Selasa , September 29 2020
Home / Kajian / PRAMUWISATA PERLU MEWASPADAI BURNOUT

PRAMUWISATA PERLU MEWASPADAI BURNOUT

Syech Idrus*

Pendahuluan

Tuntutan kompetisi global dalam mempersiapkan sumber daya manusia pariwisata yang profesional merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan guna meningkatkan daya saing kepariwisataan.Mengingat daya saing dari sumber daya manusia akan dapat mempenga-ruhi kualitas pelayanan, sebab urat nadi kepariwisataan terletak pada kualitas pelayanan.Hal tersebut telah dibuktikanoleh Vucetic (2012) dalam suatu penelitianlapangan,dengan menggunakan 30 agen perjalan sebagai sampel yang diambil dari 54 populasi agen perjalanan di Montenegro, menyimpulkan bahwa kualitas suatu pelayanan yang diberikan sumber daya manusiasangat ditentukan oleh keunggulan kompetitif yang ada pada diri manusianya.

Sesungguhnya, pemerintah Indonesia telah melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas SDM pariwisata, khususnya pramuwisata dengan memberikan pelatihan standar kompetensi pemanduan dan memberikan ijin untuk memandu wisata dalam bentuklisensi, karena disadari bahwa pramuwisata sebagai garda terdepan bagi suksesnya kegiatan kepariwisa-taan di Indonesia. Hal tersebut dibuktikan dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan,mengisyaratkan bahwa adanya jaminan pelayanan standar dan legal berupa kompetensi yangdi dalamnya terdapat seperangkat pengetahuan, ketrampilan, perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh pekerja pariwisata guna mengembangkan profesionalitas kerjanya.

Profil tentang ketrampilanpramuwisata telah dilakukan penelitiannya oleh Kong, Cheung&Baum (2009),hasilnya telah pula dipublikasikan dalam Journal of China Tourism Research.Mereka melakukan survei trahadap pramuwisata dalam rangka menghadapi pesatnya perkembangan industri kepariwisataan di China. Temuan dari penelitian mereka tersebut menyimpulkan bahwa faktor pendidikan dan pelatihan yang standar masih perlu ditingkatkan mengingat dua faktor tersebut paling dominan dalam memperkaya hasanah pengetahuan dan ketrampilan pramuwisatauntuk dapat melayani tamu dengan kualitas tinggi. Beberapa negara di dunia pun menyadari bahwa sektor kepariwisataan akan mengalami persaingan yang semakin ketat, sehingga pelatihan formal pemanduan dan pemberian ijin pemanduan (lisensi) khususnya bagi pramuwisata diberlakukan seperti di Inggris, Perancis, Fiji, Siprus, Thailand, India, Singapura, Korea dan bahkan Kanada telah memiliki pelatihan pemanduan dan perijinan pemanduan (lisensi) sejak tahun 1996 (Salazar, 2005).

Kegiatan pelatihan standarkompetensi pemanduan dan pemberian lisensi, bertujuan untuk mengoptimalkan potensi, kreativitas dan inisiatif yang adapada diri pramuwisata. Selain itu, melalui kegiatan pelatihan standar kompetensi dan pemberian lisensi bagi seorang pramuwisata,bertujuan untuk dapat memberikandorongan atau motivasi bagi dirinya agar ia mendapatkan pengakuan atas kompetensi yang dimilikinya, dan juga bisa lebih tenang serta nyaman dalam menjalankan tugasnya karena ia telah memilki lisensi, sehingga; (a)profesi pramuwisata memiliki posisi tawar yang setara dan didukung penuh oleh seluruh pemangku kepentingan dan (b)kompetensi pramuwisata diakui menurut standar global dari World Federation Tourist Guide Associations (WFTGA). Mendapatkan pengakuan dari WFTGAmerupakan harapan bagi setiap insan pariwisata tidak terkecuali pramuwisata di Indonesia khususnya provinsi Nusa Tenggara Barat, karena dapat meningkatkan harkat dan martabat profesi pramuwisatadimata dunia (Saputra, 2010).

Kondisi Kunjungan Wisatawan Ke NTB

Provinsi NTB telah ditetapkan sebagai salah satu dari 10 daerah tujuan wisata unggulan baru di luar pulau Jawa dan Bali, terus berupaya meningkatkan kunjungan wisatawan, sebab peningkatan persentase kunjunganwisatawan ke provinsi NTBdapat meningkatkanProduk Domestik Regional Bruto (PDRB).PDRB merupakan suatu sumber daya yang harus dikelola sebaik-baiknya oleh pemerintah daerah guna terciptanya suatu nilai tambah bagi sektor perekonomian. Lebih jauh, kinerja pembangunan ekonomi suatu daerah akan dapatdigambarkan berdasarkan capaian PDRB yang dihasilkan baik atas dasar harga berlaku tahun berjalan, maupun atas dasar harga konstan.Perkembangan pariwisata di provinsi NTB mengalami peningkatan yang signifikan tiap tahunnya, kunjungan terbanyak dilakukan oleh wisatawan nusantara. Rerata perbandingan kunjungan wisatawan ke provinsi NTB selama tiga tahun terakhir adalah wisatawan nusantara sebesar 60,65% dan wisatawan mancanegara sebesar 39,35%. Artinya, kunjungan wisatawan ke provinsi NTB selama tiga tahun terakhir sebagian besar dilakukan oleh wisatawan nusantara. Terlebih lagi pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menargetkan jumlah kunjungan wisatawan di tahun 2017 mencapai 3,5 juta orang bahkan tahun 2018 ingin mencapai 4 juta orang wisatawan.

Jumlah kunjungan wisatawan ke NTB makin meningkat tentu membawa konsekuwensi logis bagi pramuwisata, mengingat antara kunjungan wisatawan dan keberadaan pramuwisata dirasakan masih kurang, karena disatu sisi wisatawan terus bertambah dan disisi lain, yaitu pramuwista yang melayanitamu jumlahnya tidak sebanding, terlebih lagi pramuwisata berlisensidi NTB pada tahun 2016 sebanyak 653 orang.Kesenjangan ini akan sangat terasa pada saat high season.Sesungguhnya peningkatan kunjunganwisatawan mancanegara ke NTB tidak saja berasal dari negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya, tetapi terjadi pula peningkatan kunjungan wisatawan yang menggunakan bahasa Perancis, Italia, Jerman, Belanda, Jepang, Spanyol, Mandarin, korea, India, dan bahasa Arab. Keadaan seperti ini, diduga dapat menimbulkan implikasi negatif terhadap kinerja individu pramuwisata di provinsi NTB.

Potret Pramuwisata di NTBDapat Memicu Burnout

Berdasarkan data pada disertasi Syech Idrus (2015), jenjang lisensi pramuwisata di NTB paling banyak jumlahnyaadalah pramuwisata muda yaitu sebesar 65,90%, diikuti oleh pramuwisata madya jumlahnya 33,92% orang dan terakhir pramuwisata utama sebanyak 0,18% dengan keadaan seperti ini diduga pramuwisata yang berlisensi utama memiliki bebean kerja lebih berat, karena dilakukan oleh sedikit orang pada hal kualifikasi pada jenjang ini mempunyai ruang lingkup kerja di seluruh wilayah nusantara yang mengusai seluruh potensi wisata di wilayah nusantara,memiliki kewenangan untuk membuat program perjalanan, memimpin rombongan, dan membawa rombongan antar provinsi hingga antar negara(Kesrul, 2004). Selain itu,terjadinya pergeseran dalam pemilihan status kerja pramuwisata di provinsi NTB jika dilihat dari kondisi yang ada saat ini, di mana sebagian besar pramuwisata lebih banyak memilih freelance daripada bekerja tetap di suatu biro perjalanan. Alasannyamemilih freelance biar bisa bekerja lebih mandiri, karena dapat langsung menerima order dari wisatawan, hal ini berimplikasi pada meningkatnya beban tugas dan tanggungjawab bagi seorang pramuwisata di NTB.

Penguasaan bahasa yang dimiliki oleh pramuwisata di provinsi NTB mayoritas mengusai bahasa Inggris sebanyak 53,82%, Italia 24,17%,Jerman 18,33%, Belanda 2,66%, Perancis 2,66%, Jepang 1,95%, Korea 0,88%.Spanyol jumlahnya 1,42%,Rusia 0,88%, dan Korea 0,88%, Mandarin, India serta Arab masing-masing jumlahnya 0,36%. Walaupun jumlah pramuwisata sebagian besar menguasai bahasa Inggris, tetapi jika dilihat jumlah wisatawan yang dilayani menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar sebanyak 45,78%kurang proposional karena masih di atas rerata pemanduan ideal yaitu 1:20untuk 10-12 jam perhari bentuknya rombongan dan untuk perorangan 2-10 orang perhari (Kontan, 2010). Peningkatan kunjungan wisatawan tersebut tidak saja berasal dari negara-negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya,tetapi terjadi pula peningkatan kunjungan wisatawanyang menguasai bahasa lainnya sepertiJerman sebanyak 10.25%, Spanyol 9,78%, Perancis 8,51%, Belanda 6,99%, Italia 6,09%, Jepang 5,42%, korea 4,26%, dan Mandarin 2,92%.Hal ini berimplikasi negatif, karenatugas pemanduan yang dilakukan oleh pramuwisata amat sangat berat, sebab terjadi overloaddalam melaksanakan pekerjaan mendorong munculnya burnout, sesuai dengan pendapat Moore (2000), tentang penyebab terjadinya burnout, karena berlebihan dan atau kekurangan sumber daya manusia kompeten yang dapat mengakibatkan terjadinya penumpukan pekerjaan.

Umumnya pramuwisata di NTB melakukan tugas pemanduan tidak selayaknya seperti jam kantor yang lazim dimulai pukul 7 dan selesai pukul 5 sore. Jam kerja pramuwisatadapat saja lebih panjang, bahkan mungkin lebih dari 24 jam sehari, kadang kala harus melayani tamu pada pukul 3 dini hari,seringkali pramuwisata dituntut untuk segera dapat memberikan tanggapan, dan mencarikan jalan keluar atau solusi, jika terjadi suatu masalah.Perewe, et al. (2002) menyampaikan bahwaburnout dapat terjadi akibat dari tekanan emosi, secara konstan atau berulang-ulang yang diakibatkan, karena kompleksitas tugas, kekurangan waktu, terjadinya interaksi, dan konflik dengan orang banyak dalam jangka waktu lama.Caputo (1991) mengatakan,seorang profesional yang bekerja penuh waktu, lebih berisiko mengalami burnout. Tingginya mobilitas kerjadalam melayaniwisatawan terlebih lagi disaat high season,tentu akan dapat menguras tenaga dan pikiran, sehingga dapat memicu terjadinya burnout. Hal ini sesuai dengan pendapat Schaufeli, Maslach & Marek (1993) tentang beban kerja yang berlebihan dapat menjadi salah satu faktor dari suatu pekerjaan yang berdampak pada timbulnya burnout.

Penting Pemahaman Terhadap Burnout

Burnout merupakan istilah psikologis yang digunakan untuk menunjukkan keadaan kelelahan kerja. Istilah burnout pertama kali diperkenalkan oleh Bradley pada tahun 1969, namun tokoh yang dianggap sebagai penemu dan penggagas istilah burnout adalah HerbertFreudenberger, dalam bukunya, Burnout: The High Cost of High Achievement pada tahun 1974, memberikan ilustrasi tentang apa yang dirasakan seseorang yang mengalami sindrom tersebut seperti gedung yang terbakar habis (burned-out). Suatu gedung yang pada mulanya berdiri tegak dan megah dengan berbagai aktivitas di dalamnya, setelah terbakar yang tampak hanyalah kerangka luarnya saja. Demikian pula dengan seseorang yang terkena kelelahan kerja, dari luar segalanya masih tampak utuh, namun di dalamnya kosong dan penuh masalah (seperti gedung yang terbakar tadi). Sejak itu pula terminologi burnoutberkembang menjadi pengertian luas dan dipakai untuk memahami penomena kejiwaan seseorang. Burnout dapat diartikan seba-gai kehabisan tenaga (Babakus, et al. 1999).

Burnout bukan suatu gejala dari tekanan kerja,tetapi merupakan hasil dari tekanan kerja yangtidak dapat dikendalikan dan merupakan suatukeadaan yang serius (Stanley, 2004). Jadi, burnout merupakansuatu respon terhadap keadaan kerja yangmenekan. Penelitian menunjukkan bahwa pekerjahuman service mengalami burnout dalammerespon terhadap tekanan kerja (Berry, 1998). Sementaraitu, berdasarkan perspektif teori belajar (learningtheory), burnout merupakan hasil dari pengharapanyang salah terhadap imbalan, hasil, dan kesuksesan (Schaufeli&Buunk, 2003). Dalam hal ini, sering pekerja meletakkan standarkeberhasilan pribadi yang terlalu tinggi yang sukardicapai berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.

Beberapa penelitian menemukan bahwahampir semua penderita burnout pada mulanyaadalah orang-orang yang bersemangat, energik,optimistik, dan memiliki prinsip yang kuat, sertamau bekerja keras untuk meraih prestasi,merekatidak mengenal rumus gagal. Leatz dan Stolar (1993)mengatakan bahwa burnout adalah kelelahan fisik,mental, dan emosional yang terjadi karena stressyang dialami dalam jangka waktu yang cukuplama, dalam situasi yang menuntut keterlibatanemosional tinggi, ditambah dengan tingginyastandar keberha-silan pribadi.

Dampak Burnout

Burnout merupakan fenomena yang tidak dapat dipisahkan dari aktivitas kehidupan yang berpengaruh dengan profesi human service, yaitu profesi yang bergerak dalam bidang jasa pelayanan kemanusiaan, selalu menuntut adanya keterlibatan emosi yang tinggi. Pekerjaan pramuwisata merupakan profesi human service yang memberikan pelayanan secara komprehensif, sebab pelayanan yang diberikan tidak hanya informasi tentang tempat-tempat wisata saja, tetapi keseluruhan aspek psikososial dari aktivitas kepariwisataan, sehingga tugas sebagai pemandu wisata menjadi kompleks, selain itu, pramuwisata harus menghadapi wisatawan dengan latar belakang budaya, kultur, perilaku, dan perangai yang berbeda-beda, sehingga sangat dirasakan sebagai tekanan emosi yang akhirnyaterkena kelelahan kerja (burnout) mengalami kelelahan mental, kehilangan komitmen, kelelahan emosional, dan juga mengalami penurunan motivasi seiring dengan berjalannya waktu dan tentu berdampak terhadap pelayanan yang diberikan. Selain itu, dapat memicu terjadinya (a) physical exhaustion, yaitu kekurangan energy pada diri seseorang dengan merasa kelelahan dalam kurun waktu yang panjang dan menunjukkan keluhan fisik seperti sakit kepala, mual, susah tidur, dan mengalami perubahan pada nafsu makan yang diekspresikan dengan kurang bergairah dalam bekerja, lebih banyak melakukan kesalahan, merasa sakit padahal tidak terdapat kelainan pada fisiknya (Baron & Greenberg 2008). (b) emotional exhaustion merupakan suatu indikator dari kondisi burnout yang berwujud perasaan sebagai hasil dari excessive psychoemotional demands yang ditandai hilangnya perasaan dan perhatian, kepercayaan, minat dan semangat (Pines & Aronson,1989). Orang yang mengalami kelelahan emosional atau emotional exhaustion ini akan merasa hidupnya kosong, lelah dan tidak dapat lagi mengatasi tuntutan pekerjaannya. (c) dminished personalaccomplishmentmerupakan indikator dari kurangnya aktualisasi diri, rendahnya motivasi kerja dan penurunan rasa percaya diri. Seringkali kondisi ini terlihat pada kecendrungan dengan rendahnya prestasi yang dicapainya (Cordes & Dougherty, 1993; dan Maslach, 2001), dan (d) Depersonalizationadalah tendensi kemanusiaan terhadap sesama yang merupakan pengembangan dari sikap sinis terhadap karier,dan kinerjanya sendiri (Cordes & Dougherty, 1993; dan Maslach, 2001). Seseorang yang mengalami masalah depersonalisasi merasa tidak ada satupun aktivitas yang dilakukannya bernilai atau berarti. Sikap ini ditunjukkan melalui perilaku masa bodoh, bersikap sinis, tidak berperasaan dan tidak memperhatikan kepentingan orang lain.

Dampak mengerikan dari burnoutberkaitandengan kesehatan dan keselamatan dalambekerja,menurut data ILO yang dikutif oleh Mentari (2012)menyebutkan hampir setiap tahunsebanyak 2 juta pekerja meninggal duniakarena kecelakaan kerja yang disebabkan olehfaktor burnout. Penelitian tersebutmenyatakan dari 58.115 sampel, 32,8%di antaranya atau sekitar 18.828 sampelmenderita kelelahan kerja (burnout). Penelitian mengenaikecelakaan transportasi yang dilakukan diNewzealand antara tahun 2002 dan 2004menunjukkan bahwa dari 134 kecelakaanfatal, 11% di antaranya disebabkan olehkelelahan kerja (burnout) dan dari 1.703 cedera akibatkecelakaan, 6% disebabkan oleh burnout yang dialamioperator (Baiduri, 2008).

Di Indonesia setiap hari rata-rata terjadi414 kecelakaan kerja, 27,8% disebabkankelelahan kerja (burnout) yang cukup tinggi, lebih kurang 9,5%atau 39 orang mengalami cacat (Winarsih,2010). Masih ingat kah kita tentang kematian Mita Diran, seorang copywriter (penulis naskah) di sebuah agensi periklanan Young & Rubicam baru-baru ini membuat publik nasional memberikan perhatian penuh. Mita diduga meninggal karena kelelahan bekerja(burnout)nonstop selama tiga hari berturut-turut.Tragisnya, kasus yang dialami Mita itu rupanya bukanlah yang pertama kali terjadi dunia. Bahkan di China dialami oleh Li Yuan adalah pemuda berusia 24 tahun, di Jepang dialami oleh seorang insinyur sekaligus karyawan berusia 45 tahun di perusahaan mobil Toyota. Selain itu ada pekerja restoranMotoyasu Fukiage adalah karyawan berusia 24 tahun yang ditemukan meninggal karena sakit jantung saat tidur setelah diketahui bekerja rata-rata 14 jam selama 4 bulan lamanya di restoran Nikonkai Shoya, Jepang. Dengan 112 jam kelebihan kerja perbulan, Motoyasu menghabiskan 272 jam kehidupannya dalam bekerja. Jepang yang dikenal akan gaya hidup pekerja keras sampai memiliki istilah “Karōshi” untuk mereka yang harus meregang nyawa karena bekerja tanpa henti. Begitu juga di Inggris dialami oleh Moritz Erhardt adalah pekerja intern di Bank of America yang ada di London. Malangnya Moritz meninggal di usia sangat muda yakni 21 tahun setelah ditemukan tak sadarkan diri di rumahnya. Moritz diketahui mengalami serangan jantung setelah bekerja 3 hari tanpa henti. Dan di Amerika Serikat dialami oleh Yale Jared Weiner adalah seorang pengacara yang meninggal pada tahun 1995 silam saat dia masih berusia 27 tahun. Yale mengalami kondisi jantung yang lemah karena firma hukum tempat dia bekerja menuntut hasil pekerjaan terlalu tinggi padanya. Info kasuskaryawanmeninggalakibatburnout tersebut dilansir oleh kaskus.co.id.

Tip Mengatasi Burnout pada pramuwisata

Cara mengatasi burnout pada umumnya, antara lain: buat jadwal reguler aktivitas sosial, olahraga rutin, nikmati hobi, Jadilah sukarelawan, tulis tujuan hidup, jangan malu untuk minta bantuan, buat orang lain tertawa, keluarlah dari kebiasaan, ciptakan ritual pagi, berhenti beralasan dan bertanggung jawab. Sedangkan untuk pramuwisata khususnya dalam mengatasi mengatasiburnout, antara lain: (a) pahami betul karakteristik dari pekerjaan pramuwisata yang selalu berhadapan dengan banyak orang, memiliki berbagai macam sikap dan perilaku, sehingga pekerjaan ini menuntutnya untuk memiliki jiwa yang senang berjumpa dengan orang banyak, betapa pun ribet dan cerewetnya mereka, dan mempunyai jiwa yang luwes, berpikir positif, energik, terbuka, berpenampilan menarik, mempunyai rasa humor yang terarah, periang, dan juga memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta dapat menghibur orang lain, merupakan pribadi yang memiliki kematangan emosi. Menurut Walgito (2002), orang yang memiliki kematangan emosi, dapat menempatkan dirinya seirama dengan kenyataan-kenyataan yang dihadapi dalam lingkungannya. Selanjutnya, Patton (1998), berpendapat bahwa kematangan emosi sebagai kemampuan untuk mengontrol emosi secara efektif untuk mencapai tujuan, dan membangun pengaruh yang produktif guna dapat meraih keberhasilan. (b) jadikan lah pengalaman sebagai guru terbaik dalam kehidupan, sebagai pramuwisata gunakan naluri alamiah yang dimiliki, agar dapat bertindak tegas, cepat, tepat dalam mengatasi masalah, dan juga bisa mengontrol emosi ketika terjadi masalah, berhati-hati atau waspada setiap saat, dan yang penting adalah antisipasi sebelum permasalahan timbul. Sikap dan perilaku yang profesional serta etis semacam ini, dapat menumbuhkan budaya kerja yang handal, karena ditanamkan terus menerus pada diri dan juga pada teman lainnya, sehingga menghasilkan suatu identitas, dan citra baik bagi pramuwisata di provinsi NTB. Budaya kerja seperti ini, dijadikan sebagai pedoman atau penuntun dalam melaksanakan tugas untuk melayani tamu. Ndraha (2003) mengatakan bahwa budaya merupakan tingkah laku dan gejala sosial yang dapat memberikan suatu gambaran tentang identitas, dan citra individu atau kelompok, karena budaya setiap orang berbeda dengan orang lainnya, dan budaya ansich tidak dapat disebut baik dan buruk, karena setiap orang atau kelompok adalah berbudaya. Luthan (2006) menyampaikan bahwa budaya kerja dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang diperoleh untuk mengintegrasikan pengalaman, dan menghasilkan perilaku sosial. Apabila budaya kerja yang dilaksanakan secara baik, dan benar dapat mengubah sikap, dan perilaku sumber daya manusia dalam pencapaian produktivitas kerja yang lebih tinggi (Djajendra, 2013).

  • Dosen Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Mataram

About literasi

Check Also

Vidcon dengan Gubernur, Presiden Tekankan Pemulihan Ekonomi

Presiden Jokowi Mataram, Literasi-Memberikan arahan kepada seluruh gubernur, Presiden RI Joko Widodo mengingatkan tentang pentingnya …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: