Rabu , Juli 15 2020
Home / Kajian / DIALEKTIKA PARIWISATA BUDAYA NTB

DIALEKTIKA PARIWISATA BUDAYA NTB

Oleh : I Made Suyasa

Dosen STP Mataram

  1. Pendahuluan

Posisi NTB dalam percaturan pariwisata Nusantara sungguh sangat menguntungkan karena berada di antara segi tiga emas yakni, Bali, Komodo, dan Tana Toraja. Tidak sedikit wisatawan yang harus memperpanjang masa tinggal mereka di NTB khususnya di Pulau Lombok begitu mereka melihat dan menikmati keindahan panorama alam dan budaya masyarakatnya. Panorama alam NTB yang asri memang menjadi salah satu daya tarik yang masih sangat mungkin untuk ditawarkan kepada para wisatawan sekarang ini, namun sampai kapan wisata alam ini bertahan dengan keasriannya yang dapat memanjakan para pelancong Nusantara dan Mancanegara. Untuk itu, pariwisata altenatif memangharus tersedia seperti, wisata tirta, spiritual, kesehatan, budaya sebagai pilihan agar ke depan pariwisata tetap menjadi pendatang devisa terbesar.

Potensi pariwisata kita selain alam adalah pariwisata budaya (cultural tourism). Potensi ini dapat berkembang mengingat keanekaragaman budaya ini didukung oleh pluralitas yang ada di Pulau Lombok seperti, etnis, agama, dan adat-istiadat. Lombok yang dihuni oleh dua etnis besar yakni, etnis Sasak dan Bali yang secara historis mempunyai keterjalinan dari sisi budaya, sehingga kedua etnis ini dapat bersinergi dalam menyajikan produk-produk budaya yang unik dan menarik. Kebudayaan Sasak tampil sebagai budaya yang unik dan menarik juga karena Lombok sebagai tempat pertemuan akhir dari kebudayaan Jawa, Bugis, dan Melayu. Sepanjang budaya dipandang sebagai realitas sosial yang berangkat dari sebuah kesadaran manusia maka ia akan menjadi kenyataan dan pengetahuan (Berger dan Luckmann, dalam Bungin, 2010: 6). Dengan demikian segala perilaku budaya masyarakat sebagai realita sosial akan menjadi roh bagi pengembangan pariwisata budaya.

Pariwisata selama ini sering dilihat dari sisi keuntungan materi saja karena devisa yang dihasilkan sangat menjanjikan sebagai industry yang multiflier effect.  Di pihak ada anggapan bahwa pengembangan pariwisata telah mengancam keberadaan budaya masyarakat  selanjutnya. Hanya demi “gemerincing dolar wisatawan”, pengikisan berbagai dimensi adat dan budaya serta penodaan terhadap ritual keagamaan pun terjadi, kemasan budaya dalam bentuk atraksi pun menjadi konsumsi wisatawan. Gejala pencemaran terhadap seni dan budaya pun terjadi sehingga menjadi kekhawatiran sekaligus sebagai ancaman.

Pernyataan di atas tak sepenuhnya juga benar, tidak sedikit hasil-hasil budaya masyarakat berupa kesenian yang hampir punah kemudian menjadi tugas pelaku pariwisata dalam menghidupkan dan mempublikasikannya.Semenjak bergeraknya industri pariwisata seni budaya masyarakat merasa mendapatperhatian, tidak sedikit seni budaya yang sebelumnya tak jelas keberadaannya dalam masyarakat mulai mendapat angin segar dan bergairah karena mulai didatangi oleh penontonnya. Kehidupan para pelaku seni budaya yang selama ini tak terperhatikan karena minimnya pertunjukan senidan masyarakat yang nanggap seni pertunjukan tertentu, sehingga pendapatan sebagai pelaku seni tidak menjanjikan buat kehidupan mereka. Geliat pariwisata khususnya dalam mengembangkan pariwisata budaya akan mampu mengangkat citra seni budaya masyarakat untuk diapresiasi oleh penontonnya dan pada akhirnya akan mengangkat kehidupan para pelakunya. 

Komitmen pemerintah provinsi NTB khusus di Pulau Lombok di bidang kepariwisataan perlu kita apresiasi mengingat adanya berbagai program pembenahan sehingga mampu meningkatkan kunjungan dan juga adanya pengakuan berupa penghargaan yang diberikan oleh berbagain badan dunia yang bergerak di bidang kepariwisataan.Penghargaan ini tentu sebagai bentuk keseriusan dan kerja keras pemerintah daerah bersama masyarakat dalam membangun dan menggerakkan sektor kepariwisataan.Pemerintah provinsi maupun kabupaten kota masih melihat pariwisata budaya sebagai pelengkap dari sebuah kegiatan pariwisata, ini dapat dilihat dari belum adanya kebijakan yang berpihak pada kehidupan budaya yang ada pada masyarakat. Ketidakseriusan dalam penanganan produk-produk budaya dalam bentuk seni yang mencirikan kehidupan masyarakat yang hidup di pulau Lombok tampak belumdikemas dengan baik sebagai daya tarik wisata. Terbukti dari beberapa desa sebagai kantong-kantong budaya lengkap dengan para pelaku budaya (seniman) yang hanya dipandang sebelah mata, pada hal merekalah pelaku utama yang mampu akan memberi roh terhadap pariwisata budaya ke depan. Berangkat dari kondisi tersebut perlu ada konsep yang jelas tentang pariwisata budaya, arah, tujuan, dan bentuk-bentuk sajian yang cocok dalam kemasan pariwisata tanpa mencederai, ketersinggungan, dan menodai ritual agama dan adat yang ada dalam masyarakat. 

Keunikan dan keragaman  yang dimiliki oleh Lombok sebagai tujuan wisata mungkin tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia, sehingga melalui semangat kemerdekaa RI dapat kita jadikan Lombok sebagai DTW budaya. Namun dalam  pencapaiannya perlu kerja keras dari semua komponen mengingat berbagai persoalan muncul antara pro dan kontra soal keberadaan produk-produk budaya secara umum.Hal tersebut disebabkan oleh sudut pandang yang berbeda, ada produk budaya yang dinyatakan tak sesuai lagi dengan pandangan agama tertentu terutama pada kelompok-kelompok puritan. Pada kelompok tertentu ingin mempertahankan sebagai warisan budaya yang harus terus dilestarikan karena mampu menginspirasi kehidupan mereka untuk menjadi lebih baik, mampu membuat hidup mereka lebih damai, sehingga ia tetap bertahan namun terpinggirkan. Kasus seperti ini tidak hanya terjadi di Pulau Lombok (NTB) namun juga terjadi di daerah lain. Semenjak digulirkannya otonomi daerah pencarian terhadap jati diri dan kearifan lokal daerahnya seolah menjadi sebuah keharusan. Tidak sedikit benturan, “pemerkosaan dan penghianatan” budaya telah dilakukan demi sebuah identitas yang dipaksakan. Jika NTB berkomitmen mengembangkan pariwisata sudahkan wisata budaya digarap dengan baik sebagai sebuah daya tarik wisata? Di samping itu, sejauhmanakah pariwisata budaya telah memberikan kontribusinya pada pariwisata NTB? Kini potensi itu sedang berada dalam persimpangan jalan tanpa arah yang jelas.

  • Konsep Pariwisata Budaya

Kontribusi pariwisata dalam mendatangkan devisa sudah tidak diragukan lagi oleh semua pihak, terbukti pariwisata mampu menstimulasi dan menggerakkan sektor lain untuk turut serta berkontribusi dalam pengembangan pariwisata termasuk kebudayaan yang tumbuh dan hidup dalam masyarakatnya. Dibentuknya Kementrian Pariwisatamerupakan langkah dalam pengembangan kebudayaan dan pariwisata di negara kita, maka kegiatan-kegiatan terencana dan terprogram dilakukan. Khusus di bidang pariwisata misalnya, apa yang dimaksud dengan “pembangunan pariwisata berkelanjutan” pada intinya berkaitan dengan usaha menjamin agar sumberdaya alam, sosial, dan budaya yang kita manfaatkan untuk pembangunan pariwisata dalam generasi ini dilestarikan untuk genarasi mendatang. Dan pelestarian yang dimaksud itu bukanlah sekedar “dipelihara” tanpa manfaat untuk kesejahtraan, termasuk dalam arti memberikan lapangan hidup “setiap warga negara” yang berminat dan berkemampuan untuk berkarya di bidang budaya dan pariwisata (Ardika, 2003).

Posisi kebudayaan yang ada di tengah-tengah masyarakat yang sedang mengembangkan pariwisatanya tentu juga mempunyai kekuatan dalam menarik dan mengembangkan apa yang ada dalam masyarakatnya. Konferensi Pariwisata dan Budaya di Yogyakarta tahun 1992, telah bersepakat bahwa keragaman budaya dapat ditawarkan sebagai produk wisata, yaitu wisata budaya. Persoalannya sekarang ini seberapa seriuskah pemerintah untuk mengembangkannya dalam menjadikan kebudayaan sebagai produk wisata, sudah adakah pemerintah provinsi, kabupaten kota di NTB yang membuat kebijakan (dalam bentuk Perda) khusus dalam menangani masalah pariwisata budaya. Di beberapa daerah produk khusus wisata budaya itu telah dikemas dengan sebaik-baiknya untuk menarik wisatawan mancanegara dan nusantara, dan menjadikannya daya tarik utama. 

Berbicara masalah kebudayaan memang kita dihadapkan pada sesuatu yang bersifat dilematis karena sifatnya yang abstrak, sebab produk budaya masyarakat tidak seluruhnya dalam bentuk artefak (benda) namun lebih dalam bentuk prilaku, pemahaman atau konsep.   Kebudayaan itu pada dasarnya adalah sesuatu yang tidak pernah jelas bingkai formatnya, karena format tersebut terbentuk lewat proses dialektika antara berbagai penawaran dan tantangan. Kebudayaan adalah menjawab tantangan, mengusahakan sintesa dan mencoba membentuk sosok format, lalu ditantang lagi dan seterusnya. Kebudayaan jelas merupakan proses yang multilinier dan tidak menuju “kesempurnaan” melainkan senantiasa melakukan transformasi, penyesuaian, dan akomodasi (Kayam, Kompas 13 Mei 1991). Mengacu pada pandangan di atas, perumusan kebudayaan dalam konteks pariwisata budaya memerlukan satu perenungan yang mendalam untuk menuangkannya dalam kemasan sebagai produk budaya dengan tanpa mencederai kearifan lokal yang menjadi roh kebudayaan. Sebagai produk tentu harus dapat dinikmati oleh orang lain (wisatawan) sehingga sinergi budaya dan pariwisata tercipta di dalamnya.

Pemerintah melalui Undang-Undang RI No. 10 Tahun 2009 dalam ketentuan umum daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, salah satunya adalah budaya hasil buatan manusia,  tujuan kepariwisataan salah satunya adalah memajukan kebudayaan, dan prinsip penyelenggaraan kepariwisataan yakni menjunjung tinggi hak azasi manusia, keragaman budaya, dan kearifan lokal. Mengacu pada UU di atas pengembangan pariwisata di Indonesia pada dasarnya mengacu pada konsep pariwisata budaya (cultural tourism) dengan pertimbangan bahwa Indonesia memiliki potensi seni dan keunikan budaya yang beraneka ragam yang tersebar pada tiap Daerah Tujuan Wisata di Indonesia. Jadi pariwisata yang kita kembangkan salah satunya adalah pariwisata budaya, sehingga pariwisata budaya menjadi daya tarik wisatauntuk menarik wisatawan datang berkunjung ke negara kita. Terkait dengan itu pariwisata budaya merupakan salah satu jenis kepariwisataan yang dikembangkan dengan bertumpu pada kebudayaan. Kebudayaan yang dimaksud adalah kebudayaan Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Pariwisata budaya dapat menjadi media untuk memperkenalkan, mendayagunakan, melestarikan, dan meningkatkan mutu, mempertahankan norma-norma dan nilai-nilai kebudayaan, mencegah dan meniadakan pengaruh negatif yang dapat ditimbulkan oleh kegiatan pariwisata.

Menurut Gareth Shaw dan Allan M. William dalam Ardika (2003) bahwa dalam kegiatan pariwisata terdapat sepuluh elemen yang menjadi daya tarik wisatawan yakni, (1) kerajinan, (2) tradisi, (3) sejarah dari suatu tempat/daerah, (4) arsitektur, (5) makanan lokal/tradisional, (6) seni dan musik, (7) cara hidup suatu masyarakat, (8) agama, (9) bahasa, dan (10) pakaian lokal/tradisional. Dari kesepuluh elemen kebudayaan tersebut di setiap DTW dapat menentukan salah satu elemen yang menjadi prioritas dan mempunyai keunggulan tersendiri. Setiap langkah dan gerak dalam kerangka pengembangan pariwisata secara normatif diharapkan tetap bertumpu pada kebudayaan bangsa. Kedudukan seni dan kebudayaan dalam pengembangan kepariwisataan tidak saja sebagai pendukung tetapi juga sebagai pemberi identitas kepada masyarakat itu sendiri. Dengan demikian setiap DTW yang ada di Indonesiaakan mempunyai ciri dan identitas masing-masing dari sisi pariwisata budaya.

  • Pengembangan Pariwisata Budaya dan Masalahnya

Penghasilan Indonesia tak akan bisa sepenuhnya menaruh harapan pada minyak bumi, gas alam, batu bara, emas (sejenisnya), kayu dan pertanian yang semakin tak jelas komoditi utamanya, eksploitasi alam tentu punya keterbatasan sebagai pendatang devisa, karena semua itu mempunyai kandungan yang terbatas pula. Kesalahan dalam mengelola alam tentu akan menimbulkan bencana dahsyat bagi semua hayati di sekitarnya, sebagai contoh lumpur Lapindo di Sidoarjo yang terus keluartak kenal henti sampai hari ini masih dan akan terus menyisakan masalah. Kerusakan alam adalah sebuah tontonan yang memilukan, kepedihan dan jeritan hati saudara kita di Sidoarjo seakan jadi konsumsi media massa untuk terus menelanjangi ketakberdayaannya. Ada usaha segelintir orang dimana kecelakaan alam seperti inidijadikan sebagai daya tarik wisata, tampaknya tak tega wisatawan yang tujuannya bersenang-senang harus disuguhi tontonan yang mengerikan dan kesedihan mendalam melihat korban yang termiskinkan secara tiba-tiba oleh kecelakaan itu. Memang alam ini kuasa Tuhan, bukankah kita dipercaya untuk mengelolanya demi kesejahtraan seluruh umat manusia? Rusaknya alam sebagian besar atau hampir seluruhnya karena ulah manusia sehingga tak lagi menarik untuk dipertontonkan kepada wisatawan jika itu harus dipaksakan,  bisa menjadi bahan ejekan  karena kita tak lagi peduli pada alam.

Wisata alternatif berupa pariwisata budaya yang memang telah kita miliki dengan keanekaragamannya takkan pernah habis karena lahir dari budi dan daya manusia sebagai modal dasar dalam mengembangkan dan melestarikannya. Itulah sebabnya pemerintah melalui UU RI No. 10 Tahun 2009 menetapkanpembangunankepariwisataan Indonesiadiwujudkan melalui pelaksanaan rencana pembangunan kepariwisataan dengan memperhatikan keanekaragaman, keunikan, dan kekhasan budaya dan alam, serta kebutuhan manusia untuk berwisata.Penetapan ini tentu dengan pertimbangan keragaman budaya Indonesia yang unik, beberapa peninggalan sejarah dalam bentuk candi (Borobudur) yang pernah dinobatkan sebagai tujuh keajaiban dunia, serta peninggalan masjid kuno Rembitan, Bayan, Gendang Beliq, Cepung, Gandrung di Lombok yang hingga kini tetap lestari. Dan masih banyak elemen budaya yang dapat kita tampilkan sebagai daya tarik khususnya dalam pengembangan pariwisata budaya.

Ada estimasi akan terjadinya pergeseran selera wisatawan (wisman) yang berwisata ke suatu negara tidak hanya menikmati keindahan alam, bersihnya pantai atau segarnya udara tapi akan lebih banyak yang tertarik pada objek wisata yang terpusat pada hasil kebudayaan suatu bangsa. Itulah sebabnya hasil kebudayaan bangsa kita merupakan “komoditi” utama untuk menarik wisman berkunjung ke DTW yang ada di Indonesia. Keberhasilan Indonesia melalui KIAS dalam mempromosikan kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat beberapa tahun yang lalu, di samping juga adanya pengiriman duta budaya secara periodik ke negara-negara yang menjadi pangsa pasar pariwisata kita. Penelitian yang dilakukan oleh PATA di Amerika, diperoleh kesimpulan bahwa lebih dari 50% wisatawan yang berkunjung ke Asia dan daerah Pasific motivasinya adalah melihat dan menyaksikan adat istiadat, the way of life, peninggalan sejarah dan bangunan kuno yang bernilai tinggi ( Yoeti, 2006 : 223).

Jika estimasi itu benar maka pilihan dalam mengembangkan pariwisata budaya NTB sebagai  sebuah komitmen bersama, masyarakat, pemerintah, dan para pelaku pariwisata yang diharapkan dapat membuahkan kebijakan yang menguntungkan semua pihak. Daerah yang mengembangkan pariwisata budaya sangat berkepentingan akan usaha-usaha pelestarian seni budaya ini. Memelihara aset pariwisata budaya yang tidak ternilai harganya, maka sudah tentu kepariwisataan akan dapat menciptakan nilai tambah bagi daerah yang bersangkutan. Masalahnya sudahkah pemerintah daerah provinsi NTB menghasilkan produk berupa kebijakan yang terkait dengan pariwisata budaya yang menjamin keberadaan dan keberlangsungan kegiatan yang terkait dengan masalah pariwisata budaya. Pariwisata budaya sering mengundang polemik antara pelaku seni budaya dengan masyarakat yang menganggap seni tertentu bertentangan dengan pandangan-pandangan agama tertentu, terlebih lagi munculnya kelompok-kelompok radikal yang memandang seni budaya tertentu dianggap menyimpang dari pandangannya. Di samping itu pariwisata identik dengan bisnis yang penuh dengan eksploitasi, pandangan seperti ini memang tidak salah, mengingat pemahaman mereka tentang kepariwisataan sangat kurang, parsial, lebih melihat aspek negatifnya saja, dan tanpa mau menjalin komunikasi yang intens dengan para pemangku kepentingan.

  • Pro dan Kontra dalam Pariwisata Budaya

Pariwisata menyangkut manusia dan masyarakat dengan segala bentuk kreativitas dan piranti yang ada didalamnya untuk dijadikan objek, hal ini menimbulkan polemik dalam perjalanannya. Berbagai keprihatinan muncul di kalangan masyarakat ketika geliat pariwisata menyusupi kehidupan masyarakat, perubahan ekonomi yang disertai dengan perubahan prilaku, tatanan adat dan budaya merasa bergeser dari porosnya, kesenian mulai jadi pertunjukan yang komersial, perdaban kehidupan komunitas tertentu jadi tontonan, tatanan kehidupan kelompok masyarakat seakan diatur untuk dijadikan daya tarik wisata. Semua keprihatinan itu cukup beralasan dalam menyikapi sebuah kemajuan terlebih lagi kemajuan  industri global yang melibatkan intraksi manusia dengan manusia lainnya yang berlatar belakang budaya berbeda.

Dalam catatan sejarah, kemajuan sebuah kebudayaan masyarakat tidak pernah terlepas dari pengaruh kebudayaan masyarakat lain, transformasi budaya, interferensi budaya, pertukaran budaya semua ini terjadi akibat interaksi yang intens dilakukan oleh masyarakatnya. Ketika interaksi itu terjadi dimana pemilik budaya merasa terkoreksi oleh budaya lain, begitu juga sebaliknya. Daya tarik-menarik yang kuat dari dua atau lebih kebudayaan tersebut akan berpulang pada kekuatan fundamendal, fleksibelitas perubahan budaya selalu terjadi dari waktu kewaktu tanpa pernah kita rasakan, tanpa pernah dikomando dan dikehendaki oleh pemiliknya. Persoalannya adalah bagaimana kita menyikapi sebuah pengaruh yang datang di hadapan kita, karena semua yang datang pasti membawa keuntungan dan kerugian timbangan yang adil ada pada kecerdasan moral dan kearifan lokal yang kita miliki.

Nusa Tenggara Barat yang dikenal sebagai masyarakat yang religius taat dalam menjalankan ajaran agamanya di samping adat dan budaya yang telah mengakar adalah modal utama dalam membentengi diri dari pengaruh asing. Agama dan adat telah teruji dalam menghadapi berbagai pengaruh, sehingga masyarakat masih meyakini hidup dalam tatanan yang beradab. Agama, adat, dan realita kehidupan saat ini telah berjalan dalam koridor kehidupan manusia yang wajar dan berimbang. Dengan modal dasar seperti ini,  NTB akan menjadi destinasi wisata yang mampu meminimalisir pengaruh negatif yang ditimbulkannya. Pemerintah, pelaku pariwisata, dan masyarakat khususnya para tokoh agama harus duduk bersama dalam menyikapi setiap kemajuan pariwisata yang ada. Pariwisata sebagai industri global tak bisa disalahkan karena telah menjadi mata rantai dalam setiap perkembangan, yang mencirikan adanya keterbukaan, suka atau tidak suka dia telah ada dan hadir di hadapan kita.

Pariwisata budaya NTB khususnya di Pulau Lombok sangat potensial sebagai salah satu daya tarik pariwisata, sangat disayangkan jika potensi yang ada kemudian tidak dikelola dan dimanfaat secara maksimal untuk kepentingan pariwisata itu sendiri. Pemerintah hendaknya mengatur dalam bentuk Perda sehingga rambu-rambu dalam pengembangan pariwisata budaya menjadi jelas, mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Mengingat pariwisata budaya melibatkan elemen-elemen yang terkait dengan keyakinan, kesakralan yang ada dalam masyarakat agar tidak menjadikan atraksi-atraksi wisata budaya mengeksploitasi masyarakatnya.  Selama ini pro dan kontra muncul karena ketiadaan aturan yang disepakati oleh pihak-pihak yang berkepentingan, sehingga ketika munculnya suguhan kesenian atau atraksi budaya maka kesalahan pun ditimpakan pada pariwisata. Masyarakat perlu diberikan pengertian secara mendalam tentang hakekat pariwisata budaya serta dampak positif dan negatif yang ditimbulkannya. Munculnya kelompok-kelompok puritan yang menyerang setiap aktivitas adat yang bernuansa agama telah mengerdilkan kreativitas masyarakat dalam menumbuhkembangkan kearifan lokal yang ada. Itulah sebabnya Perda yang mengatur masalah tersebut sangat dibutuhkan untuk melindungi kepentingan bersama.

  • Pengembangan Pariwisata Budaya NTB yang Berkelanjutan

Dalam membangun pariwisata ke depan diperlukan visi yang jelas sebagai pegangan, terlebih dahulu melihat kekuatan dan kelemahan, tantangan serta peluang yang ada. Dinas  Kebudayaan dan Pariwisata yang merupakan perpanjangan tangan Pemerintah Daerah  NTB dalam menangani kepariwisataan menetapkan visi sebagai berikut “Terwujudnya Nusa Tenggara Barat sebagai Daerah Tujuan Wisata utama dan Berdaya saing Internasional tahun 2012”  Jika kita mencermati visi di atas merupakan penjabaran dari visi gubernur dan wakil gubernur yang berkuasa saat ini, karena itu visi pariwisata NTB tidak berdasarkan atas analisis SWOT dalam perumusannya. Visi ini jelas menunjukkan kegamangan pariwisata NTB, pariwisata NTB tidak mempunyai keunikan sebagai daya tarik wisata, apa yang bisa dipersaingkan di dunia internasional tahun 2012 jika pegangan yang ideal tak ada. Pariwisata NTB mau dibawa kemana dan akan dikelola seperti apa dan mau dijadikan seperti apa.

Visi di atas kemudian dijabarkan menjadi tujuh misi yang menekankan pada bidang promosi budaya dan pariwisata, membangun kesadaran masyarakat tentang budaya dan pariwisata, melakukan revitalisasi, koordinasi, dan membangun komitmen dibidang kebudayaan dan pariwisata.  Misi pariwisata NTB menempatkan kebudayaan dan pariwisata sebagai dua hal yang terpisah, pada hal semangat penggabungan kedua bidang tersebut untuk mensinergikan dan menjadikan pariwisata bercirikan budaya bukan menempatkan keduanya sebagai kegiatan yang terpisah. Kedua bidang tersebut sekarang ini saling membutuhkan dalam rangka ikut berpartisipasi membangun pariwisata Indonesia ke depan yang lebih baik, pariwisata yang dikenal sebagai multiplier effectbenar-banar menyentuh ke lapisan bawah masyarakat kita bukan pada segelintir orang dilapisan menengah ke atas. Kebudayaan bukan dijadikan objek binaaan semata tetapi ikut dijadikan elemen penguat pariwisata sehingga menjadikannya pariwisata budaya NTB sebuah pencitraan yang mencerminkan keunikan. Inilah tantangan yang harus dijawab pemerintah daerah dalam membangun citra pariwisata NTB yang berkelanjutan.

Dalam kaitan dengan pariwisata budaya NTB yang berkelanjutan, maka sebagai suatu refleksi kita harus mengemasnya dengan tidak “mengganggu” makna hakiki dari aspek budaya yang ada pada masyarakat NTB. Refleksi bukanlah sekadar perenungan untuk melihat keberhasilan yang kita capai pada hari ini, melainkan sekaligus juga merupakan tanggung jawab untuk hari depan kita. Pembangunan pariwisata berkelanjutan yang kita bangun sekarang ini termasuk pariwisata budaya harus mampu menjamin kelestarian sumber-sumber daya alam, sosial dan budaya, menghargai bentuk-bentuk perbedaan dan bukan mengerdilkan adat dan akar budaya yang telah ada sejak dahulu. Dalam makna refleksinya, generasi muda kita yang mengelola wisata budaya  harus menyadari tanggung jawabnya, tidak hanya tanggung jawab kekiniannya, namun yang utama adalah tanggung jawab berkelanjutan bahwa yang kita lakukan hari ini untuk hari-hari yang akan datang. Sukses yang kita catat di bidang pariwisata saat ini harus tetap memberi dampak positif terhadap pariwisata kita ke depan, bukan nantinya menjadi penyesalan atau kekecewaan.   

  • Penutup

Pengembangan pariwisata budaya NTB yang saat ini belum terencana dan tertata dengan baik, potensi pariwisata budaya yang ada membutuhkan pengelolaan dan regulasi dari  pemerintah daerah. Pemerintah daerah hendaknya memayungi dengan aturan dalam rangka penetapan arah dan tujuan, agar pariwisata budaya mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat pemilik tanpa ada yang harus tercederai di samping juga untuk perkembangan pariwisata NTB.  Pengembangan pariwisata budaya NTB tidak untuk kekinian namun yang utama tanggung jawab berkelanjutan. Dialektika pariwisata budaya NTB memang harus terus digaungkan dalam menuju pariwisata yang menyeluruh dan berkelanjutan.

About literasi

Check Also

Pelabuhan Bangsal Tetap Dikontrol

Data Coviud 19 KLU 7 Juli 2020 KLU, Literasi-Pemkab Lombok Utara melakukan kontrol Pelabuhan Bangsal …

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: