam kontek pengembangan pariwisata terutama dalam membangun agrotourism yang ramah lingkungan dan berkelaanjutan.

Konsep pengembangan dalam kontek  agrowisata akan  berbeda dengan wisata agro (agriculture tourism). Agrowisata adalah usaha tani yang pemasarannya berorientasi kepada kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan pariwisata. Peternakan yang bisa disandingkan dengan pertanian seperti budidaya sayur mayur yang hasil pemasarannya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan hotel dan restorandi kawasan pariwisata, teknologi yang diterapkan adalah teknologi usaha tani yang dapat mencapai mutu produksi sesuai dengan permintaan hotel dan restoran. sehingga agrowisata merupakan salah satu bentuk kegiatan agrobisnis. Apabila dibandingkan dengan wisata agro (Agriculture Tourism) adalah suatu bentuk kegiatan pariwisata yang objeknya berupa usaha tani (agro), beserta kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan usaha tersebut, termasuk kegiatan penelitian dan eksplorasi sumber daya pertanian, peralatan usaha tani, serta produk pertanian. Jadi wisata agro merupakan bagian dari kegiatanpariwisata.

Peluang dari  potensi alam yang begitu besar harus diimbangi dengan penyiapan  sumber daya manusia yang handal dalam bidang pariwisata maupun pertanian. Pariwisata  sebagai industry hospitality membutuhkan tenaga yang dididik khusus dengan pola, tenaga,  dan atmosfir khusus  yang tidak sama dengan pendidikan kebanyakan. Ini sangat penting karena akan mempengaruhi daya saing dengan daerah-daerah lain yang telah lebih dulu mengembangkan sektor pariwisata.

2.         Bagaimana membangun pariwisata?

Konsep yang dibangun dalam mengisi peluang KEK adalah pembangunan pariwisata yang berbasis kerakyatan dan berkelanjutan, merupakan konsep dasar pembangunan dimana rakyat semakin meningkat kualitas hidupnya, tidak dirugikan dan termarginalisasi di lingkugan miliknya sendiri. Dalam model Bottom-Up, pembangunan sebagai social learning yang menuntut adanya partisipasi masyarakat lokal, sehingga pengelolaan pembangunan benar-benar dilakukan oleh mereka yang hidup dan kehidupannya paling dipengaruhi oleh pembangunan dan pengembangan kawasan itu sendiri.

Dalam pengembangan pariwisata berbasis kerakyatan dan berkelanjutan yang ada di kawasan penyangga seperti kabupaten Lombok Timur dan sekitarnya, Lombok Barat dan Lombok tengah bagian utara dari pusat pengembangan  ekonomi khusus sangat penting mempertimbangkan konsep Pariwisata Kerakyatan yang memiliki karakteristik ideal, yaitu  1). Skala usaha yang dikembangkan adalah skala kecil, sehingga lebih mudah dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah di dalam usahanya. 2). Pelakunya adalah masyarakat local (locally owned and Managed )menengahkebawah. 3). Input yang digunakan, baik sewaktu konstruksi maupun operasional berasal dari daerah setempat dengan komponen impornya kecil. 4). Aktivitas berantai (Spin off Activity) yang ditimbulkans angat banyak, baik secara individu maupun melembaga akan semakin besar yang konsekuensinya memberikan manfaat lansung bagi masyarakat local dan besar. 5). Berbasis kebudayaan lokal karena pelakunya adalah masyarakat. 6). Ramah lingkungan, karena terkait dengan tidak adanya konversi lahan secara besar – besaran, serta tidak adanya pengubahan bentang yang berarti.7). Tidak seragam, karena bercirikan keunikan daerah setempat. 8). Menyebar di berbagaidaerah. Konsep diatas  sangat penting menjadi pemikiran dalam pengembangan pembangunan pariwisata dengan mempertimbangkan dampak sosial yang terjadi atas siklus hidup pariwisata.

 Dalam pengembangan pariwisata yang berkelajutan (sustainable Toursm) dampak pariwisata terhadap social masyarakat local difokuskan pada tiga aspek yaitu : wisatawan, masyarakat lokal, dan hubungan wisatawan dengan masyarakat lokal. Untuk mengatasi kesenjangan antara masyarakat local dan wisatawan

3.         Tantangan yang dihadapi.

Ditetapkannya Mandalika sebagai kawasan ekonomi khusus (KEK) membuka peluang bagi wilayah disekitarnya sebagai penyangga pengembangan sektor pariwisata dari berbagi ragam dan jenisnya. Penyiapan sumber daya manusia  dengan berbagai level dan kompetensi merupakan peluang bagi masyarakat lokal untuk bisa mengisinya.

Realitas sumber daya manusia pariwisata yang dimilki NTB lebih banyak masih pada tataran level operasional dan supervisor  sementara pada level manager masih sangat sedikit semntara dengan ditetapkannya KEK kebutuhan sumber daya sangat besar untuk mengisi di berbagai posisi ini sebuah peluang sekaligus tantangan. Lembaga pendidikan yang betul-betul konsen dan komitmen dalam penyiapan  sumber daya dari level pekerja lulusan diploma 1 dan level supervisor/penyelia adalah lulusan D3 Akademi Pariwisata Mataram yang telah berpengalaman dalam mencetak tenaga profesional dalam bidang perhotelan maupun usaha perjalanan wisata dengan jumlah alumni 1.800 lebih tersebar mengisi posisi dan jabatan yang strategis di industri maupun di pemerintah.

Lulusan SMA/SMK/MA dengan kwalitas terbaik lebih memilih pendidikan diluar NTB walaupun dengan biaya yang cukup besar dengan program studi yang tidak cepat terserap pada industri maupun pemerintahan, sesungguhnya mereka-mereka ini adalah potensi besar dalam mempercepat  ketercapain  dan pemertaan pembangunan disegala sektor, tetapi justru mereka mengembangkan  daerah lain sehingga input yang diterima perguruan tinggi di NTB merupakan sisa dari KW 1 dengan berbagai argumen kekurangan dari sisi ekonomi, budaya, kepribadian, intelegensi, percaya diri, dll.

Walupun dengan keterbatasan input yang diterima, Akademi Pariwisata Mataram berupaya bagaimana memaksimalkan potensi yang ada untuk bisa bersaing pada tingkat lokal, nasional regional maupun internasional, hal ini terbukti  lulusannya banyak mengisi posisi penting di industri pariwisata maupun di pemerintahan dari level pekerja hampir  semua hotel yang ada di Lombok dan Sumbawa terisi oleh lulusan AKPAR bahkan beberapa hotel berbintang ada yang mencapai posisi supervisor, head, manager bahkan General Manager. Tentu pencapaian ini tidak terlepas dari upaya dari lembaga yang secara terus menerus memperbaiki kurikulum sitem pembelajaran, sarana prasarana, dosen serta tenaga kependidikan yang  mendapatkan respon yang positif dari badan penyelenggara Yayasan Kertya Wisata Mataram.

Dengan turunnya izin  perubahan bentuk Akademi Pariwisata Mataram menjadi Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Mataram memberikan peluang kepada masyarakat NTB untuk berkiprah dan mengisi peluang bukan saja pada level pekerja tetapi sudah sampaia pada level tenaga pemikir dibidang pariwisata yang sedang menjadi  3 (tiga ) Destinasi Prioritas Pengembangan Pariwisata Nasional yaitu Danau Toba, Borobudur, dan Mandalika Lombok.STP Mataram sedang berbenah untuk mencapai perguruan tinggi yang sehat dengan peningkatan di berbagai bidang termasuk kerjasama internasional, peningkatan mutu dosen dengan studi lanjut S2 dan S3, peningkatan penelitian dan pengabdian masyarakat bidang pariwisata dalam mengisi peluang yang begitu besar .

4.         Sulusi yang ditawarkan

            Sehubungan dengan penetapan Mandalika Resort dan kawasan lain di NTB ini sebagai kawasan ekonomi khusus(KEK) bidang Pariwisata dan Pertanian maka ditawarkan alternatif solusi yang bisa dipertimbangan bersama dalam pencapainnya adalah :

a.       Ada kejelasan prototive pariwisata yang dikembangkan yang berbasis  kerakyatan  dan lingkungan yang berkelanjutan.

b.       Adanya sinergi dari berbagai dimensi dan steakholders yang terlibat dan dilibatkan secara sadar demi pengembangan wilayahnya.

c.       Penyiapan sumber daya manusia lokal dengan memiliki kemampaun akademis, teknis  operasional  yang yang berkompeten dan berwawasan global.

d.       Pelibatan akademisi dalam penyusunan kebijakan pengembangan, penelitian dibidang pariwisata dan pertanian sangat diperlukan tertutama bagaimana mensinergikan pariwisata dan pertanian  menjadi sebuah industri yang ramah lingkungan.

e.       Pelibatan tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam membangun opini kepada masyarakat atau kelompoknya dalam upaya penyadaran akan pentingnya perkembangan dan kemajuan pariwisata di daerahnya dalam mencapai kesejahteraan.

*
Dosen Program Studi Perhotelan Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram

About literasi

Check Also

Dekranasda NTB Bertekad Sukseskan MotoGP

Rapat pemgurus Dekranasda NTB Mataram,DS – NTB memiliki potensi budaya yang sangat memukau yang juga …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: